Reporter: Nidhomatur, MR
blokBojonegoro.com - Kementerian Haji dan Umrah RI melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bergerak cepat mengantisipasi penurunan kondisi kesehatan jemaah haji gelombang kedua pasca-fase puncak Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memaksimalkan operasional Klinik Satelit Sektor 2 Madinah yang berlokasi di Hotel Durrat Al Eiman.
Klinik satelit yang memanfaatkan area kamar hotel dengan izin resmi otoritas Arab Saudi ini menjadi garda terdepan layanan kesehatan, khususnya bagi jemaah risiko tinggi dan lansia.
Belum genap sepekan fase kedatangan gelombang kedua di Madinah, klinik tersebut tercatat telah melayani 21 pasien rawat jalan, dan jumlah ini diprediksi terus meningkat seiring kedatangan kloter baru.
Koordinator Tim Kesehatan Sektor 2 Madinah, dr. Fitri Indah Yanti, Sp.P, mengungkapkan bahwa mayoritas jemaah mengeluhkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk pilek, faringitis (nyeri tenggorokan), serta kelelahan ekstrem.
"Banyak jemaah yang mengalami kelelahan hebat setelah menjalani aktivitas berat di Armuzna, yang berdampak pada turunnya nafsu makan. Saat ini, kami fokus menyiapkan penanganan cepat berupa obat flu, batuk, antibiotik, vitamin, hingga pemberian infus bagi yang membutuhkan," ujar dr. Fitri di Madinah.
Untuk memastikan pelayanan berjalan 24 jam tanpa memutus pengawasan di kloter asal, PPIH menerapkan sistem kerja tiga shift (pagi, siang, dan malam) bagi dokter dan perawat secara bergantian. Pasokan obat-obatan juga disuplai secara berkala melalui koordinasi ketat dengan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah.
Wujud Nyata Haji Ramah Lansia
Keberadaan tim medis di klinik satelit ini terbukti krusial dalam menyelamatkan jemaah yang mengalami kedaruratan medis di hotel. Salah satu kasus keberhasilan penanganan dialami oleh Muhammad Zair (78), jemaah lansia asal Mojokerto, Jawa Timur.
Mbah Zair sempat pingsan, kejang, dan menolak makan akibat kelelahan ekstrem setelah menyelesaikan Tawaf Ifadah di Masjidil Haram. Melalui perawatan intensif dan pendekatan persuasif dari tim medis di hotel, kondisinya kini pulih total dan sudah mampu melaksanakan ibadah ziarah ke Masjid Nabawi dengan berjalan kaki.
Kementerian Haji dan Umrah RI kembali mengimbau kepada seluruh jemaah, terutama para lansia, untuk tidak menunda pemeriksaan medis jika mulai merasakan gejala sakit. Pemantauan dini di klinik satelit ini menjadi kunci utama untuk mencegah kondisi jemaah memburuk, sekaligus meminimalkan rujukan ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). [lis]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published