Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*
blokBojonegoro.com - Dalam menjalankan puasa sunah, terkadang ditemui situasi dimana beberapa puasa sunah bertemu pada waktu yang sama. Salah satu contohnya adalah puasa sunah Asyura yang bertepatan dengan hari Senin atau Kamis. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Bolehkah menggabungkan dua niat puasa sunah?
Menggabung niat beberapa puasa sunah dalam istilah fikih namanya tasyrikun niat, yaitu menggabungkan beberapa niat dalam satu ibadah. Dan hukum menggabungkan niat ini adalah boleh, dan dinyatakan mendapatkan pahala keduanya. Seperti puasa sunah Asyura bertepatan dengan hari Kamis, maka boleh dalam satu puasa diniatkan puasa Asyura sekaligus puasa sunah Kamis.
Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar Al-Bujairami, dalam kitab Tuhfatul Habib 'ala Syarhil Khatib al-Bujairimi 'ala Syarhil Minhaj, [ juz II halaman 404 ]. Menjelaskan:
تَنْبِيهٌ: قَدْ يُوجَدُ لِلصَّوْمِ سَبَبَانِ، كَوُقُوعِ عَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ يَوْمَ اثْنَيْنِ أَوْ خَمِيسٍ، وَكَوُقُوعِهِمَا فِي سِتَّةِ شَوَّالٍ فَيَتَأَكَّدُ صَوْمُ مَا لَهُ سَبَبَانِ رِعَايَةً لِكُلٍّ مِنْهُمَا، فَإِنْ نَوَاهُمَا حَصَلَا كَالصَّدَقَةِ عَلَى الْقَرِيبِ صَدَقَةً وَصِلَةً وَكَذَا لَوْ نَوَى أَحَدَهُمَا فِيمَا يَظْهَرُ.
Artinya: "Peringatan, terkadang ditemukan puasa memiliki dua sebab, seperti hari Arafah atau Asyura yang jatuh pada hari Senin atau Kamis, atau kedua hari tersebut jatuh dalam enam Syawal. Dalam kondisi seperti ini, puasa tersebut menjadi lebih ditekankan karena mengandung dua sebab, dengan memperhatikan keutamaan masing-masing. Jika seseorang berniat puasa untuk keduanya sekaligus, maka pahala dari kedua puasa tersebut dapat diperoleh, sebagaimana sedekah kepada kerabat yang sekaligus menjadi bentuk sedekah dan silaturahmi. Begitu juga, jika ia hanya berniat untuk salah satunya, berdasarkan apa yang tampak jelas."
Senada dengan Al bujairimi, Al ‘Allamah As Sayyid Al Bakriy bin Sayyid Muhammad Syatha Ad Dimyathi Rahimahullah menjelaskan:
اعلم أنه قد يوجد للصوم سببان: كوقوع عرفة أو عاشوراء يوم اثنين أو خميس، أو وقوع اثنين أو خميس في ستة شوال، فيزداد تأكده رعاية لوجود السببين، فإن نواهما: حصلا – كالصدقة على القريب، صدقة وصلة – وكذا لو نوى أحدهما – فيما يظهر -.
Artinya: "Ketahuilah puasa itu diperoleh dengan dua sebab: seperti jatuhnya hari ‘Arafah atau hari ‘Asyura di hari Senin atau Kamis, atau jatuhnya Senin atau Kamis bertepatan dengan enam hari Syawwal. Maka, penekanan untuk menjaganya jadi bertambah kuat, jika meniatkan langsung keduanya maka sah. Seperti sedekah kepada kerabat sendiri mendapatkan dua hasil: sedekah dan silaturrahim. Demikian juga jika berpuasa dengan dua niat menurut pendapat yg benar (adalah sah)." (I’aanatuth Thalibiin, 2/307)
Bahkan, menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunah pun boleh dan sah, walaupun tidak lepas dari khilaf ulama'. Dan bagi ulama yang memperbolehkan penggabungan itu, setelah berniat puasa qadha, harus berniat puasa sunah juga, dengan begitu dapat diperoleh pahala kedua puasa secara bersamaan.
Misalnya niat puasa qadha Ramadan digabungkan dengan niat puasa Senin atau qadha digabung dengan puasa Tasu'a. Dalam kitab Baghiyah al-Mustarsyidin merangkum pendapat para ulama.
(مشألة: ك) ظَاهِرُ حَدِيْث "وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ" وغَيْرِهِ مِنَ الأَحَادِيْثِ عَدَمُ حُصُولِ السِّتِّ إذَا نَوَاهَا مَعَ قَضَاء رَمَضانَ , لكِنْ صَرَّحَ ابنُ حَجَرٍ بِحُصُولِ أَصْلِ الثَّوَابِ لِإِكْمَالِهِ إِذَا نَوَاهَا كَغَيْرِهَا مِنْ عَرَفَةَ وعَاشُوراء, بَلْ رَجَّحَ (م ر) حُصُول أصْلِ ثَوَابِ سَائِر التَّطَوُّعَاتِ مَعَ الفَرْضِ وإنْ لَمْ يَنْوِهَا, مَلَم يُصَّرفْهُ صَارِفٌ , كَأَن قَضى رَمَضَانَ في شَوَّالٍ, وقَصَدَ قَضَاء السِّتِّ مِنْ ذِي الْقَعْدَةِ, ويُشَنُّ صَومُ السِّتِّ وإنْ أفْطَرَ رَمَضَانَ اه قلت: واعتمد أبُو مخرمة تَبعًا للشنهودي عَدَم حُصُوْلِ وَاحِدٍ مِنْهَا إذَا نَوَاهَا مَعًا , كَمَا لَوْ نَوى الظُّهْرَ وسُنَّتَهَا, بَلْ رَجَّحَ أَبُو مَخرَمة عَدَمَ صِحَّةِ صَوْمِ السِّتِّ لِمَنْ عَلَيْهِ قَضاءُ رَمَضَأنَ مُطْلَقًا
Artinya: (Masalah: K) Makna eksplisit hadis "dan ia mengikutkannya dengan enam hari dari bulan Syawal" serta hadis-hadis lainnya menunjukkan bahwa pahala puasa enam hari Syawal tidak diperoleh apabila seseorang meniatkannya bersamaan dengan puasa qadha Ramadan.
Namun, Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan bahwa pokok pahala (asal ats-tsawab) puasa enam Syawal tetap diperoleh karena telah melakukan puasa tersebut, apabila ia meniatkannya bersama qadha, sebagaimana halnya puasa sunnah Arafah dan Asyura.
Bahkan, Ar-Ramli (م ر) lebih menguatkan bahwa pokok pahala seluruh ibadah sunnah yang bertepatan dengan ibadah wajib tetap diperoleh bersama pelaksanaan ibadah wajib tersebut, meskipun tidak diniatkan secara khusus, selama tidak ada faktor yang menghalanginya. Misalnya seseorang mengqadla puasa Ramadan pada bulan Syawal, sementara ia bermaksud melaksanakan puasa enam hari Syawal pada bulan Dzulqa'dah.
Dan disunnahkan puasa enam hari Syawal meskipun seseorang pernah berbuka (tidak berpuasa penuh) pada bulan Ramadan. Aku (penulis) berkata: Abu Makhramah, mengikuti pendapat asy-Syanhudi, berpegang pada pendapat bahwa tidak diperoleh satu pun dari keduanya apabila seseorang meniatkan qadha dan puasa enam Syawal sekaligus. Sebagaimana seseorang yang meniatkan salat Zuhur dan sunnah rawatib Zuhur dalam satu salat.
Bahkan Abu Makhramah lebih menguatkan pendapat bahwa puasa enam hari Syawal tidak sah dilakukan oleh orang yang masih mempunyai tanggungan qadha Ramadan, secara mutlak."
Berdasarkan uraian diatas, jelas terjadi perbedaan pendapat ulama mengenai sah atau tidaknya menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa sunah Syawwal. Ada yang mengatakan sah, menggabungkan dua puasa. Akan tetapi, lebih baik jika orang memiliki tanggungan puasa qadha Ramadan itu membayar terlebih dahulu puasanya, untuk keluar dari khilafnya ulama'. [mu]
*Dewan perumus LBM PCNU Bojonegoro dan Ketua LBM PC KESAN LANGITAN Bojonegoro
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published