Pojok Baca Satlantas Polres Bojonegoro: Optimalisasi untuk Literasi

Oleh: Usman Roin *

blokBojonegoro.com - Ada yang menarik ketika penulis tiba di Satlantas Polres Bojonegoro, Selasa (12/8/25). Tepatnya, saat antri untuk giliran sesi foto perpanjangan SIM A, di ruang tunggu Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas).

Penulis lihat, kursi yang disediakan telah penuh dengan pemohon. Itu karena, semua pemohon ingin dekat dengan bilik ruang foto. Sementara yang tersisa, hanya kursi yang berada di pojok.

Penulis pun kemudian beranjak melangkahkan kaki ke pojok. Tidak disangka setelah penulis sampai, ternyata pojok tersebut adalah rak buku atau yang mafhum disebut dengan pojok baca.

[Baca Juga: https://blokbojonegoro.com/2025/08/12/beasiswa-dan-mimpi-mimpi-kita/]

Hati penulis kemudian lega. Sebagai pegiat literasi, terdapat pojok baca yang disediakan di instansi pemerintah, dalam hal ini Kantor Bersama Samsat Bojonegoro serta ruang tunggu Satpas Polres Bojonegoro mengutip bojonegorokab.go.id.

Bahkan masih dalam sumber yang sama, keberadaan pojok baca yang telah diresmikan 2017 lalu tersebut, sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca. Hal ini selaras dengan riset (Saputri, 2021), bila bahan bacaan dihadirkan lebih dekat, kemudian tempat didesain nyaman dan menarik perhatian, di situlah pojok baca dapat menumbuhkan minat baca siapa saja.

Sebagaimana antrian, penulis mendapat nomor P027. Atau, antrian untuk pemohon yang mengajukan perpanjangan (P) SIM dengan nomor 027. Penulis melihat waktu di gadget, menunjukkan pukul 09.43 Wib dan pemanggilan baru nomor P015. Alhasil sebagai penggemar literasi, penulis fokus mengamati rak susun pojok baca yang telah tersedia.

Agar data akurat, penulis pun menghitung jumlah buku yang tersedia. Pada tingkat kedua –dari bawah, terdapat 16 buku yang bersandar. Sementara pada tingkat ketiga –dari bawah pula, terdapat 35 buku dari total 5 tingkat.

Segera Membaca

Untuk melampiaskan waktu menunggu antrian foto SIM, penulis segera menyambar salah satu buku berjudul “Curse to Blessing: Transformasi Bojonegoro Melawan Kutukan Alam” karya Prof. Rhenald Kasali (2016). Kebetulan, bab yang penulis baca adalah “Keluar dari Lingkaran Kemiskinan” halaman 123-138.

Sambil menunggu pemanggilan yang terus berjalan, penulis menikmati penuturan Prof. Rhenald yang inspiratif. Penulis tidak lupa sesekali memandang kepada 31 pemohon, yang kala melihat gadget menunjukkan pukul 09.52 Wib.

Dari semua pemohon, kebanyakan asyik dengan gadget. Terdapat pula orang tua yang tidak memiliki atau sengaja meninggalkan gadget, tanek mengobrol kepada sesama.

Ketika penulis kembali membaca bukunya Prof. Rhenald, tiba-tiba ada pemuda yang lewat di pinggir penulis, kemudian mengambil buku dan membaca. Penulis bersyukur, masih ada pemuda yang gemar membaca. Ini artinya, keberadaan penulis mengampanyekan membaca di ruang publik ada temannya.

Setelah membaca kurang lebih 45 menit, pemuda tadi mengembalikan buku. Di situlah penulis coba lihat bila buku yang dibaca adalah karya De' Simanjutak dan Annie Sailendra (2015) berjudul “Gagal Bangkit Lagi”. Lalu, tidak beberapa lama, terdapat pula gadis yang kemudian memungut buku di rak dan membaca tepat di samping penulis.

Tawaran Solusi

Melalui penggambaran di atas, sebagai pegiat literasi, penulis ingin memberi sedikit tawaran solusi agar pojok baca yang ada lebih optimal.

Pertama, di tingkat Polres sepertinya duta baca perlu dibentuk. Agar melalui institusi yang familier dengan semboyan “melindungi dan mengayomi’ terdapat pegiat literasi yang muncul –atau sengaja dimunculkan, secara internal.

Terlebih, hasil riset Dinata, dkk., dalam (Wijaya et al., 2025), bila salah satu tantangan pojok baca adalah ketiadaan tenaga pendamping yang dapat mengelola kegiatan literasi di pojok baca. Jika demikian, kehadiran duta baca internal akan memiliki kekayaan manfaat guna membentuk budaya baca.

Kedua, memberi informasi keberadaan pojok baca. Petugas di loket, sesekali perlu menyampaikan imbauan kepada pemohon –yang sedang menunggu antrian, bila di Satlantas Polres Bojonegoro memiliki pojok baca yang bisa dinikmati keberadaan buku-buku yang tersedia. Jika itu dilakukan, tentu gaung membaca akan “mendapat” perhatian baik oleh para pemohon dari institusi bhayangkara.

Ketiga, perlu diperbanyak koleksi buku. Mengutip penelitian (Firdaus & Febrianto, 2024), bila manfaat menambah koleksi buku sebagai upaya menghindari kebosanan membaca di pojok baca.

Dari total 51 buku yang tersedia berdasarkan hasil amatan penulis, tentu koleksi terbaru perlu ditambah secara berkala. Entah bulanan, triwulan, hingga setahun sekali. Apalagi penulis lihat, perihal buku-buku yang khusus berbicara kedisiplinan berlalu lintas juga belum tersedia.

Perihal pengadaan koleksi, tentu bisa bekerjasama Disperpussip –sebagai misal. Lalu para penerbit, penulis, hingga secara khusus mengalokasikan dana untuk pengadaan buku.

Usulan di atas, bagi penulis adalah ikhtiar bottom up, agar pojok baca yang telah ada di Satlantas Polres Bojonegoro betul-betul optimal, serta menjadi pionir terdekat kampanye membaca di ruang publik yang nyata wujudnya. Amin.

 *Penulis adalah Pegiat Literasi, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UNUGIRI, serta Penulis Buku Falsafah Menulis: Esai-esai Kontemplatif menjadi Penulis Produktif (2024).