Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menilai media massa turut berkontribusi terhadap meningkatnya Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jawa Tengah pada 2025.
Sebagai informasi, nilai IDI Jawa Tengah pada 2025 mencapai 86,72 atau meningkat 0,88 poin dibanding tahun sebelumnya. Capaian tersebut menempatkan Jawa Tengah di peringkat ketiga secara nasional.
Atas capaian itu, Taj Yasin memberikan apresiasi khusus kepada media di Jawa Tengah yang dinilai memiliki peran penting dalam peningkatan indeks demokrasi.
"Penghargaan itu sebenarnya bukan untuk Pemprov saja, tetapi untuk kita semua, khususnya para media," ungkap Taj Yasin saat memberikan keynote speech dalam acara Jateng Media Summit 2026 di Hotel Khas Semarang, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, media memiliki kontribusi besar dalam menjaga keterbukaan informasi sekaligus memperkuat partisipasi publik. Kedua hal tersebut menjadi komponen penting dalam penilaian indeks demokrasi.

"Indeks demokrasi itu lahir dari keterlibatan masyarakat maupun keterlibatan media. Maka capaian ini perlu kita genjot bersama-sama," paparnya.
Dalam forum yang diikuti sekitar 100 media lokal dan 30 homeless media itu, Taj Yasin juga menyoroti perubahan besar ekosistem media di era digital.
Ia menilai media massa saat ini tidak hanya bersaaing dengan sesama perusahaan pers, tetapi juga menghadapi derasnya arus media sosial dan pertumbuhan homeless media yang berkembang pesat di ruang digital.
"Media mainstream sekarang tantangannya adalah media sosial dan homeless media. Dan ternyata homeless media ini minatnya luar biasa," ujarnya.
Meski demikian, ia menilai media arus utama tetap memiliki sejumlah keunggulan, seperti verifikasi data, penerapan kode etik jurnalistik, serta tanggung jawab terhadap informasi yang dipublikasikan.
Di sisi lain, Taj Yasin juga mengakui homeless media memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens secara lebih spesifik. Selain itu, penyajian kontennya dinilai lebih cepat dan visualnya lebih sesuai dengan pola konsumsi informasi generasi saat ini.
Karena itu, ia tidak ingin media mainstream dan homeless media saling berhadapan. Sebaliknya, ia mendorong keduanya untuk berkolaborasi demi membangun ruang informasi yang sehat dan mendukung demokrasi.
"Ada pertemuan antara media mainstream dengan homeless media ini harapannya ada titik temu. Karena tujuan kita sama, mencerdaskan masyarakat dan mengawal negara ini," katanya.
Menurut Taj Yasin, kolaborasi tersebut penting agar ruang digital tidak dipenuhi informasi menyesatkan maupun hoaks. Ia khawatir jika homeless media berkembang tanpa pendampingan media yang memiliki standar jurnalistik, masyarakat akan semakin sulit membedakan informasi valid dan tidak valid.
Selain itu, ia juga menilai media berperan penting membantu pemerintah membaca persoalan masyarakat secara cepat. Salah satu contohnya adalah kasus pemutusan kontrak kerja di sebuah perusahaan di Kabupaten Sragen yang sempat ramai diberitakan media.
Menurutnya, setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik, pemerintah dapat segera turun tangan sehingga sebagian pekerja terdampak berhasil dialihkan ke perusahaan lain.
"Inilah pentingnya media. Banyak hal bisa cepat kita tangani karena adanya pemberitaan,” tegasnya.
Sementara itu, penyelenggara Jateng Media Summit 2026, Suwarjono, mengatakan forum tersebut memang dirancang untuk mempertemukan media lokal, media digital, hingga homeless media guna membahas masa depan industri media di Jawa Tengah.
Selain diskusi, kegiatan juga diisi workshop pengelolaan website pemerintah dan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bagi media lokal.
"Kita ingin media di Jawa Tengah terus hidup dan mampu bertransformasi. Kalau medianya sehat secara bisnis, maka kontennya juga akan berkualitas," ujar Suwarjono. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published