Oleh: Usman Roin *
blokBojonegoro.com - Antrinya orang di berbagai supermarket untuk membeli aneka snack (jajanan) sebagai suguhan lebaran, menjadi fenomena menarik untuk ditelaah. Bila boleh penulis menyebut, terdapat semacam “kepanikan” menghadapinya. Sehingga, budaya memborong hingga stok habis, jadi pemandangan yang tidak bisa dihindarkan.
Padahal, dalam tiga tahun ini kala merayakan lebaran, hasil amatan penulis lebih cepat selesainya. Kemudian, orang yang meminta maaf dari satu rumah ke rumah juga minim jagong atau bercakap-cakap dalam waktu lama secara gayeng, sambil menikmati hidangan jajan yang disajikan si tuan rumah.
Sehingga, hari pertama kala lebaran, suasana sepi sudah menyelimuti. Ketika kita hadir di hari kedua sebagai misal, itu seperti aneh oleh sebab perayaan lebarannya lebih cepat selesai yakni sehari.
Coba, bila kita flashback perayaan lebaran pada masa dahulu. Kala lebaran tiba, masing-masing keluarga itu memfokuskan diri untuk membuat jajanan khas Jawa. Ada jadah, tape, rengginang, gapit gulung dan asin, marning jagung, hingga pisang matang selalu menjadi menu-menu lokal rumah.
Apa yang bisa dipetik, semangat orang dahulu untuk menyiapkan lebaran diwujudkan melalui upaya membuat kreativitas jajanan sendiri. Sehingga, yang ramai adalah pembelian bahan mentah, untuk kemudian ibu-ibu dengan semangat menyambut lebaran sibuk membuat jajanan hasil olahan sendiri.
Alhasil, ketika lebaran tiba, jajanan yang dihidangkan memiliki kekhasan rasa, bentuk; dan yang diobrolkan adalah bagaimana resep membuatnya setelah saling meminta maaf sebelumnya.
Konsumerisme
Kini, seiring dengan kemajuan zaman, semangat untuk mengasah kreativitas membuat jajanan sendiri jarang ditemui. Yang viral adalah, gaya hidup membeli, membeli, yang dalam istilahnya disebut konsumerisme.
Sehingga yang dibicarakan kala lebaran, sudah bukan lagi bagaimana cara membuat jajanan. Tetapi, di mana membeli jajan? Lalu harganya per kilonya berapa? Adakah nomor kontak yang bisa diminta!
Jika orientasinya sudah sedemikian konsumeris –gaya hidup yang mengajak orang bahagia bisa dengan membeli, hal itulah dalam amatan penulis yang menjadikan supermarket penuh oleh lautan manusia.
Apa itu salah? Tidak juga salah. Yang kurang betul adalah, budaya untuk mengusahakan belajar membuat jajanan tersebut tidak pernah dicoba. Sementara, budaya senang membeli, jadi menu keseharian yang tidak bisa dihindarkan.
Lebih jauh, bila orang dewasa saja sudah mendoktrin “senang membeli”, coba sekarang lihat generasi kini. Suasana untuk berbuka bersama bukan lagi door to door, tetapi warung to warung, cafe to cafe, yang itu secara konsumtif tidak menghemat keuangan.
Hidupkan Kreatifitas
Sebagai jalan tengah, Pertama, bagi penulis tidak ada salahnya bila orang tua perlu membuat jajanan menyambut lebaran dari hasil olahan sendiri. Sebagai misal, Mae –begitu penulis memanggil Ibu, tetap menggoreng sendiri “marning jagung”. Bahkan, hasilnya sudah ditunjukkan kepada penulis.
Kemudian beliau juga berencana mau membuat “kemplang” yakni, kerupuk yang terbuat dari tepung tapioka dan penyedap rasa lain, dikeringkan dan kemudian digoreng. Makanan itu, ternyata sudah di-request oleh tetangga, karena kekhasan di rumah Mae kala lebaran terdapat hasil olahan sendiri.
Pertanyaannya, dari mana memulainya? Tentu dari diri sendiri –dalam hal ini penulis ambil contoh Mae. Terlebih, yang bisa membatasi untuk konsumtif adalah kita. Dengan memperhatikan dampak yang telah penulis uraikan, kreativitas untuk membuat jajanan sendiri bisa dilakukan.
Toh, kini tutorial via youtube juga mudah didapatkan. Tinggal lihat sebentar, praktikkan, jajanan khas yang kita buat akan dihasilkan.
Kedua, jajanan tradisional tentu menjadi ciri khas identitas keluarga. Artinya, meski sudah ada gempuran jajanan kekinian, kita tidak begitu saja menghilangkan identitas jajanan khas masa lalu. Melainkan, senantiasa dilestarikan sebagai bagian dari nguri-nguri kearifan lokal. Salah satunya di bidang kuliner.
Cara melestarikannya, dengan mempelajari kemudian mempraktikkan memasak, lalu membagi bagaimana membuat resep kuliner tersebut kepada generasi kini agar tidak punah.
Ketiga, sebagai sarana bisnis baru. Trend jajanan menyambut lebaran tidak sekadar habis dikonsumsi sendiri. Apalagi bila jajanan yang dibuat memiliki keunikan, tentu bisa dijadikan ladang bisnis.
Hal itu, bisa dilakukan dengan giat promosi, mendokumentasikan untuk kemudian dibagikan melalui akun media sosial.
Tidak selamanya, bisnis kuliner kudu menomorsatukan trend kekinian. Justru dengan melakukan adaptasi, mengemas dan memodifikasi secara menarik dengan tanpa menghilangkan citra rasa khasnya, akan bisa menghidupkan dan mengangkat kuliner lama warisan nenek moyang dari lingkungan keluarga agar tetap lestari.
Akhirnya, kepanikan-kepanikan menyambut lebaran oleh sebab "khawatir" kehabisan stok jajanan di supermarket, kemudian tidak menjadikan kita coba berkreativitas mandiri, dengan membuat jajanan khas warisan masa lalu.
Jangan pula kepanikan tersebut merembet kepada kepanikan perihal baju, kendaraan, renovasi rumah dan seterusnya. Sudah saatnya kita kembali kepada bimbingan kanjeng Nabi Muhammad Saw, bila di 10 hari terakhir Ramadan justru beliau "panik". Artinya, ikat pinggang beliau dikencangkan, sebagai simbol sungguh-sungguh mengisi malam Ramadan dengan beribadah –berbasis kualitas-kuantitas, serta menjauhi tempat tidur.
* Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Unugiri.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published