Oleh: Usman Roin*
blokBojonegoro.com - Lebaran selain momentum untuk saling bermaaf-maafan antar sesama, juga bagian dari muhasabah atau introspeksi diri. Mengapa?
Selama Ramadan, tentu kesuksesan dalam melakoni puasa, kemudian menyemarakkan ibadah-ibadah di dalamnya perlu untuk ditelaah. Bila memungkinkan, kita memiliki catatan diri dari tahun ke tahun.
Sebagai contoh, di Ramadan kemarin 2025 misal, puasa yang dikerjakan komplit. Tidak ada yang bolong. Atau, yang kini trend dengan istilah mokel. Lalu, ibadah sunah tarawih, witir; kemudian bilamana masih ditambah tahajud, serta khatam Al-Qur’an juga bisa dicatat.
Selanjutnya di 2026 juga sama, berapa hari puasanya mokel? Berapa hari tidak ikut salat tarawih, witir, dan sebagainya! Data-data tersebut hakikatnya sebagai instrumen meminjam bahasa penelitian, introspeksi diri saat lebaran.
Hal itu, agar jangan sampai kita gelo (kecewa) oleh sebab tersindir flyer yang direpost dari group ke group whatsapp berbunyi “Gak poso kok melu rioyo, yo diguyu sing kuoso”. Kurang lebih artinya, tidak ikut puasa kok ikut lebaran, ya ditertawakan oleh Yang Kuasa (Tuhan).
Sampel catatan di atas, hakikatnya penting untuk diri. Artinya, kita memiliki catatan personal untuk kemudian dilakukan upaya perubahan. Jangan kemudian terbalik, upaya perubahan ditelunjukkan kepada orang lain terlebih dahulu, yang giliran diri sendiri belakangan. Bahkan, tidak kunjung dilakukan.
Upaya untuk melakukan perubahan tersebut, tentu perlu ditindaklanjuti pasca Ramadan. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Faisal Ismail (2017:284) dalam bukunya “Islam yang Produktif” bila proses pengendalian nafsu hayawaniyah dan amarah, tidak saja ketika kita puasa di bulan Ramadan. Tetapi, juga di bulan-bulan berikutnya. Menurut beliau, manfaat puasa tidak hanya bisa dirasakan pada bulan Ramadan itu sendiri, tetapi juga di bulan-bulan di luar Ramadan.
Berpijak pada apa yang disampaikan Prof. Faisal, tindak lanjut untuk melakukan perubahan yang terdekat adalah pasca Ramadan. Yakni bulan Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijah, Muharam, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syaban. Adapun untuk jangka panjang adalah Ramadan 1448 H, yang semoga Allah Swt pertemukan kembali.
Program
Pasca Ramadan, wujud perencanaan untuk tidak berhenti melakukan amal kebaikan perlu diprogramkan. Sebagai misal, pelaksanaan puasa meski sunah, tetap bisa dilakukan. Rasulullah bersabda sebagaimana riwayat Imam Muslim No. 1164, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan enam (hari) di bulan Syawal, maka seolah-olah dia berpuasa sepanjang tahun”. Redaksi senada, juga terdapat di Sunan Abu Dawud No. 2432 dan Sunan Ibnu Majah No.1716.
Dalam hal sholat wajib, bisa diprogramkan pula untuk sebisa mungkin berjamaah. Apalagi, kini kehadiran masjid, mushola telah menjamur. Tidak sekadar di desa dan kita, masjid-masjid perkantoran juga sudah mulai hadir. Syukur bila kemudian ingin ditambah sunah qabliyah dan ba’diyahnya.
Pada malamnya, juga bisa diprogramkan pula sunah tahajud. Sementara di pagi harinya, bisa pula diprogramkan shalat sunah duha.
Kemudian perihal membaca Al-Qur’an, bisa diprogramkan pula yakni, dalam sehari bisa tetap membacanya. Syukur, seiring dengan mudah diaksesnya Al-Qur’an digital, membacanya lebih intens diprogramkan sebelum dan sesudah menjalankan jamaah salat wajib.
Adapun perihal bersedekah dan sebagainya, tetap bisa dilakukan baik secara langsung kepada siapa saja yang membutuhkan, atau melalui lembaga amil zakat, infak dan sedekah salah satunya Lazisnu.
Program yang disusun sebagaimana contoh di atas, itulah yang dimaksud oleh Prof. Faisal sebagai kelanjutan menjalankan amaliah ibadah pasca Ramadan. Bukan malah berhenti di level Ramadan, yakni malah menjalankan segala hal yang dilarang, kemudian menjauhi segala hal yang diperintahkan-Nya.
Akhirnya, secuil contoh program di atas, nyatanya bila ditulis, sudah akan menyibukkan diri kita masing-masing. “Seperti” tidak ada waktu untuk melemparkan alamat ketidaksalehan kepada orang lain. Sebab, yang utama di telunjukkan dahulu kepada diri sendiri. Dari diri yang saleh, akan mencipta saleh sosial.
Selamat lebaran untuk kita semua. Semoga kita termasuk orang yang kembali ke fitrah dan menang. Amin ya rabbal ’alamin.
*Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Unugiri.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published