Reporter: Rizki Nurdiansyah
blokBojonegoro.com - Pemkab Bojonegoro menggelar bimbingan teknis (Bimtek) Program Gayatri bagi para penerima manfaat sebagai langkah awal memastikan keberhasilan program pengentasan kemiskinan melalui usaha ayam petelur. Melalui Bimtek tersebut, penerima manfaat dibekali pengetahuan dan keterampilan dari hulu hingga hilir agar mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro mengatakan, bimtek Program Gayatri mulai dilaksanakan pada 21 Juli 2026 dan direncanakan berlangsung hingga akhir Agustus 2026 untuk seluruh keluarga penerima manfaat (KPM) di 28 kecamatan se-Kabupaten Bojonegoro.
Menurutnya, total penerima manfaat Program Gayatri pada tahun 2026 mencapai 4.400 KPM yang telah melalui proses penyandingan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) oleh Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, khususnya kelompok masyarakat pada desil 1 hingga 5.
drh. Indra, mengatakan pada pelaksanaan Bimtek hari ini Selasa (21/07/2026) terdapat tiga lokasi yang digunakan secara bersamaan. Yakni di Pendopo Kecamatan Dander yang diikuti 80 KPM, Pendopo Kecamatan Sumberrejo sebanyak 80 KPM, dan Balai Desa Sambongrejo sebanyak 82 KPM.
“Hari ini ada tiga lokasi. Di Pendopo Kecamatan Dander ada 80 KPM, di Pendopo Kecamatan Sumberrejo ada 80 KPM dan di Balai Desa Sambongrejo sebanyak 82 KPM,” ujar drh. Indra
Untuk memastikan keberhasilan program, Kepala Disnakkan, Sekretaris Dinas, dan Kepala Bidang secara berpencar mendatangi tiga lokasi berbeda setiap harinya untuk memberikan pembekalan kepada para peserta. Pendampingan ini dilakukan guna memastikan penerima manfaat memiliki bekal pengetahuan yang cukup dalam mengelola usaha ayam petelur.
Dalam Bimtek tersebut, para penerima manfaat dibekali ilmu pengetahuan dari hulu hingga hilir, mulai dari teknik budidaya ayam petelur yang baik, pengelolaan pakan ternak, kesehatan hewan, hingga strategi pemasaran hasil produksi telur.
Materi disampaikan oleh praktisi peternak ayam petelur yang telah berhasil mengembangkan usahanya, penyuluh dari Kementerian Pertanian terkait penguatan kelembagaan, serta dokter hewan dan petugas teknis.
Pelaksanaan Bimtek juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Dalam sejumlah kegiatan turut hadir Bupati Bojonegoro, Wakil Bupati Bojonegoro, Sekretaris Daerah, Asisten Daerah, perwakilan Komisi B DPRD Kabupaten Bojonegoro, serta Kejaksaan Negeri Bojonegoro.
Sekretaris Disnakkan Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini, menjelaskan bahwa Program Gayatri dirancang bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan menjadi “kail” bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan secara berkelanjutan.
“Salah satu tujuan Program Gayatri adalah untuk mengatasi angka kemiskinan yang masih tinggi melalui pemberian aset produktif sebagai kail untuk menghasilkan pendapatan,” ujarnya.
Menurut Elfia, Kabupaten Bojonegoro memiliki potensi besar dalam pengembangan usaha ayam petelur. Sebelum adanya Program Gayatri, Kabupaten Bojonegoro masih mengalami kekurangan pasokan telur lebih dari 9.000 ton per tahun sehingga harus mendatangkan telur dari luar daerah.
Di sisi lain, Kabupaten Bojonegoro juga merupakan salah satu dari lima besar produsen jagung di Jawa Timur yang menjadi bahan baku utama pakan ternak dengan kebutuhan minimal 50 persen dari total komposisi pakan ayam petelur.
“Dengan Program Gayatri, masyarakat penerima manfaat diharapkan dapat memperoleh pemasukan setiap hari dari hasil produksi telur,” imbuhnya.
Terkait turunnya harga telur yang terjadi beberapa waktu lalu, Elfia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan fenomena yang terjadi secara nasional dan bukan disebabkan oleh Program Gayatri. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pun telah melakukan berbagai langkah untuk membantu penyerapan hasil produksi telur masyarakat, salah satunya melalui penerbitan surat edaran kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk turut menyerap hasil produksi telur lokal.
Ia menilai usaha ayam petelur masih memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik. Ketika harga pakan berada pada kisaran Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram dan harga telur Rp24 ribu per kilogram, peternak masih memiliki selisih keuntungan yang dapat diperoleh.
Selain itu, sejumlah peternak telah melakukan berbagai inovasi dengan memanfaatkan maggot, tepung ikan, maupun empon-empon sebagai pakan tambahan untuk menghasilkan telur omega-3 yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Sudah banyak kisah sukses yang muncul. Ada yang langsung bekerja sama dengan BUMDes dalam penyediaan pakan maupun pemasaran telur dengan sistem barter. Ini menunjukkan bahwa Program Gayatri memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dijalankan dengan baik,” tambah Elfia.
Ia juga mengatakan, Program Gayatri akan mempunyai multi effect usaha mulai usaha pakan ternak, telor maupun pullet.
Melalui pendampingan yang komprehensif tersebut, Program Gayatri diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan keluarga penerima manfaat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah dan menjadi salah satu instrumen pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bojonegoro. [riz/mu]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published