Taubat Ekologis, PC IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Lakut dan Diklatpel
Pembukaan Lakut dan Diklatpel yang digelar PC IPNU-IPPNU Bojonegoro

Kontributor: Fajar Ulinuha

blokBojonegoro.com - Pengurus Cabang (PC) IPNU–IPPNU Kabupaten Bojonegoro menegaskan perannya sebagai "dapur" kader Nahdlatul Ulama (NU) melalui Latihan Kader Utama (Lakut) dan Diklat Pelatih (Diklatpel). Kegiatan berlangsung di Ademos Indonesia, Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, 25–28 Desember 2025.

Puluhan kader terpilih dari berbagai Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Bojonegoro mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Lakut dan Diklatpel tidak sekadar menjadi agenda rutin kaderisasi, tetapi dirancang sebagai ruang penguatan ideologi, kepemimpinan, sekaligus kesadaran sosial-ekologis kader muda NU.

Ketua PC IPNU Bojonegoro, Achmad Nashiruddin, menjelaskan bahwa pemilihan Ademos Indonesia bukan tanpa alasan. Ademos yang mengusung slogan “Sinau Bareng, Siapapun Kapanpun Boleh Datang” dinilai sejalan dengan spirit IPNU–IPPNU sebagai organisasi pelajar yang inklusif dan terbuka bagi siapa pun.

“IPNU–IPPNU adalah rumah belajar bagi anak muda, khususnya pelajar. Disinilah ruang itu tumbuh dan dipertegas. Kami menekankan pentingnya taubat ekologis sebagai tanggungjawab moral kader terhadap krisis lingkungan yang semakin nyata,” ungkapnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Camat Tambakrejo, Kasmari, yang secara langsung membuka acara. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa gagasan taubat ekologis sangat relevan dengan kondisi kebencanaan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, baik di tingkat nasional maupun daerah, termasuk Kabupaten Bojonegoro.

“Bencana yang terus berulang harus menjadi peringatan serius. Anak muda, termasuk kader IPNU–IPPNU, harus menjadi pelopor kesadaran lingkungan,” tegasnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh PW IPNU Jawa Timur yang diwakili M. Afifudin, Wakil Bendahara PW IPNU Jatim. Ia menilai pemilihan lokasi di Tambakrejo, khususnya Desa Dolokgede, memiliki makna historis dan kultural yang kuat.

“Banyak tokoh besar lahir dari Tambakrejo. Harapannya, dari Lakut dan Diklatpel ini juga lahir kader-kader besar yang kelak memberi kontribusi nyata bagi NU dan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, PCNU Bojonegoro melalui Gus Jakfar menekankan bahwa kaderisasi IPNU–IPPNU adalah fondasi keberlangsungan Nahdlatul Ulama di masa depan.

“IPNU–IPPNU adalah pintu awal kader NU. Tanpa proses kaderisasi yang serius hari ini, maka 20 tahun ke depan NU hanya akan menjadi nama tanpa ruh,” tandasnya.

Selama empat hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi strategis mulai dari penguatan Aswaja sebagai manhaj berpikir, kepemimpinan transformatif, metodologi pelatihan, hingga isu-isu kontemporer yang dihadapi pelajar dan generasi muda. Lakut dan Diklatpel ini diharapkan melahirkan kader inti dan pelatih yang tidak hanya militan secara organisasi, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial dan lingkungan. [uha/mad]