Warga Sudu Pilah Sampah dari Rumah, Bidik Penghasilan hingga Tiga Truk Sehari

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Warga Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro mulai mengubah cara pandang terhadap sampah. Bukan lagi sekadar persoalan kebersihan, sampah anorganik kini dibidik sebagai sumber tambahan penghasilan warga.

Puluhan warga dari seluruh RT di Desa Sudu mengukuhkan pengurus bank sampah unit Rukun Tetangga (RT) di balai desa setempat, Senin (24/8/2026). Mereka sekaligus mengikuti pelatihan pemilahan sampah yang diprakarsai ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI).

Gerakan tersebut menjadi bagian dari Program Kampanye Praktik Baik Pengelolaan Sampah di Sekolah dan Komunitas Aliran Sungai. Tak berhenti pada pemilahan, warga juga akan membangun Tempat Pengelolaan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS 3R) untuk memperkuat pengelolaan sampah di tingkat desa.

Ketua Bank Sampah Berkah RT 5 Desa Sudu, Khairul Latifah, mengatakan warga ingin pemilahan dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga.

"Kami sepakat, pilah sampah harus tuntas dari rumah," tuturnya.

Target yang dipasang warga pun tidak kecil. Melalui pengumpulan mandiri, mereka menargetkan sedikitnya tiga truk sampah anorganik terkumpul setiap hari. Volume tersebut diharapkan cukup untuk menarik pembeli dalam skala besar sehingga harga jual yang diperoleh lebih baik dibandingkan menjual secara eceran.


Bagi Khairul, pengelolaan sampah baru akan terasa manfaatnya jika mampu memberikan nilai ekonomi bagi warga. Karena itu, bank sampah tidak cukup hanya menjadi gerakan kebersihan, tetapi juga harus dikelola sebagai usaha yang berkelanjutan.

"Ketika sampah bisa dikelola, hasilnya akan kembali menjadi uang. Bisa menambah penghasilan keluarga. Bahkan bisa berkontribusi terhadap penghasilan asli desa," katanya.

Ia berharap hasil pengelolaan sampah nantinya mampu menopang operasional pengurus sehingga gerakan tersebut tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan dari luar.

"Kita ingin hasilnya signifikan, setidaknya mampu menghidupi operasional pengurus," lengkapnya.

Kepala Desa Sudu, Abdul Manan, mendukung gerakan tersebut. Menurutnya, kemampuan warga mengelola sampah memberikan dua manfaat sekaligus: lingkungan lebih bersih dan terbukanya peluang usaha.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada EMCL yang mendukung gerakan masyarakat ini. Semoga bisa terus konsisten dan berkelanjutan," ungkap Manan.

Perwakilan EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, mengatakan dukungan perusahaan diarahkan untuk memperkuat inisiatif masyarakat agar tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

"Kebiasaan baik di masyarakat akan membudaya jika dibentuk menjadi gerakan bersama yang terus menerus," ucap praktisi komunikasi yang telah belasan tahun berkecimpung dalam Program Pengembangan Masyarakat di industri migas tersebut.

Menurut Malik, Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) merupakan bagian dari komitmen industri hulu migas terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasi. EMCL bersama SKK Migas ingin ikut mendorong terciptanya lingkungan yang lebih baik sekaligus mendukung peningkatan taraf hidup masyarakat.

"Tentu kita ingin program ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat desa," jelasnya.

Ketua YDTI, Muthohar Hadib, mengatakan pendampingan program akan dilakukan sepanjang 2026. Namun, keberhasilan program tetap bergantung pada konsistensi warga, pengurus bank sampah, dan pemerintah desa.

Pengurus bank sampah, kata dia, harus aktif mencari nasabah sekaligus melakukan inovasi agar partisipasi warga, terutama ibu-ibu, tetap terjaga.

Sementara itu, Camat Gayam, Erna Zulaikah, mengapresiasi gerakan tersebut karena sejalan dengan program Pemkab Bojonegoro, Satu Desa Satu Bank Sampah (SDSB).

Menurut mantan pejabat DLH Bojonegoro itu, pembangunan TPS 3R di Desa Sudu juga menjadi bagian penting karena tidak semua sampah bisa dijual kembali. Sampah residu dan organik tetap membutuhkan penanganan lanjutan.

"Selama ini sampah residu menjadi masalah karena tidak adanya solusi akhir selain dengan dibangunnya TPS," tandasnya.

Dengan demikian, tantangan warga Sudu bukan hanya mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya. Mereka juga harus memastikan bank sampah mampu berjalan secara mandiri, memiliki pasar yang jelas, dan konsisten mengubah kebiasaan memilah sampah dari rumah menjadi gerakan ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan. [feb/mad