Oleh: Choirul Anam*
blokBojonegoro.com - Pagi itu, di sebuah ruang tamu yang juga merangkap ruang belajar, saya melihat pemandangan yang terasa sederhana, tapi diam-diam revolusioner. Seorang ibu muda duduk bersila di lantai, di depannya terbuka buku cerita anak. Di sampingnya, ponsel menyala menampilkan video tutorial membaca nyaring. Anaknya, mungkin berusia lima tahun, menyimak dengan mata berbinar—kadang tertawa, kadang menirukan suara ibunya yang berubah-ubah mengikuti tokoh cerita.
Saya tersenyum. Dulu, mungkin kegiatan seperti ini dianggap biasa. Tapi hari ini, di tengah gempuran konten instan dan budaya scroll tanpa henti, adegan itu terasa seperti perlawanan kecil—perlawanan terhadap lupa, terhadap malas berpikir, terhadap dunia yang terlalu cepat.
Di situlah saya mulai merenung: barangkali emansipasi hari ini bukan hanya soal kebebasan bergerak, tetapi juga kebebasan untuk berpikir. Dan kunci dari semuanya tetap sama, seperti yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini lebih dari seabad lalu: literasi.
Kartini hidup di masa ketika perempuan bahkan sulit mengakses pendidikan formal. Buku bukan sekadar jendela dunia, tapi barang langka yang harus diperjuangkan. Ia menulis surat, membaca dengan rakus, dan berpikir dengan gelisah. Dari kegelisahan itulah lahir gagasan-gagasan besar tentang kesetaraan.
Hari ini, situasinya terbalik. Buku ada di mana-mana. Bahkan, dalam satu genggaman ponsel, kita bisa mengakses ribuan artikel, jurnal, video edukasi, hingga kelas daring dari berbagai penjuru dunia. Informasi tidak lagi langka—ia justru melimpah.
Masalahnya, tidak semua yang melimpah itu menyehatkan.
Kita hidup di zaman ketika membaca sering kali digantikan oleh sekadar melihat. Judul dibaca, isi dilewatkan. Video ditonton, tapi tidak direnungkan. Informasi datang bertubi-tubi, tapi jarang benar-benar dipahami.
Di sinilah literasi menemukan makna barunya: bukan sekadar bisa membaca, tetapi mampu menyaring, memahami, dan menggunakan informasi secara bijak.
Saya pernah berbincang dengan seorang teman yang aktif mengelola komunitas ibu-ibu di kampungnya. Ia bercerita bagaimana awalnya banyak anggota yang mudah percaya pada informasi yang beredar di grup WhatsApp—mulai dari hoaks kesehatan hingga isu-isu sensitif yang memicu kecemasan.
“Kami akhirnya bikin kelas kecil-kecilan,” katanya. “Belajar bareng cara cek informasi, bedakan fakta dan opini.”
Hasilnya? Perlahan, perubahan mulai terasa. Diskusi jadi lebih sehat, keputusan lebih rasional, dan yang paling penting—rasa percaya diri meningkat.
Di titik ini, literasi bukan lagi sekadar kemampuan individu, tetapi menjadi alat pemberdayaan. Ia membuat seseorang tidak mudah dipengaruhi, tidak gampang ditakut-takuti, dan tidak cepat terprovokasi.
Bukankah ini inti dari emansipasi?
Namun, jalan menuju literasi yang merata tidak selalu mulus. Ada tantangan yang sering kali tidak terlihat: rasa minder. Banyak orang merasa “tidak cukup pintar” untuk membaca buku berat atau mengikuti diskusi serius. Akibatnya, mereka memilih zona nyaman—konten ringan, hiburan instan, yang memang tidak salah, tapi jika berlebihan, bisa membuat kita stagnan.
Padahal, literasi tidak harus selalu dimulai dari hal besar. Ia bisa tumbuh dari kebiasaan kecil: membaca satu halaman sehari, mendengarkan podcast edukatif saat memasak, atau berdiskusi ringan dengan teman tentang isu sehari-hari.
Emansipasi, dalam konteks ini, bukan tentang menjadi paling pintar, tetapi tentang memberi diri sendiri kesempatan untuk terus belajar.
Di era digital, literasi juga berarti memahami bagaimana teknologi bekerja. Algoritma media sosial, misalnya, tidak selalu berpihak pada kebenaran. Ia lebih sering berpihak pada apa yang menarik perhatian. Akibatnya, informasi yang muncul di layar kita sering kali adalah apa yang ingin kita lihat, bukan apa yang perlu kita tahu.
Tanpa literasi, kita bisa terjebak dalam “ruang gema”—hanya mendengar suara yang sama berulang-ulang, tanpa pernah benar-benar memahami sudut pandang lain.
Di sinilah peran literasi menjadi krusial: membuka jendela, bukan mempersempit ruang.
Menariknya, ketika literasi bertemu dengan emansipasi, lahirlah kekuatan yang luar biasa. Perempuan yang melek literasi tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga mengolahnya menjadi keputusan yang berdampak—baik untuk dirinya, keluarganya, maupun lingkungannya.
Mereka bisa menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya, pengelola ekonomi keluarga yang bijak, bahkan agen perubahan di komunitasnya.
Saya teringat seorang ibu yang mulai belajar tentang keuangan digital dari video-video sederhana di internet. Awalnya hanya ingin tahu cara menabung secara online. Lama-kelamaan, ia memahami investasi, mengatur keuangan, hingga akhirnya membantu teman-temannya melakukan hal yang sama.
“Dulu saya takut salah,” katanya. “Sekarang saya lebih takut kalau tidak belajar.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti manifesto kecil tentang emansipasi.
Namun, penting untuk diingat: literasi bukan tujuan akhir. Ia adalah alat. Alat untuk memahami dunia, untuk mengambil keputusan, dan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.
Tanpa arah yang jelas, literasi bisa menjadi sekadar tumpukan informasi tanpa makna. Tapi dengan kesadaran, ia bisa menjadi kompas yang menuntun langkah.
Kartini mungkin tidak pernah membayangkan dunia digital seperti sekarang. Tapi semangatnya tetap relevan: keberanian untuk berpikir, keinginan untuk belajar, dan tekad untuk mengubah keadaan.
Di akhir hari, saya kembali teringat pada ibu muda yang membaca buku untuk anaknya di ruang tamu itu. Ia mungkin tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah bagian dari gerakan besar—gerakan sunyi yang tidak selalu viral, tapi berdampak nyata.
Dari satu halaman yang dibaca, dari satu cerita yang diceritakan, dari satu pertanyaan yang dijawab dengan sabar—di situlah literasi tumbuh. Dan dari literasi itulah, emansipasi menemukan akarnya.
Mungkin kita tidak semua bisa menjadi Kartini yang menulis surat-surat besar. Tapi kita bisa menjadi versi kecilnya: membaca lebih dalam, berpikir lebih jernih, dan berbagi lebih bijak.
Karena pada akhirnya, emansipasi bukan hanya tentang membuka pintu. Ia juga tentang memastikan kita tahu ke mana harus melangkah setelah pintu itu terbuka. [mad]
*Ketua PAC Ansor Balen
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published