Menepis Layar Kaca dengan Lembar Cerita, Tur Literasi Ajak Anak Kebonagung Kembali Membaca

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Pagi di Perpustakaan Desa Kebonagung, Kecamatan Padangan, Senin (24/8/2026), terasa berbeda. Gelak tawa anak-anak terdengar di antara rak-rak buku. Beberapa anak usia dini duduk berdampingan dengan orang tua mereka di atas karpet, membuka lembar demi lembar buku cerita bergambar.

Tak ada layar sentuh yang menjadi pusat perhatian. Sebagai gantinya, buku-buku penuh warna mengajak mereka masuk ke dunia cerita dan imajinasi.

Suasana itu menjadi bagian dari Tur Literasi yang digagas Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) Lokus Kabupaten Bojonegoro, M. Imron Nasir Salasa, bersama mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro di Desa Kebonagung.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut menyasar anak-anak POS PAUD Lestari Agung sekaligus mengajak orang tua terlibat langsung dalam aktivitas literasi.

Pilihan lokasi bukan tanpa alasan. Perpustakaan Desa Kebonagung merupakan salah satu penerima bantuan 1.000 Buku Cerita Anak Bahan Bacaan Bermutu (BBB) dari Perpusnas RI pada 2024. Koleksi tersebut kini tidak sekadar tersimpan di rak, tetapi mulai dihidupkan melalui aktivitas membaca bersama anak dan orang tua.



Rangkaian kegiatan dibuat jauh dari kesan belajar yang kaku. Setelah perkenalan, peserta mengikuti sosialisasi Gerakan Gemar Membaca, membaca nyaring, hingga permainan literasi.

Pada sesi membaca nyaring, Kak Uswatun Hasanah, mahasiswa PIAUD Unugiri, membacakan cerita dengan intonasi ekspresif. Anak-anak pun mengikuti alur cerita dengan antusias. Keceriaan berlanjut ketika permainan literasi dimulai, sekaligus melatih pemahaman bahasa dan ketangkasan anak melalui permainan interaktif.

Di balik keceriaan tersebut, ada persoalan yang ingin disentuh: bagaimana mengurangi ketergantungan anak pada gawai.

M. Imron Nasir Salasa mengatakan, orang tua memegang peranan penting dalam mengalihkan perhatian anak dari penggunaan gawai yang berlebihan. Menurutnya, buku bisa dikenalkan bukan hanya sebagai bahan belajar, tetapi juga sebagai sarana bermain yang menyenangkan.

"Harapan utama dari kegiatan ini adalah agar anak-anak tidak kecanduan gadget. Peran aktif orang tua sangat dibutuhkan untuk mengenalkan buku sebagai sarana bermain dan belajar yang jauh lebih menarik dan bermanfaat," ujarnya.

Pendampingan orang tua juga menjadi bagian penting dari gerakan tersebut. Ketika membaca dilakukan bersama, aktivitas literasi tidak hanya menambah kosakata dan pengetahuan anak, tetapi juga membuka ruang interaksi antara anak dan orang tua.

Karena itu, Tur Literasi tidak diarahkan berhenti sebagai kegiatan sehari. Pemanfaatan koleksi BBB yang telah tersedia di Perpusdes Kebonagung diharapkan terus berlanjut melalui aktivitas membaca yang rutin di tingkat keluarga maupun komunitas.

Kegiatan ini melibatkan Relima Perpusnas RI Lokus Bojonegoro, mahasiswa KKN Kelompok 17 Unugiri, pengurus Perpusdes Kebonagung, serta pengelola POS PAUD Lestari Agung.

Di tengah semakin dekatnya anak-anak dengan perangkat digital, tantangannya bukan sekadar melarang gawai. Anak membutuhkan alternatif aktivitas yang menarik. Di Kebonagung, lembaran buku cerita menjadi salah satu pilihan untuk mengisi ruang tersebut-dengan orang tua sebagai pendamping utamanya. [feb/mad]