Penyerapan Jagung Bulog Bojonegoro Baru 180 Ton
Selain penyerapan beras, Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro, juga terus melakukan penyerapan Jagung ke petani secara langsung.
Selain penyerapan beras, Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro, juga terus melakukan penyerapan Jagung ke petani secara langsung.
Cadangan beras digudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro, kini telah tersedia 31.500 ribu ton. Dengan stok cadangan itu bisa digunakan untuk pelaksanaan Operasi Pasar (OP) dan pemenuhan kebutuhan beras untuk daerah lain (Movreg).
Serapan beras Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro dari Januari hingga April ini sebanyak 3 ribu ton, sehingga total stok beras di gudang Bulog kini secara keseluruhan ada 14.500 ton. Jumlah tersebut Bulog Bojonegoro menjamin stok beras hingga Ramadan aman.
Cadangan beras di gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro, masih tersedia 12 ribu ton. Walaupun begitu, cadangan beras tersebut hanya digunakan saat Operasi Pasar (OP) dan untuk menyalurkan bantuan tanggap bencana.
Sejak dibukanya penyerapan baru komoditi Jagung pada 2019 ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro baru melakukan penyerapan jagung sebesar 100 ton. Meski begitu serapan jagung tersebut langsung dijual kembali ke perusahaan yang membutuhkan.
Penyerapan Jagung Juga Sebagai Pemenuhan Pakan Ternak Ayam Reporter : M Safuan blokBojonegoro.com - Serapan jagung yang mulai dilakukan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro, selain untuk persedian stok, juga diperuntukkan untuk pemenuhan pakan ayam petelur. Oleh karenya, penjualan jagung juga menyasar kepada peternak ayam. Hal itu diugkapkan oleh Waka Bulog Sub Divre Bojonegoro, M Yandra Darajat. Menurutnya penyerapan jagung yang dilakukan oleh Bulog itu guna menjalankan aturan dari Permendag selain penyerapan beras Bulog juga diperkenankan pada tahun ini untuk menyerap Jagung. "Namun dalam penyerapan jagung itu, Bulog menyerap jagung kering yang sudah pipilan dari petani," cakap pria yang disapa Yandra. Sedangkan untuk HPP yang telah ditetapkan yakni sebesar Rp3.150 per kilogram. Meski begitu, HPP yang ditetapkan itu, sebagai upaya pengendalian harga jual jagung. Sebab, saat memasuki masa panen raya, harga jagung di tingkat petani akan turun drastis. Dalam penyerapan jagung di lapangan, Bulog menerapkan 2 skema yakni skema yang pertama membeli jagung ke petani kemudian dijual kembali (By Self) dan sekema yang kedua yaitu membeli jagung kemudian dijadikan stok digudang (By Stock). "Dengan sistem skema itu, Penjualan jagung, juga bakal menyasar ke peternak ayam besar yang diperuntukan untuk pemenuhan pakan ayam," imbuh Yandra. Meski dalam penyerapan jagung ini belum ditargetkan, namun Bulog Sub Divre Bojonegoro, tetap bakal mengoptimalkan penyerapan jagung di 3 wilayah yakni Bojonegoro, Tuban dan Lamongan. Walaupun begitu, prediksinya dalam penyerapan Jagung itu nantinya hanya 2 Kabupaten dirasa penyerapannya bisa maksimal yakni Kabupaten Tuban dan Lamongan. [saf/lis]
Pada tahun 2019 ini upaya penyerapan jagung juga bakal dilakukan oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Bojonegoro. Hal itu dilakukan sebagai optimalisasi harga jagung saat harga jual turun kala masuk masa panen.
Tahun 2019 ini, Bulog Sub Divre III Bojonegoro tengah mempersiapkan pergerakan beras antar gudang atau Movenas ke ProviÂnsi Nusa Tenggara TiÂmur (NTT) sebanyak 6 ribu ton setara berÂas. Pengiriman beras ke NTT salah satunya untuk pemerataan swasembada pangan.
Penjualan beras renceng atau beras premium dalam kemasan ekonomis di Bojonegoro, diklaim Badan Urusan Logistik (Bulog) Bojonegoro, banyak diminati oleh masyarakat. Terlebih lagi, kalangan mahasiswa.
Penyerapan beras Bulog Sub Divre III Bojonegoro tahun 2018 ini tidak memenuhi target. Hingga saat ini, serapan beras di tiga wilayah Kabupaten Bojonegoro, Tuban dan Lamongan hanya tercapai 41.101 ribu ton atau 56 persen dari target 76.301 ribu ton beras.