“Lemah Ninggal Warah”, Sandur Bojonegoro Angkat Ancaman Hilangnya Tanah, Ingatan dan Kemanusiaan
Flyer pertunjukan Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro lakon Lemah Ninggal Warah (Dok. Istimewa)

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Seni tradisi Sandur Bojonegoro kembali dibawa ke panggung yang lebih luas. Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro akan mementaskan lakon “Lemah Ninggal Warah” di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, pada Sabtu (15/8/2026) pukul 20.00 WIB.

Pementasan yang disutradarai Oky Dwi Wicahyo tersebut tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membawa refleksi tentang tanah, warisan leluhur, himpitan ekonomi hingga ambisi dan kekuasaan.

Oky menjelaskan, lakon “Lemah Ninggal Warah” tidak berhenti pada persoalan utang piutang, kemiskinan, maupun upaya mempertahankan tanah warisan. Cerita tersebut mencoba melihat bagaimana manusia menghadapi berbagai tekanan yang dapat perlahan mengikis nilai-nilai yang diwariskan generasi sebelumnya.

"Lakon ‘Lemah Ninggal Warah’ bukan sekadar bercerita tentang utang piutang, kemiskinan, atau menjaga tanah warisan. Lakon ini mengisahkan bagaimana manusia diuji ketika himpitan ekonomi, ambisi, dan kekuasaan perlahan menggerus nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur," kata Oky.

Menurutnya, kata “Lemah” yang berarti tanah memiliki makna yang jauh lebih luas. Tanah tidak hanya dimaknai sebagai tempat berpijak atau aset yang memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kehidupan, martabat, sekaligus identitas.

Sementara “Ninggal Warah” dimaknai sebagai pesan atau petuah yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

“Lemah” dan “Ninggal Warah” kemudian menjadi dua gagasan penting dalam lakon tersebut. Keduanya menggambarkan hubungan manusia dengan tanah sekaligus tanggung jawab terhadap warisan nilai yang ditinggalkan para pendahulu.

Oky menilai, persoalan muncul ketika warisan tersebut hanya dipandang sebagai komoditas. Dalam kondisi itu, sesuatu yang dipertaruhkan bukan hanya kepemilikan atas tanah.

"Ketika warisan itu dipandang semata sebagai komoditas, yang terancam hilang bukan hanya tanahnya, tetapi juga ingatan, tanggung jawab, dan kemanusiaan yang hidup di atasnya," tutur laki-laki yang akrab disapa Kocin itu kepada blokBojonegoro.com, Rabu (12/8/2026).

Melalui lakon tersebut, Sandur Sedhet Srepet Bojonegoro berupaya menghadirkan seni tradisi sebagai ruang untuk membaca kembali persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Nilai-nilai lokal tidak ditempatkan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, tetapi menjadi bahan perenungan atas persoalan manusia pada masa kini.

Pementasan “Lemah Ninggal Warah” menjadi bagian dari Manajemen Talenta Teater 2026 #4. Pertunjukan ini melibatkan sejumlah seniman dan pekerja panggung, dengan Oky Dwi Wicahyo sebagai sutradara.

Para pemain di antaranya Ahmad Bayhaqi, Dina Lutfia Khoirun Nisa, Moch. Imam Soebachtiar, M. Fianda Ruly Ananta, Bagus Indra Cahya, Siti Muafahri Khasanah, Diky Ahmad Firmansyah, Luthfiana Arwani, M. Fatkhul Mubin A., M. Irhamullah Al Abid, serta sejumlah pemain lainnya.

Dukungan produksi juga datang dari Mukarom sebagai penata musik, Bagus Indra Cahya sebagai penata rias dan kostum, Dimas Adi Putra sebagai penata lighting, Taufik Tri Prasetyo sebagai penata suara, serta M. Fatkhul Mubin A. sebagai penata properti. Sementara Luthfiyana Arwani menangani penataan artistik.

Pertunjukan ini terbuka dan gratis untuk umum. Masyarakat dapat menyaksikan bagaimana Sandur Bojonegoro diterjemahkan ke dalam panggung teater sekaligus menikmati pesan yang dibawa melalui kisah “Lemah Ninggal Warah”.

Pementasan digelar Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 20.00 WIB di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85, Surabaya. [feb/mad]