Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*

blokBojonegoro.com - Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan. Kemerdekaan dipahami sebagai terbebasnya suatu bangsa dari penjajahan dan penindasan. Namun, Islam memberikan makna kemerdekaan yang lebih luas. Diantaranya adalah kemerdekaan hati dari penghambaan selain Allah.

Syekh Ibnu Athaillah memiliki sudut pandang yang indah, ia menilai arti kemerdekaan pada manusia ada pada kemerdekaan hati. Kemerdekaan sejati bukan hanya bebasnya fisik dari belenggu penjajah, tetapi juga bebasnya hati dari penghambaan hawa nafsu, syahwat, kedzaliman, dan segala bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT.

Islam sendiri mengajarkan bahwa manusia diciptakan hanya untuk menghamba kepada Allah, bukan untuk menghamba pada selainNYA, bermain main atau bersantai ria.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menghamba (beribadah) kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Semakin seseorang merasa menjadi hamba Allah, ia akan tunduk kepadaNYA, dan semakin ia terbebas dari ketergantungan kepada makhluk. Sebaliknya, orang yang menghamba kepada selainNYA, ia akan semakin tunduk mengikuti segala keinginannya. Apabila ia menghamba pada nafsu keinginan dan kesenangan, akan menjadi budak keinginan dan kesenangan itu sendiri. Ketika ia menghamba pada harta dan jabatan pun dia akan tunduk dan mengikuti cara memperoleh keduanya, walau dengan cara yang tidak halal, demikian seterusnya.

Menurut Syekh Ibnu Atthaillah Assakandari, paling tidak ada dua konsep, agar manusia benar benar merdeka hatinya dari belenggu penghambaan pada selain Allah.

1. Menerima (qana'ah) segala pemberian dan ketentuan Allah SWT

Ibnu Atthaillah Assakandari berkata:

اَنْتَ حُرٌ مِمَّا اَنْتَ عَنهُ اَيسٌ وَعَبْدٌ لِمَا اَنْتَ لَهُ طَامِعٌ

Artinya: "Jangan perbanyak keinginanmu, maka kamu akan merdeka. Keinginan yang banyak akan membawa orang terjebak dalam ketamakan jika hati tidak bisa mengendalikannya."

Seorang pejabat atau pemimpin yang hatinya terjajah oleh ketamakan, secara tak langsung akan menjajah rakyatnya. Kebijakannya bukan lagi lahir dari maslahah umum, melainkan dari ego yang lapar. Ia tidak lagi melihat rakyat sebagai amanah yang harus disejahterakan, tapi sebagai objek yang harus dieksploitasi untuk mencapai target. Inilah yang namanya penjajahan oleh bangsa sendiri. Ketika pemimpin yang tidak merdeka hatinya, memproduksi kebijakan yang memenjarakan rakyatnya

Selanjutnya, dawuh ini juga menjadi dalil yang menunjukkan betapa buruknya ketamakan dan terpujinya keengganan terhadap para makhluk dan sikap menerima (qana’ah) terhadap rezeki yang sudah dibagi.
Inilah juga salah satu definisi kemerdekaan paling indah dalam tasawuf. Selama hati masih berharap dan bergantung pada makhluk; pujian manusia, jabatan, harta, atau kedudukan, maka seseorang belum benar-benar merdeka.

2. Bergantung hanya pada Allah.
Ibnu Atthaillah Assakandari berkata:

لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ

Artinya: "Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian-Nya kepadamu, saat engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan engkau berputus asa; sebab Dia telah menjamin bagimu suatu ijabah (pengabulan doa) dalam apa-apa yang Dia pilihkan bagimu, bukan dalam apa-apa yang engkau pilih untuk dirimu; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki."

Seorang hamba tidak boleh menggantungkan ketenangan hatinya pada cepat atau lambatnya dunia datang kepadanya. Hati yang hanya bergantung kepada Allah adalah hati yang merdeka. Cepat lambatnya dunia bukan menjadi persoalan, sebab yang dilihat adalah Allah SWT, dzat yang maha memberi. 

Apa yang disampaikan Ibnu Athaillah ini jangan diartikan sebagai provokasi yang mengebiri semangat untuk berprestasi dan suksesi meraih cita-cita tertentu, bukan. Hal ini merupakan peringatan bagi mereka yang menghamba kepada selain Allah SWT seperti kekayaan, kekuasaan, jabatan, validasi, pujaan, dan lain sebagainya. Menganggap selain Allah itu segalanya dalam hidup, sehingga harus di kejar sedemikian lupa diri, lupa tujuan hidup dan bahkan dengan menghalalkan segala cara, yang pada akhirnya tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga orang lain.

Kesimpulannya, orang belum bisa melepaskan diri dari banyaknya keinginan yang menjadikanya tamak, yang masih menghamba selain Allah inilah orang yang masih terjajah. Selain itu juga orang yang masih menggantungkan kebahagiaan kepada selain Allah.

Sebaliknya, orang yang merdeka adalah mereka, orang yang hati dan raganya menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup, menjaga keinginan dengan tanggung jawab, dan menerima segala pemberian Allah dengan Ikhlas. Secara dhohir, mampu mengisi kemerdekaan dengan amal saleh dan memberikan manfaat kepada umat. [mu]