Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Di tengah perkembangan Kabupaten Bojonegoro yang kini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi (migas), ada jejak sejarah panjang yang ditinggalkan para pemimpin terdahulu. Salah satunya adalah Kanjeng Soemantri, Bupati Bojonegoro yang menjabat pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan turut mewarnai perjalanan daerah ini.
Makam Kanjeng Soemantri atau Raden Adipati Aryo Koesoemadinegoro menjadi salah satu tujuan ziarah Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono bersama Wakil Bupati, Nurul Azizah dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Jumat (16/10/2026).
Ziarah tersebut, merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349. Selain mendoakan para leluhur, kegiatan ini menjadi momentum untuk kembali mengenang sosok-sosok yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah Kabupaten Bojonegoro.
Kanjeng Soemantri merupakan Bupati Bojonegoro ke-21 yang memimpin pada periode 1916–1936. Ia menggantikan ayahnya, Raden Adipati Aryo Rekso Koesomo, yang menjabat sebagai Bupati Bojonegoro ke-20 pada periode 1890–1916.
Kanjeng Soemantri lahir di Surabaya pada 19 Maret 1888 dan wafat pada 30 Desember 1936. Informasi mengenai tanggal kelahiran dan wafatnya tercantum pada nisan makamnya yang berada di Jalan Basuki Rahmad, Gang Kyai Mojo, Kelurahan Mojokampung, Kecamatan Bojonegoro.
Di kompleks pemakaman tersebut, makam kedua orang tuanya juga berada bersebelahan dengan makam Kanjeng Soemantri.
Di balik perjalanan kepemimpinannya, Kanjeng Soemantri dikenal memiliki kontribusi terhadap perkembangan kehidupan masyarakat Bojonegoro, termasuk dalam pembangunan tempat ibadah.
Salah satu jasa yang dikenang hingga sekarang adalah perannya sebagai pemrakarsa renovasi Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada tahun 1925. Masjid yang berada di jantung Kota Bojonegoro tersebut, menjadi salah satu bangunan penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
Selain itu, Kanjeng Soemantri juga memiliki kaitan dengan perjalanan sejarah industri minyak di Kabupaten Bojonegoro, daerah yang hingga kini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil migas di Jawa Timur.
Kanjeng Soemantri merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam sejarah sumur minyak di kawasan Kawengan.
Meski demikian, sumur minyak tersebut sebelumnya dirintis oleh ayah Kanjeng Soemantri, Raden Adipati Aryo Rekso Koesomo, yang dikenal dengan sebutan Eyang Sepuh.
Kisah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang industri perminyakan di Bojonegoro, yang kemudian berkembang menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian daerah.
Sementara itu, keturunan Kanjeng Soemantri kini telah memasuki generasi kelima. Sebagian keturunannya tinggal di luar Bojonegoro, termasuk di Jakarta dan Australia. [riz/mad]