Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Edukasi soal sampah tak selalu harus dilakukan lewat ceramah di dalam kelas. SDN Sudu 2, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, memilih cara berbeda dengan mengajak puluhan siswa dan guru belajar memilah sampah melalui permainan interaktif.
Kegiatan di lapangan sekolah itu dikemas melalui permainan estafet sampah, loncat sampah, dan papan urai sampah. Lewat permainan tersebut, siswa diajak mengenali sekaligus mempraktikkan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Kampanye Praktik Baik Pengelolaan Sampah di Sekolah dan Komunitas Aliran Sungai yang diprakarsai ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan didampingi Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI). Program ini menyasar masyarakat Desa Sudu, Kecamatan Gayam.
Kepala SDN Sudu 2, Ana Nur Resjatiningsih, mengatakan pendekatan melalui permainan membuat siswa lebih mudah memahami prinsip pemilahan sampah. Menurutnya, kebiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi ikut terbawa ke rumah.
"Ketika anak-anak paham cara memilah sampah sejak dini, mereka membawa kebiasaan baik ini ke rumah," ungkap Ana.
Menurut Ana, pembiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa agar lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pada saat yang sama, kebiasaan memilah sampah sejak sumbernya juga dapat membantu mengurangi volume limbah yang berakhir di lingkungan desa.
Manager Program YDTI, Rudy Susilo, mengatakan sekolah menjadi salah satu titik penting untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
Rudy menjelaskan, melalui pendampingan guru, siswa tidak hanya belajar memilah sampah, tetapi juga memahami bahwa sampah anorganik yang dikelola dengan benar memiliki nilai ekonomi. Karena itu, pihak sekolah diproyeksikan menjadi nasabah aktif Bank Sampah "Berkah" yang telah berdiri di Desa Sudu.
"Sampah anorganik yang terpilah dengan benar dari sekolah dan rumah kelak memiliki nilai ekonomi saat disalurkan ke bank sampah desa. Ada rantai manfaat yang saling mendukung," kata Rudy.

Penanggung Jawab Program Kemasyarakatan EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, menilai persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Menurut pria yang akrab disapa Malik tersebut, diperlukan kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, dan komunitas lokal.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kawasan permukiman dan bantaran sungai dari pencemaran sampah domestik. Pengelolaan sampah sejak dari rumah dan sekolah, kata dia, akan membantu mengurangi beban limbah yang masuk ke lingkungan, termasuk kawasan sungai.
"Lingkungan yang bersih dan sehat pada akhirnya menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warga desa," tutur Malik.
Malik menambahkan, EMCL merancang program tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan, baik bagi masyarakat maupun lingkungan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Sudu yang terus mendukung kegiatan program dan operasi EMCL.
"Kegiatan operasi migas negara dalam memproduksi minyak nasional di Lapangan Banyu Urip berlangsung aman selamat berkat dukungan masyarakat," tandasnya. [feb/mad]