Reporter: Muhammad
blokBojonegoro.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya pendekatan keagamaan sebagai garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Menag saat menerima audiensi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol. Suyudi Ario Seto di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, beberapa hari lalu.
Menurut Menag, tantangan besar ke depan adalah bagaimana pesan-pesan pencegahan narkoba dapat masuk ke ruang-ruang keagamaan, terutama rumah ibadah. Ia menilai, pendekatan agama memiliki daya sentuh moral dan spiritual yang kuat untuk membangun kesadaran masyarakat.
“Ke depan kita harus melakukan pendekatan agama di rumah ibadah. Para penceramah memiliki posisi strategis untuk menyebarluaskan larangan dan dampak negatif narkoba kepada umat,” ujar Menag.
Menag menjelaskan, Kementerian Agama memiliki tidak kurang sepuluh potensi besar yang dapat digerakkan secara sistematis dalam upaya pencegahan narkoba. Potensi tersebut meliputi penyuluh agama yang tersebar hingga pelosok, guru agama, imam masjid, remaja masjid, organisasi kemasyarakatan Islam beserta badan otonomnya, pesantren, majelis taklim, para kiai dan ustaz/ustazah, hingga perguruan tinggi keagamaan Islam negeri dan swasta.
“Kalau sepuluh potensi ini kita gerakkan bersama, dampaknya akan luar biasa. Kita bisa melakukan pelatihan, sosialisasi, dan penguatan pesan moral agar program-program BNN benar-benar sampai ke akar rumput,” tegas Menag.
Ia menambahkan, Kemenag siap berkolaborasi untuk menyukseskan program ANANDA BERSINAR (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak) dan IKAN BERSINAR (Integrasi Kurikulum Anti Narkoba). Menurut Menag, kedua program tersebut sejalan dengan misi Kementerian Agama dalam membangun generasi beriman, berakhlak, dan berdaya tahan terhadap berbagai ancaman sosial.
“Insya Allah, kurikulum dari BNN bisa kita tindak lanjuti. Pendekatan agama tidak untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangun kesadaran, keteguhan sikap, dan keberanian anak-anak kita menolak narkoba,” ujarnya.
Menag juga menekankan bahwa agama memiliki kekuatan menyentuh dimensi akal dan batin manusia. Ketika kesadaran akal tersentuh, lanjutnya, maka psikis dan fisik akan mengikuti.
“Agama itu menyentuh akal. Kalau akalnya sudah tersentuh, maka psikis dan fisiknya akan ikut berubah. Karena itu pendekatan keagamaan sangat relevan, termasuk dalam rehabilitasi korban narkotika yang harus dilakukan secara manusiawi dan berbasis kasih sayang,” kata Menag.
Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto mengapresiasi dukungan Kementerian Agama dalam pencegahan narkoba, termasuk implementasi awal kurikulum anti narkotika di MAN 1 Jakarta. Ia menjelaskan, kurikulum IKAN BERSINAR dirancang untuk diterapkan mulai dari PAUD hingga pendidikan tinggi dan akan diuji coba di lima provinsi.
“Data terbaru BRIN tahun 2025 menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 2,11 persen atau sekitar 4,1 juta orang. Sebanyak 85 persen kasus berawal dari pergaulan. Karena itu, edukasi sejak dini menjadi kunci,” ujar Suyudi.
Ia menambahkan, kerjasama dengan Kementerian Agama sangat strategis karena Kemenag merupakan ujung tombak moral bangsa melalui jaringan tokoh agama, pendidik, dan lembaga keagamaan.
Audiensi ini menjadi langkah awal penguatan sinergi antara Kementerian Agama dan BNN dalam membangun ketahanan moral generasi muda melalui pendekatan pendidikan, keagamaan, dan kemanusiaan demi mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba. [mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published