Cuaca Ekstrem, Bojonegoro Kehilangan 2.123 Hektar Lahan Tembakau di Tahun 2025
Ilustrasi kondisi tanaman tembaku yang terkena banyak air

Reporter: Muhammad

blokBojonegoro.com - Tahun 2025 merupakan cobaan berat bagi petani tembakau di Kabupaten Bojonegoro. Ada yang beberapa kali tanam baru hidup. Dan bahkan banyak pula yang tidak bisa tanam karena cuaca ekstrem, tepatnya hujan terus menerus.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro mencatat, ada penurunan 2.123 hektar lahan di Bojonegoro yang tertanami terbakau.  Tahun 2024, lahan tembakau mencapai luasan 15.965 hekrate. Namun di 2025 tinggal 14.164,10 hektar luas tanam.

"Memang benar, kita kehilangan 2.123 hektar akibat hujan ekstrem. Ini menunjukkan bahwa petani kita membutuhkan dukungan nyata agar bisa menekan kerugian dan meningkatkan ketahanan," kata Kepala DKPP Bojonegoro, Zainal Fanani.

Ia merinci, upaya yang telah dilakukan DKPP untuk menjaga kualitas dan kuantitas tembakau Bojonegoro, yang dikenal dengan varietas andalan seperti Virginia (T45, K326) dan Tembakau Jawa (Grompol Jatim). Upaya tersebut diantaranya penyediaan benih dan pupuk diantaranya NPK (526 ton) dan KNO (67,5 ton) untuk 2.630 hektar lahan.

Terbaru, kemarin upaya penguatan dan modernisasi sektor perkebunan. Yakni dengan sosialisasi dan serah terima bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur. 

"Alsintan ini bukan hanya sekadar alat, tetapi merupakan investasi strategis untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas hasil tembakau Bojonegoro," tegasnya.

DKPP juga intensif mendampingi penerapan Good Agricultural Practices (GAP) untuk memastikan budidaya tembakau sesuai standar. Juga telah menyediakan 17 unit mesin perajang, ditambah dukungan dari Provinsi Jatim berupa 20 unit mesin perajang, 32 unit hand tractor, dan 5 unit cultivator yang berfokus pada efisiensi pascapanen.

Ia juga melanjutkan, DKPP akan meningkatkan pendampingan dan pengawasan untuk memastikan bantuan ini memberikan dampak langsung bagi produktivitas di lapangan, sejalan dengan harga jual saat ini yang cukup menjanjikan (daun basah Rp 1.500–2.000/kg dan rajangan Rp 20.000–52.000/kg). [mu/mad]