Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Kelangkaan sapi siap potong di Kabupaten Bojonegoro mulai berdampak pada aktivitas usaha jagal sapi. Tak hanya pedagang daging yang kesulitan mendapatkan pasokan, para jagal sapi yang tergabung dalam Paguyuban Jagal Sapi Bojonegoro juga memilih menghentikan sementara aktivitas usahanya.
Keputusan tersebut diambil lantaran semakin sulitnya mendapatkan sapi yang telah memenuhi usia dan bobot untuk dipotong. Kondisi itu membuat jagal sapi lokal kesulitan memenuhi kebutuhan pasokan daging untuk pasar.
Ketua Paguyuban Jagal Sapi Bojonegoro, Agus Setyono, mengungkapkan pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro segera turun tangan mencari solusi atas persoalan tersebut.
Agus menegaskan penghentian aktivitas jagal sapi bukan merupakan aksi demonstrasi. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk upaya meminta perhatian pemerintah daerah terhadap kondisi peternakan sapi di Bojonegoro.
“Kami tidak demo, tapi ingin meminta solusi kepada pemerintah daerah Bojonegoro karena populasi sapi siap potong kini langka,” ungkap Agus, Rabu (20/8/2026).
Menurut Agus, kelangkaan sapi siap potong disebabkan minimnya ketersediaan sapi di tingkat peternak. Kondisi tersebut semakin terasa setelah pelaksanaan Idul Adha 2026, ketika banyak peternak menjual sapi mereka untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban.
Setelah Idul Adha, peternak membutuhkan waktu untuk kembali mengisi kandang dengan sapi bakalan. Akibatnya, stok sapi yang telah mencapai usia dan bobot siap potong menjadi terbatas.
“Sepinya sapi potong karena setelah Idul Adha kemarin banyak peternak yang menjual sapinya. Bulan ini waktunya mereka mengisi kandang kembali. Selain itu, penyakit PMK yang membuat semangat petani dalam merawat sapi juga lesu, karna banyak dari peternak yang mengalami kematian pada hewan sapi yang mereka rawat,” jelasnya.
Persoalan kelangkaan sapi siap potong tersebut, kata Agus, juga diperparah dengan banyaknya pembeli dari luar daerah yang datang ke Bojonegoro untuk mendapatkan sapi.
Harga sapi di Bojonegoro dinilai relatif lebih murah dibandingkan sejumlah daerah lain. Kondisi tersebut membuat sapi dari Bojonegoro menarik minat pembeli dari luar wilayah.
Akibatnya, persaingan untuk mendapatkan sapi siap potong semakin ketat. Para jagal lokal pun semakin kesulitan memperoleh hewan untuk memenuhi kebutuhan pasar daging.
“Jadi kami meminta kepada pihak Pemkab Bojonegoro agar memiliki solusi terkait permasalahan tersebut,” harapnya.
Agus mengaku belum dapat memastikan sampai kapan kelangkaan sapi siap potong tersebut akan berlangsung. Namun, jika tidak ada intervensi maupun langkah konkret dari pemerintah, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan segera berakhir.
Menurutnya, apabila peternak hanya mengandalkan sapi bakalan yang baru dipelihara, dibutuhkan waktu cukup panjang hingga sapi kembali mencapai usia siap potong.
“Kalau hanya diam saja, kita tinggal menunggu sapi kecil dirawat petani sampai siap potong. Kalau usia, kisaran setahun lebih,” pungkasnya. [riz/mad]