Skip to main content

Category : Tag: Kolom


Mutiara Islami

"Ujub" dan Framing dan Berdakwah

Ada yang menarik dari cara kita menyambut seorang tokoh. Terkadang yang lebih sibuk bukan tamunya, melainkan tuan rumah yang ingin memperlihatkan siapa dirinya. Tokoh datang, kamera menyala, sambutan menggelegar. Lalu identitas almamater dipasang seperti mahkota: "kami alumni ini", "kami pernah belajar di sana", "kami memiliki tradisi itu", "kami berada dalam barisan ini".

Kolom

Mimpi yang Tertunda

Pagi itu halaman depan harian Radar Bojonegoro seperti menampar siapa pun yang membacanya. Di tengah semarak peringatan Hari Anak Nasional 2026, sebuah angka dicetak besar dengan warna merah menyala: 4.745 Anak Tidak Sekolah. Angka itu seolah lebih lantang daripada pidato-pidato seremonial. Ia tidak berteriak, tetapi cukup membuat siapa saja yang peduli pada masa depan berhenti sejenak.

Kolom

Kembali Menyoal Sound Horeg, Plus dan Minusnya!

Tulisan ini merupakan respon terhadap wacana akan ada event yang menggunakan sound horeg yang diselenggarakan oleh salah satu Pemerintah Desa (Pemdes) di Kecamatan Dander pada pertengahan bulan Juli ini. Rencananya, acara tersebut akan digelar di Gedung Olahraga (GOR) Bojonegoro.

Kolom

Mengurai Anomali DTSEN Bojonegoro: Ketika Data Tidak Sekadar Angka

Di sebuah balai desa di pelosok Bojonegoro, seorang petugas pendataan tampak kebingungan. Di hadapannya ada rumah sederhana berdinding anyaman bambu, berlantai tanah, dan masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Namun ketika data di layar aplikasi muncul, keluarga itu justru tercatat memiliki kondisi yang “tidak wajar” atau masuk kategori anomali.

Kolom

Melahirkan Ketuhanan di Ruang Nyata

1 Juni, kita peringati sebagai hari lahir Pancasila. Yang namanya kelahiran, tentu ada sesuatu yang dilahirkan. Jika secara etimologis “Panca” yang artinya lima, dan “Sila” berarti berarti asas, artinya lima asas mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sudah seharusnya dilahirkan kembali di ruang nyata. Tidak kemudian berhenti pada gelar upacara seremonial, atau sekadar ucapan flyer belaka.

Kolom

Literasi sebagai Jalan Emansipasi

Pagi itu, di sebuah ruang tamu yang juga merangkap ruang belajar, saya melihat pemandangan yang terasa sederhana, tapi diam-diam revolusioner. Seorang ibu muda duduk bersila di lantai, di depannya terbuka buku cerita anak. Di sampingnya, ponsel menyala menampilkan video tutorial membaca nyaring. Anaknya, mungkin berusia lima tahun, menyimak dengan mata berbinar—kadang tertawa, kadang menirukan suara ibunya yang berubah-ubah mengikuti tokoh cerita.

Kolom

Puasa Plastik di Tengah Naiknya Harga

Pagi itu, seperti biasa saya mampir ke warung kecil di ujung gang. Niatnya sederhana: beli kopi sachet dan sedikit gorengan untuk menemani obrolan ringan dengan tetangga. Namun ada satu hal yang terasa berbeda. Si ibu warung berkata, “Mas, plastiknya sekarang bayar ya. Harganya naik.”

Kolom

Mewujudkan Literasi Keluarga Sakinah

Mewujudkan keluarga yang sakinah (tenang), tidak semudah membalikkan telapak tangan di era digital. Ada saja gejolak yang menerpa agar ketidaktenangan muncul. Terlebih, seiring hadirnya kreator konten bertema keluarga, di mana, siapa pun bisa melihat tanpa sensor dan batasan umur.

Kolom

Panik Lebaran

Antrinya orang di berbagai supermarket untuk membeli aneka snack (jajanan) sebagai suguhan lebaran, menjadi fenomena menarik untuk ditelaah. Bila boleh penulis menyebut, terdapat semacam “kepanikan” menghadapinya. Sehingga, budaya memborong hingga stok habis, jadi pemandangan yang tidak bisa dihindarkan.

Kolom

Seribu Bulan dalam Satu Malam

Ada satu malam dalam setahun yang selalu membuat orang-orang rela mengurangi tidur. Masjid mendadak ramai, mushaf Al-Qur’an dibuka lebih lama dari biasanya, dan doa-doa dipanjatkan dengan suara lirih bercampur harap. Malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar—malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan.