Jumat (27/12/2019), saya dilantik menjadi Kepala Pusat Data Statistik Kriminal dan Teknologi Informasi di Kejaksaan Agung (Kejagung). Sengaja saya menantang diri saya sendiri, mampukah saya membuat gebrakan dan lompatan IT di Kejagung?
Di tanggal 22 Desember, pastinya setiap perempuan Indonesia terutama yang sudah menjadi Ibu dan akan menjadi Ibu berbangga diri. Bagaimana tidak? Ini adalah satu hari dimana arti kata Ibu menjadi semakin bermakna. Ibu-Ibu patut mendapatkan special treatment, dalam bentuk apapun itu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ibu adalah 1 wanita yang telah melahirkan seseorang; atau biasa dipanggil mak, mama, ambu dan sebagainya: 2 sebutan untuk wanita yang sudah bersuami; 3 panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun yang belum. Pengertian dari kata Ibu ini ditujukan untuk setiap perempuan yang sudah melahirkan, namun belakangan makna ini bergeser, karena belum tentu semua perempuan melahirkan. Secara umum, pengertian ini bergeser menjadi setiap perempuan yang telah dewasa.
Era teknologi informasi seperti saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat. Namun di sisi lain, terjadi penurunan minat baca siswa. Perkembangan teknologi informasi yang luar biasa tidak dibarengi kesiapan mental siswa dalam menyikapinya.
Saat ini pendidikan memang mengalami tantangan yang luar biasa. Dunia di luar tembok sekolah dan universitas telah berubah sangatlah besar. Sekarang kita dapat melakukan diskusi virtual walaupun pesertanya berada di berbagai benua. Misalnya, kini sudah muncul penyedia perpustakaan digital. Semua orang dapat mengakses dan mengunduh buku atau jurnal secara gratis. Informasi juga dapat diperoleh dengan mudah lewat berbagai sumber. Kini berkembang kelakar, semua sudah ditangani teknologi, tugas guru apa?
Setiap pagelaran Festival Bengawan (FB), hampir dipastikan ada sesuatu yang unik dan baru. Termasuk pada perhelatan ke 6 kali FB tahun 2019 di Desa Pilanggede, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro.
“SANTRI-bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak santri, yang tawadlu kepada Gusti Allah, tawadlu kepada orang-orang alim kalian namanya santri.†Apa yang disampaikan Gus Mus terkait tafsir santri sangat memberi “peluang†kepada siapa saja untuk dinamakan santri. Terlebih hari ini, Selasa, 22 Oktober 2019, menjadi peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo tahun 2015 lalu.
Seiring dengan peringatan HSN, tentu geliat pesantren secara umum baik salafi (tradisional) maupun khalafi (modern) bersama-sama ikut memeriahkannya dengan berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan monumental, perlombaan hingga upacara seremonial yang dilakukan secara luas oleh kalangan santri diberbagai pondok pesantren.
Tragedi penusukan Menkopolhukam, Wiranto, Kamis (10/10) di Alun-Alun Menes, Pandeglang, Banten, membawa keprihatinan bersama tak terkecuali penulis sebagai guru. Bahkan Presiden Joko Widodo pasca kejadian tersebut langsung memerintahkan Kapolri dan Kepala BIN untuk mengusut tuntas kejadian penyerangan yang juga memakan tiga korban: Kapolsek, ajudan, serta tokoh masyarakat.
Gaung keberhasilan Jaksa di Surabaya dalam penyelamatan aset Negara senilai puluhan triliun terdengar di seluruh Nusantara. Salah satunya adalah Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.
Pada apel peringatan HUT Pramuka ke-58 di Alun-alun Bojonegoro tanggal 14 Agustus 2019 yang lalu, mengangkat isu tentang gerakan peduli lingkungan untuk berkomitmen mengurangi sampah plastik.