Reporter: Muharrom
blokBojonegoro.com - Sempat terjadi gelombang penolakan dan aksi demonstrasi, akhirnya kursi Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya akhirnya kembali memiliki pejabat definitif. Prof. Dr. Masdar Hilmy, S.Ag., M.A., Ph.D. dilantik sebagai Rektor UINSA periode 2026–2030 di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Pelantikan tersebut sekaligus membawa Masdar kembali ke kursi yang pernah didudukinya pada periode 2018–2022. Foto gladi bersih pelantikan Masdar mulai beredar di media sosial pada Kamis siang di beberapa grup whatsapp. Foto tersebut memperlihatkan Masdar dalam prosesi pelantikan sebagai Rektor UINSA periode 2026–2030. Saat berita itu diterbitkan pukul 12.20 WIB, prosesi di Jakarta disebut masih berlangsung.
Kembalinya Masdar menutup sementara rangkaian panjang pergantian kepemimpinan UINSA yang sejak pertengahan 2026 diwarnai polemik, demonstrasi mahasiswa, pembahasan di DPR RI, pengunduran diri rektor, hingga penjaringan ulang dari awal.
Masdar bukan nama baru di lingkungan UINSA. Sebelum kembali terpilih, guru besar kelahiran Tegal, 2 Maret 1971, itu pernah memimpin UINSA pada periode 2018–2022. Seusai masa kepemimpinannya, posisi rektor beralih kepada Prof. Akh. Muzakki yang dilantik pada 6 Juni 2022. Data resmi UINSA juga mencatat Masdar sebagai dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dengan latar pendidikan magister di McGill University, Kanada, serta doktor di University of Melbourne, Australia.
Empat tahun kemudian, nama Masdar kembali muncul dalam bursa Rektor UINSA periode 2026–2030. Namun proses menuju pelantikan kali ini tidak berjalan sederhana.
Gejolak Rektor UINSA Surabaya
Sebelumnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik Akh. Muzakki sebagai Rektor UINSA periode 2026–2030 pada 15 September 2026. Pelantikan tersebut merupakan periode kedua Muzakki setelah memimpin kampus pada 2022–2026.
Sehari setelah pelantikan, mahasiswa UINSA menggelar demonstrasi besar di kampus Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Mereka menolak Muzakki kembali menjabat dan mendesaknya mundur. Penolakan terhadap proses pemilihan rektor sebenarnya sudah muncul sejak aksi mahasiswa pada 15 Juli 2026.
Gelombang protes kemudian berlanjut beberapa hari. Penolakan juga datang dari sejumlah dosen, guru besar, dan alumni. Polemik akhirnya dibawa ke Komisi VIII DPR RI.
Pada 22 September, Komisi VIII menggelar rapat dengan Menteri Agama dan mendesak Kementerian Agama mengambil langkah terhadap persoalan kepemimpinan UINSA. Muzakki kemudian menyampaikan surat pengunduran diri pada malam 22 September.
Sehari berikutnya, Menteri Agama menerbitkan Keputusan Menteri Agama Nomor 060729/MA.KP.07/09/2026 yang memberhentikan Muzakki dengan hormat. Dirjen Pendidikan Islam Prof. Amien Suyitno selanjutnya ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Rektor UINSA sampai terpilihnya rektor definitif.
Periode kedua Muzakki praktis berlangsung hanya sekitar delapan hari. Setelah pergantian tersebut, proses pemilihan Rektor UINSA diulang dari awal.
UINSA membuka penjaringan baru mulai 29 September hingga 2 Oktober 2026. Setelah verifikasi administrasi, sebanyak 15 guru besar dinyatakan memenuhi syarat sebagai calon.
Mereka terdiri atas Wahidah Zein Br Siregar, Abdul Kadir Riyadi, Mohammad Thohir, Titik Triwulan Tutik, Masdar Hilmy, Abdul Chalik, Khoirun Niam, Evi Fatimatur Rusydiyah, Zumrotul Mukaffa, Sri Warjiyati, Rubaidi, Husniyatus Salamah Zainiyati, Mohammad Kurjum, Achmad Muhibin Zuhri, dan Nur Kholis.
Pada 7 Oktober, ke-15 nama tersebut menjalani tahapan pemberian pertimbangan kualitatif dalam rapat tertutup Senat UINSA. Hasil pertimbangan kemudian dibawa ke Kementerian Agama untuk memasuki tahap seleksi berikutnya.
Dalam pemberitaan yang berkembang seusai sidang Senat, Masdar Hilmy disebut berada di jajaran atas hasil pertimbangan kualitatif. Namun, hasil pemeringkatan lengkap Senat tidak diumumkan secara resmi kepada publik. Namun, sumber terpercaya menyebut Masdar sebagai salah satu kandidat yang dinilai menonjol dalam proses tersebut.
Selanjutnya, Komisi Seleksi Kementerian Agama menguji 15 calon rektor pada 12–13 Oktober 2026. Tahap itu menjadi pintu terakhir sebelum Komsel menyerahkan tiga nama kepada Menteri Agama untuk ditentukan satu sebagai rektor definitif.
Bagi Masdar, pelantikan kali ini mempunyai cerita tersendiri. Ia pernah memimpin UINSA pada 2018–2022 sebelum digantikan Muzakki. Empat tahun kemudian, setelah pergantian kepemimpinan yang diwarnai gejolak, Masdar kembali dipercaya memegang pucuk pimpinan universitas.
Masdar dikenal memiliki rekam jejak panjang di dunia akademik. Profil dosen resmi UINSA mencatat ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 1990–1994. Pendidikan magister ditempuh di Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, pada 1997–1999. Sedangkan gelar doktor diraih dari University of Melbourne, Australia, pada 2004–2007.
Masdar juga dikenal produktif menulis mengenai Islam, demokrasi, radikalisme, multikulturalisme, dan perubahan sosial-keagamaan. Sejumlah karyanya dimuat dalam jurnal akademik maupun media massa. Repository UINSA mencatat berbagai publikasinya mengenai Islam Indonesia, demokrasi, dan identitas keagamaan. [mad]