Kolom
Sudahkah Kita Merdeka?
80 tahun sudah Indonesia Merdeka. Merdeka dalam arti bebas dari penjajahan bangsa asing, Belanda, Jepang, Inggris. Namun sudahkah kita merdeka dari bangsa kita sendiri?
80 tahun sudah Indonesia Merdeka. Merdeka dalam arti bebas dari penjajahan bangsa asing, Belanda, Jepang, Inggris. Namun sudahkah kita merdeka dari bangsa kita sendiri?
Suatu hari para koruptor bangun tidur, lalu mendengar berita: “Semua harta hasil korupsi, termasuk yang dititipkan ke keluarga, rekan, atau bahkan dibungkus dalam bentuk rumah mewah dan mobil antik, bisa langsung disita negara.†Apa reaksi mereka? Bisa jadi langsung sakit perut mendadak, bukan karena maag, tapi karena ketakutan akut. Inilah inti kegelisahan para koruptor ketika mendengar soal Undang-Undang Perampasan Aset.
Indonesia masih menghadapi persoalan gizi yang cukup serius, terlihat dari tingginya kasus gizi kurang pada balita maupun anak usia sekolah. Kekurangan gizi di usia sekolah membawa dampak besar, mulai dari menurunnya kualitas belajar, naiknya angka ketidakhadiran, hingga tingginya angka risiko anak putus sekolah.
Love can only be found through the act of loving. Kalimat dari Paulo Coelho itu seperti masih bergema di telinga ketika saya menutup halaman terakhir dari novel By the River Piedra I Sat Down and Wept.
Di tengah riuh rendah demonstrasi yang melanda negeri kita—ketika unjuk rasa bertransformasi menjadi kerusuhan dan masyarakat semakin gerah—peran pejabat publik sangat ditentukan oleh tutur kata dan respons yang mereka berikan. Apakah mereka mampu merajut kembali narasi positif? Atau justru memperkeruh suasana?
Pernahkah Anda merasa risih saat di minimarket ada orang yang dengan enteng menyerobot antrean? Atau kesal ketika di jalan ada pengendara yang dengan gagah berani melawan arus, seakan-akan lalu lintas dibuat untuk dirinya seorang? Fenomena ini, meski tampak sederhana, seringkali mencerminkan kualitas budaya kita. Budaya antre adalah satu indikator kecil, tapi jelas, bagaimana masyarakat menghargai aturan dan orang lain.
Di sebuah pesantren kecil di kaki Gunung Slamet, selepas subuh para santri berkumpul di serambi masjid dengan kitab kuning terbuka. Mereka mengaji sorogan, menyimak setiap kalimat Arab gundul yang dijelaskan sang kiai dengan penuh kehati-hatian. Tradisi ini berlangsung turun-temurun, sebuah warisan yang lebih tua dari usia republik. Namun ada yang menarik dari wajah-wajah mereka pagi itu: di sela-sela kitab, terselip ponsel pintar.
Untuk memahami peran Praja Muda Karana (Pramuka), penting menilik kembali sejarah Gerakannya di Indonesia. Pramuka tidak terpisahkan dari semangat perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Cikal bakal gerakan kepanduan di Indonesia dimulai sejak era kolonial Belanda, dengan berdirinya Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) pada tahun 1912, yang kemudian berganti nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereeniging (NIPV).
Tahun ini, HUT Pramuka ke-64 terasa istimewa, bukan hanya karena usianya yang matang, tapi juga karena tantangannya yang… ya, bisa dibilang sudah upgrade. Dulu tantangan Pramuka adalah menyalakan api unggun di tengah hujan. Sekarang? Tantangannya mungkin memecahkan bug di tengah deadline, sambil melawan godaan menonton drama Korea episode terakhir.
Ada yang menarik ketika penulis tiba di Satlantas Polres Bojonegoro, Selasa (12/8/25). Tepatnya, saat antri untuk giliran sesi foto perpanjangan SIM A, di ruang tunggu Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas).