Refleksi: Maulid Nabi dan Kemerdekaan Sejati
Kiai Ahmadi Ilyas

Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*

blokBojonegoro.com - Di bulan Agustus tahun ini, sebagai umat Islam dan sebagai bangsa Indonesia, ada dua momentum penting yang selalu diperingati. Dua momentum itu adalah HUT Republik Indonesia (RI) ke 81 dan Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Setiap kali bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam kembali diingatkan kepada sebuah peristiwa agung, yaitu kelahiran Nabi Muhammad saw. Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran seorang manusia mulia, tetapi juga mengenang lahirnya sebuah risalah yang mengubah arah kehidupan manusia dan peradaban bangsa di dunia.

Selain itu, bangsa Indonesia memperingati kemerdekaan. Dua momentum tersebut tampak berbeda: Maulid berbicara tentang kelahiran Rasulullah SAW dan kemerdekaan berbicara tentang terbebasnya bangsa dari penjajahan.

Namun jika direnungkan lebih dalam, keduanya memiliki satu titik temu yang sangat fundamental: pembebasan manusia. Kemerdekaan bangsa membebaskan manusia dari penjajahan manusia atas manusia. Sementara risalah Nabi Muhammad SAW membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, dari kebodohan, kezaliman, kesombongan, keserakahan, dan perbudakan hawa nafsu.

Karena itu, Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk kembali bertanya: setelah kita merdeka sebagai bangsa, apakah kita benar-benar telah merdeka sebagai manusia? 

Nabi Muhammad SAW dan Risalah Pembebasan

Al-Qur'an menggambarkan salah satu misi Rasulullah SAW sebagai pembebasan manusia dari berbagai belenggu kehidupan.

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. al-A'raf: 157)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kehadiran Rasulullah SAW memiliki dimensi pembebasan. Belenggu itu bukan hanya rantai yang tampak secara fisik. Ada belenggu yang jauh lebih berbahaya: belenggu syirik, kebodohan, fanatisme, kesombongan, kerakusan, ketidakadilan, dan perbudakan manusia terhadap hawa nafsunya sendiri.

Maka, seseorang bisa saja hidup dalam negara yang merdeka, tetapi jiwanya belum tentu merdeka. Ia bisa bebas secara politik, tetapi diperbudak oleh ambisi. Ia bisa bebas dari penjajah, tetapi diperbudak oleh uang. Ia bisa bebas berbicara, tetapi diperbudak oleh keinginan mendapatkan pengakuan. Ia bisa memiliki banyak pilihan, tetapi tidak mampu mengatakan "tidak" kepada hawa nafsunya.

Di sinilah kita menemukan makna kemerdekaan yang lebih dalam. Kemerdekaan Sejati adalah Tauhid. Dalam perspektif Islam, manusia pada hakikatnya diciptakan sebagai makhluk yang mengabdi kepada Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. adz-Dzariyat: 56)

Sekilas, penghambaan kepada Allah mungkin tampak bertentangan dengan konsep kemerdekaan. Tetapi justru di dalam tauhid terdapat kemerdekaan yang paling hakiki. Sebab ketika manusia hanya menjadi hamba Allah, ia tidak seharusnya menjadi budak bagi selain-Nya. 

Inilah paradoks spiritual Islam: menjadi hamba Allah adalah jalan menuju kemerdekaan dari selain Allah. Orang yang hanya takut kepada Allah tidak mudah diperbudak oleh manusia. Orang yang menggantungkan harga dirinya kepada Allah tidak mudah diperbudak oleh penilaian manusia. Orang yang memahami bahwa rezekinya berada di tangan Allah tidak mudah diperbudak oleh keserakahan. Dan orang yang menyadari bahwa kemuliaan berada di sisi Allah tidak harus menjilat kekuasaan demi mendapatkan kehormatan. Karena itu, tauhid bukan hanya persoalan teologis, tetapi juga merupakan revolusi batin.

Selain itu, Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Penjajahan secara fisik telah berakhir. Namun bentuk penjajahan dapat berubah. Dahulu manusia mungkin dijajah dengan senjata. Hari ini manusia dapat dijajah oleh gaya hidup, konsumtivisme, popularitas, algoritma, gengsi, dan keinginan untuk terus mendapatkan pengakuan. Dahulu seseorang dipaksa bekerja demi kepentingan penjajah. Hari ini seseorang mungkin bekerja tanpa henti bukan karena kebutuhan, tetapi karena tidak pernah merasa cukup. Dahulu manusia dapat dirantai secara fisik. Sekarang manusia dapat dirantai oleh keinginan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kekuatan manusia bukan hanya kemampuan menaklukkan orang lain. Kekuatan yang sesungguhnya adalah kemampuan mengendalikan dirinya. Karena itu, perjuangan kemerdekaan tidak berhenti ketika penjajah meninggalkan tanah air. Ada perjuangan yang lebih panjang: membebaskan diri dari penjajahan hawa nafsu.

Dalam tradisi tasawuf, perjuangan tersebut sering disebut sebagai mujahadah an-nafs—bersungguh-sungguh melawan dorongan jiwa yang menjauhkan manusia dari Allah. Jika Maulid dan kemerdekaan hanya dipahami sebagai perayaan, kita mungkin berhenti pada kegembiraan. Tetapi jika Maulid dipahami sebagai refleksi atas risalah Rasulullah SAW, kita akan bertanya: Apa yang telah berubah dalam diri kita setelah mengenal Nabi? Apakah semakin lembut hati kita? Apakah semakin jujur lisan kita? Apakah semakin amanah perilaku kita? Apakah semakin besar kasih sayang kita kepada sesama? Apakah kita semakin mampu mengendalikan kemarahan? Apakah kita semakin merdeka dari kesombongan?

Sebab mencintai Nabi SAW bukan hanya memperbanyak ungkapan cinta dengan lisan, tetapi juga berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya: "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian." (QS. al-Ahzab: 21)

Maka Maulid seharusnya menjadi proses tajdid—pembaharuan diri. Kita mengenang Nabi bukan hanya untuk mengetahui kapan beliau lahir, tetapi untuk menemukan kembali nilai-nilai yang beliau bawa.

Dan Kemerdekaan sejati, tidak berhenti dengan Hari Ulang Tahun, tetapi lebih dalam bahwa kemerdekaan juga memiliki dimensi sosial. Tidak mungkin sebuah bangsa disebut benar-benar merdeka jika sebagian masyarakatnya hidup dalam ketakutan, ketidakadilan, kemiskinan yang terus-menerus, atau kehilangan hak-haknya.

Rasulullah SAW datang membawa prinsip keadilan dan kasih sayang. Beliau tidak membangun masyarakat hanya dengan ritual, tetapi juga dengan akhlak. Beliau mengajarkan penghormatan kepada manusia, kejujuran dalam perdagangan, larangan menzalimi, kepedulian kepada fakir miskin, penghormatan terhadap hak tetangga, serta tanggung jawab sosial.

Karena itu, kecintaan kepada Nabi harus melahirkan kepedulian kepada manusia. Tidak cukup mengatakan "Kami mencintai Rasulullah" jika pada saat yang sama kita mudah merendahkan orang lain. Tidak cukup memperbanyak shalawat jika hati kita masih senang menyakiti. Tidak cukup merayakan Maulid jika kita belum berusaha menghadirkan rahmat Nabi dalam hubungan sosial.

Allah sendiri menyebut Rasulullah SAW sebagai rahmat:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: "Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. al-Anbiya': 107)

Maka semakin seseorang mencintai Nabi, semestinya semakin besar pula rahmat yang terpancar dari dirinya. Kesimpulannya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran Muhammad SAW, sebagaimana kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang tanggal 17 Agustus 1945. Keduanya adalah undangan untuk melakukan refleksi dan aksi.

Rasulullah SAW membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari kesyirikan menuju tauhid, dari kezaliman menuju keadilan, dari kebencian menuju kasih sayang, dan dari perbudakan manusia menuju penghambaan kepada Allah, sebagai esensi kemerdekaan. Dengan kata lain, kemerdekaan sejati bukan sekadar ketika penjajah pergi dari tanah air. Kemerdekaan sejati adalah ketika penjajah yang paling dekat, yaitu hawa nafsu dalam diri kita mulai kehilangan kekuasaannya.

Dan inilah makna terdalam Maulid Nabi dan kemerdekaan, Rasulullah SAW mengajarkan manusia bagaimana menjadi hamba Allah yang merdeka dari segala sesuatu selain-Nya. Maka sudah selayaknya menjadikan Maulid sebagai momentum memperbarui cinta kepada Rasulullah SAW, dan menjadikan kemerdekaan sebagai momentum memperbarui komitmen untuk menjadi manusia yang merdeka, berakhlak, adil, dan bermanfaat. [mu]