Oleh: Abdul Wachid B.S.*
blokBojonegoro.com - Di sebuah pesantren kecil di kaki Gunung Slamet, selepas subuh para santri berkumpul di serambi masjid dengan kitab kuning terbuka. Mereka mengaji sorogan, menyimak setiap kalimat Arab gundul yang dijelaskan sang kiai dengan penuh kehati-hatian. Tradisi ini berlangsung turun-temurun, sebuah warisan yang lebih tua dari usia republik. Namun ada yang menarik dari wajah-wajah mereka pagi itu: di sela-sela kitab, terselip ponsel pintar.
Ahmad Ridwan (19 tahun), santri asal Purbalingga, adalah salah satu yang aktif memadukan dua dunia ini. Pagi hingga siang, ia tenggelam dalam kajian Fiqh dan Nahwu. Namun selepas maghrib, ia mengelola akun media sosial bertema dakwah kreatif bersama teman-temannya. “Kami buat konten dakwah ala santri, yang santai tapi isinya tetap penting,” kata Ridwan, menunjukkan video reels pendek berisi penjelasan ringan tentang adab menuntut ilmu.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di berbagai pesantren, muncul generasi santri digital yang memadukan ketekunan mengaji kitab klasik dengan aktivitas kreatif di ruang digital. Mereka menyebut diri mereka "Santri Digital", bukan untuk gaya-gayaan, tapi sebagai bentuk dakwah di era swipe dan scroll.
Menjaga Tradisi, Merangkul Teknologi
Pesantren dikenal sebagai benteng tradisi Islam Nusantara. Di dalamnya, proses transmisi keilmuan berlangsung secara lisan dan tatap muka. Namun realitas global menuntut cara baru dalam menyampaikan nilai-nilai luhur tersebut.
Penelitian Munawara dkk. dalam jurnal Komunika UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto (2020) mencatat, dakwah pesantren di media sosial berkembang pesat sebagai respons atas derasnya arus informasi. Pesantren Tebuireng, misalnya, aktif memanfaatkan platform digital untuk membumikan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin. "Media sosial adalah wasilah, bukan ghayah," tulis Munawara, menegaskan bahwa teknologi hanyalah sarana, bukan tujuan dakwah.
Ridwan dan kawan-kawan memahami ini. Mereka tidak menggantikan ngaji sorogan dengan scroll TikTok, melainkan menjadikannya sebagai media penyebaran ilmu. “Yang penting sanad ilmunya tetap jelas,” ujar Ridwan, merujuk pada tradisi pesantren yang menjaga kesinambungan keilmuan.
Dalam kesehariannya, Ridwan terbiasa mencatat faidah dari pengajian, lalu merangkumnya dalam format carousel Instagram. Teks-teks Arab gundul diterjemahkannya dalam bahasa visual yang ringan namun tetap sopan. Ia paham betul batas-batas humor dan adab, sesuatu yang sering diabaikan dalam konten viral di media sosial. Di tengah gempuran algoritma, Ridwan dan teman-temannya menempatkan sanad keilmuan sebagai pondasi, agar tradisi tak tercerabut meski beradaptasi di ruang digital.
Kiai pun Melek Digital
Di balik semangat santri digital, ada peran penting para kiai yang membuka ruang kreatif bagi para muridnya. Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., pimpinan Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, menyebut fenomena ini sebagai “dakwah bil hikmah fil media”. “Kalau zaman dulu dakwahnya pakai mimbar, sekarang pakai konten. Tapi ruhnya harus tetap: menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut,” katanya.
Kiai Roqib mengingatkan, digitalisasi dakwah tidak boleh memotong jalur sanad keilmuan. Oleh karena itu, ia membimbing langsung para santri yang mengelola akun media sosial pesantren. “Saya koreksi dulu caption mereka sebelum di-posting,” ujarnya sambil tersenyum.
Transformasi ini juga didukung oleh Kementerian Agama RI. Melalui program Santri Digitalpreneur yang diluncurkan sejak 2021, Kemenag mendorong pesantren agar adaptif terhadap perkembangan teknologi. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag pada saat itu, Waryono Abdul Ghafur, menegaskan pentingnya dakwah di ruang digital sebagai bagian dari moderasi beragama. “Pesantren jangan alergi teknologi. Dakwah harus hadir di media sosial agar Islam yang damai dan toleran tetap mengakar,” ujar Waryono (kemenag.go.id, 2023).
Antara Swipe, Scroll, dan Sanad
Tantangan terbesar para santri digital adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan media sosial dengan kedalaman tradisi. Dunia digital menuntut konten serba cepat, instan, dan kadang dangkal. Sementara pesantren mengajarkan kesabaran, kedalaman, dan proses belajar yang panjang.
Dalam wawancara di laman resmi Kemenag (2023), Waryono menegaskan pentingnya memelihara sanad keilmuan di tengah arus informasi digital. Santri digital harus mampu memilah antara tren yang sekadar viral dengan konten yang bermanfaat dan berlandaskan ilmu. Istilah “sanad digital” pun mengemuka, yakni memastikan bahwa setiap konten yang disebarkan tetap bersambung pada tradisi keilmuan yang valid.
Ridwan menyadari betul tantangan itu. Ia mengaku sering menolak permintaan follower yang minta bahas isu-isu kontroversial. “Kalau belum ilmunya, ya saya jawab: insya Allah nanti kalau sudah ngaji lebih dalam,” tuturnya.
Di sela-sela aktivitas membuat konten, Ridwan tetap rajin menghadiri halaqah malam bersama kiai. Baginya, mengaji adalah jalan utama, sedangkan media sosial hanyalah ladang tambahan untuk menanam kebaikan. Ia memegang teguh prinsip bahwa "like" dan "share" bukan tujuan, melainkan wasilah. Yang utama adalah menjaga kemurnian sanad, meskipun medianya berbentuk video pendek yang hanya berdurasi satu menit.
Hikmah dari Pesantren Digital
Fenomena santri digital bukan sekadar tren, tapi tanda bahwa tradisi bisa berjalan seiring dengan modernitas. Dakwah di era swipe dan scroll menuntut kecerdasan emosional, kesantunan bahasa, dan kepekaan budaya.
Apa yang dilakukan Ridwan dan para santri digital lainnya adalah bentuk nyata dari ijtihad zaman now — ikhtiar kreatif untuk merawat tradisi sambil menyapa generasi baru dengan bahasa mereka. Mereka tidak melulu menari di irama algoritma, tapi menyalakan lentera dakwah di tengah gelapnya banjir informasi.
Sebagaimana dawuh Kiai Roqib, “Santri itu ibarat lilin. Dia harus rela meleleh agar sekitarnya terang.”
Esai ini hendak menegaskan bahwa pesantren bukan menara gading yang ketinggalan zaman. Justru di era digital, pesantren menunjukkan ketangguhannya sebagai benteng nilai sekaligus pelopor adaptasi dakwah kreatif.
Santri digital seperti Ridwan membuktikan bahwa sanad keilmuan bisa dirawat meski lewat jari-jari yang menari di layar. Mengaji dan scroll bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan jembatan yang menghubungkan tradisi dan masa depan. Di situlah ijtihad generasi muda pesantren menemukan relevansi barunya.*
*Abdul Wachid B.S. (Penulis adalah penyair, Guru Besar Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto)
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published