Skip to main content

Category : Kolom


Kolom

Guru Ideal Era Digital

Ada sebuah ucapan bijak yang sering terdengar di ruang-ruang pendidikan: “Mengajar adalah belajar dua kali.” Ucapan ini bukan sekadar slogan manis untuk poster Hari Guru. Ia mengandung hikmah mendalam—bahwa guru yang baik bukanlah mereka yang merasa paling tahu, melainkan yang paling haus untuk terus belajar. Apalagi di era digital seperti sekarang, ketika informasi berlari lebih cepat daripada nasihat “kerjakan PR-mu sebelum tidur”.

Kolom

Guru yang Mendidik dengan Cinta

“We don't need no education Wе don't need no thought control No dark sarcasm in the classroom Teachers, lеave them kids alone Hey! Teacher! Leave us kids alone! All in all, you're just another brick in the wall”

Kolom

Belajar Tetap Asyik Saat Libur

Mengajak belajar di hari libur, itulah yang penulis lakukan dengan keponakan pada Ahad (23/11/25). Berbekal buku seri ‘Mewarnai Kreatif Dengan Contoh’ yang murah, keceriaan mereka tampak sekali.

Kolom

Bersetubuh dengan Waktu

Pernahkah Anda merasa waktu seperti satpam galak yang terus mengawasi, tak pernah berhenti barang sedetik pun? Atau justru seperti kekasih yang menuntut perhatian penuh? Iwan Fals dalam salah satu lagu legendarisnya mengajak kita “bersetubuh dengan waktu”—menggarisbawahi bahwa hubungan kita dengan waktu bukan sekadar persinggungan, tapi pertemuan yang amat intim. Bukan sekadar hidup berdampingan, tapi benar-benar menyelaminya.

Kolom

Mendakwahkan Membaca

Kemarin, Rabu (12/11/25), kita memperingati Hari Gerakan Nasional Membaca (HGNM). Peringatan ini bukan sekadar untuk ‘diingat’ saja, tetapi perlu berefleksi –diri kita masing, apakah membaca sudah menjadi aktivitas keseharian kita?

Kolom

Dibutuhkan Pahlawan (Anti) Koruptor

Setiap bulan November, bangsa ini selalu diajak menundukkan kepala sejenak: mengenang para pahlawan yang telah gugur demi tegaknya Indonesia merdeka. Dari Soedirman yang bergerilya di tengah hutan dengan paru-paru tinggal separuh, hingga Cut Nyak Dien yang kehilangan segalanya demi tanah Aceh tercinta.

Kolom

Membumikan Peran Pemuda

28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda (HSP). Tentu, untuk bisa membumikannya setiap saat, peringatannya bukan sekadar simbolis –berhenti di upacara, membuat flyer; tetapi yang terpenting adalah memformulasikan hakikat sumpah pemuda dalam konteks kekinian.

Mas Kawin Berupa Cek: Tergolong Mahar Tunai atau Tidak Tunai?

Pemberitaan yang viral, seorang kakek menikahi seorang gadis di Pacitan, menyisakan satu masalah hukum yang luput disoroti. Yaitu penggunaan mas kawin berupa cek, apakah termasuk mahar yang dibayar tunai atau tidak? Hal ini perlu diungkap karena memiliki konsekuensi hukum, apakah pasangan yang berbeda usia jauh itu boleh berhubungan suami istri atau tidak? Terutama jika istri belum mau diajak berhubungan, maka suami harus menunggu sampai cek itu dicairkan istri.

Kolom

Pesantren dalam Sorotan yang Salah

Suatu malam di lini masa X (Twitter), sebuah tagar mendadak meledak dan menyalip tren hiburan: #BoikotTrans7. Awalnya saya kira cuma tagar biasa -mungkin karena artis salah bicara atau gosip infotainment. Tapi setelah saya telusuri, ternyata ini bukan perkara selebritas, melainkan perkara marwah pesantren. Ya, sebuah program berjudul Xpose Uncensored di Trans7 menampilkan potongan tayangan yang menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo dan beberapa pesantren lain.

Kolom

Mengamalkan Pancasila

Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dalam konteks kekinian lima sila yang kita hafal, selanjutnya perlu kita amalkan. Jangan kemudian –mohon maaf, hanya berhenti di peringatan. Atau, sekadar flyer sebagai pengingat. Jika lima sila itu kita amalkan, artinya, ia dekat dengan kita. Ia menjadi diri kita. Menyatu. Sebab, kehadirannya menjadi perilaku diri.