Oleh: Choirul Anam*)
blokBojonegoro.com - Setiap tanggal 14 Agustus, keluarga besar Pramuka di seluruh Indonesia berbaris rapi, seragam cokelatnya, membentang seperti hamparan tanah subur yang siap ditanami nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan persaudaraan.
Tahun ini, HUT Pramuka ke-64 terasa istimewa, bukan hanya karena usianya yang matang, tapi juga karena tantangannya yang… ya, bisa dibilang sudah upgrade. Dulu tantangan Pramuka adalah menyalakan api unggun di tengah hujan. Sekarang? Tantangannya mungkin memecahkan bug di tengah deadline, sambil melawan godaan menonton drama Korea episode terakhir.
Pramuka, yang lahir dari gerakan kepanduan dunia, membawa misi luhur: membentuk watak, menanamkan kecakapan hidup, dan memupuk cinta tanah air. Namun, di era koding dan kecerdasan buatan (AI), muncul pertanyaan nakal: Masih relevankah Pramuka? Apakah tali temali dan kompas masih ada gunanya saat Google Maps bisa mengantar kita sampai ke gang buntu? Jawabannya: justru di sinilah tantangannya.
Dari Kompas ke Algoritma
Kompas mengajarkan kita mencari arah. Tapi di era AI, arah itu ditentukan algoritma yang kadang tahu keinginan kita sebelum kita sadar. Masalahnya, algoritma tidak mengajarkan nilai — hanya memberikan hasil. Pramuka, dengan Dasa Dharma dan Tri Satya-nya, justru berperan sebagai “algoritma moral” yang memandu di tengah banjir informasi.
Bayangkan seorang anak jago koding, bisa membuat aplikasi canggih, tapi tidak punya rasa tanggung jawab sosial. Bahayanya? Sama seperti kompas yang jarumnya dilepas — jalan ke mana pun jadi asal-asalan. Pramuka mengajarkan bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan tujuan hidup tetap harus dilandasi nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan.
Keterampilan Abad 21: Dari Pionering ke Problem Solving
Kegiatan pionering — membangun menara dari tongkat dan tali — mungkin tampak kuno bagi generasi yang lebih sering membangun Minecraft atau dunia virtual di Roblox. Tapi esensinya sama: problem solving, kerja sama tim, dan kreativitas.
Penelitian dari World Economic Forum (2020) menyebutkan bahwa keterampilan abad 21 yang paling dibutuhkan adalah complex problem solving, critical thinking, dan collaboration. Nah, bukankah itu semua sudah dipraktikkan Pramuka sejak dulu? Bedanya, kalau dulu masalahnya “bagaimana menyeberangkan regu dengan tali”, sekarang bisa jadi “bagaimana membuat chatbot yang membantu UMKM desa”. Tekniknya boleh beda, tapi logika berpikirnya tetap sama.
AI: Asisten atau “Senior” Digital?
AI bisa membantu Pramuka dalam banyak hal. Misalnya, aplikasi AI bisa memprediksi cuaca untuk kegiatan perkemahan, memberi ide desain pioneering yang efisien, bahkan mengajarkan teknik simpul lewat animasi interaktif. Tapi AI tetap tidak bisa menggantikan pengalaman “nyata” — merasakan nyamuk yang berbisik di telinga saat malam perkemahan, atau aroma jagung bakar yang gosong setengah karena lupa dibalik.
AI itu pintar, tapi tidak punya jiwa korsa. Ia bisa memberi jawaban, tapi tidak bisa membangun persahabatan yang terbentuk saat satu regu basah kuyup bareng di bawah hujan. Di sinilah Pramuka tetap memegang peran unik: membentuk manusia yang bukan hanya cerdas, tapi juga tangguh dan berempati.
Dasa Dharma sebagai Kode Etik Digital
Kalau di dunia koding ada clean code, di dunia Pramuka ada Dasa Dharma. Bayangkan kalau Dasa Dharma di-compile jadi “kode etik digital”:
1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa → Menyadari bahwa teknologi bukan pengganti nilai spiritual.
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia → Tidak membuat program yang merusak lingkungan atau memecah belah masyarakat.
3. Patriot yang sopan dan kesatria → Menggunakan teknologi untuk kebaikan bangsa, bukan sekadar sensasi.
4. Patuh dan suka bermusyawarah → Tidak nge-spam grup WA hanya karena debat politik.
5. Rela menolong dan tabah → Membuat solusi teknologi untuk membantu orang yang kesulitan.
6. Rajin, terampil, dan gembira → Menyelesaikan tugas tanpa copas dari ChatGPT tanpa paham isinya (ups).
7. Hemat, cermat, dan bersahaja → Menggunakan sumber daya digital secara bijak.
8. Disiplin, berani, dan setia → Tidak mengubah kode orang lain tanpa izin.
9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya → Tidak mencuri data pengguna.
10. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan → Tidak membuat konten hoaks.
Kalau generasi koding memegang ini, dunia digital akan jauh lebih aman dan ramah.
Transformasi Kegiatan Pramuka
Mungkin, sudah waktunya kegiatan Pramuka mendapat update seperti aplikasi. Bukan berarti meninggalkan tradisi, tapi menambahkan kompetensi digital. Misalnya:
- Lomba Koding Cepat di perkemahan, mirip lomba masak rimba, tapi bahannya laptop dan wifi.
- Peta Digital dan Drone Scouting untuk latihan navigasi modern.
- AI for Good Project: membuat solusi sederhana dengan AI untuk masalah nyata di desa atau sekolah.
- Cyber Safety Camp: mengajarkan keamanan digital layaknya survival di hutan.
Dengan begitu, Pramuka tetap punya akar di nilai-nilai kepanduan, tapi cabangnya menjulang ke dunia digital masa depan.
Penutup
Pramuka di era koding dan AI tidak kehilangan relevansi. Justru, keberadaan teknologi menegaskan perlunya karakter kuat, jiwa sosial, dan kemampuan adaptasi yang telah diwariskan Pramuka sejak dulu. Tali temali mungkin bisa berganti menjadi “tali data” — jaringan pengetahuan dan kolaborasi yang menghubungkan manusia di dunia nyata dan dunia maya.
Kalau Baden Powell dulu berkata, “Cobalah tinggalkan dunia ini sedikit lebih baik daripada ketika kamu menemukannya,” maka di era digital, pesan itu bisa kita terjemahkan: “Tinggalkan dunia, baik nyata maupun virtual, lebih aman, bermanfaat, dan penuh kebaikan daripada saat kita masuk ke dalamnya.”
Selamat HUT ke-64 Pramuka. Teruslah upgrade, tapi jangan pernah lupa root nilai-nilai yang membuat kita bukan hanya pintar memecahkan masalah, tapi juga bijak menentukan jalan.
*) Ketua PAC GP Ansor Balen, Pembina Pramuka Gudep MI Bahrul Ulum 1 Bulu
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published