Tingkatkan Minat Baca, Relima Bojonegoro Hadirkan Kelas Menulis dengan Konsep Touring Space

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) Lokus Kabupaten Bojonegoro menghadirkan konsep belajar berbeda untuk mendorong minat baca dan literasi masyarakat. Melalui program Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi, peserta diajak belajar sekaligus menjelajahi sejumlah ruang sejarah dan budaya di Bojonegoro.

Program tersebut tidak menggunakan satu ruang kelas secara tetap. Relima menerapkan konsep touring space atau pembelajaran berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya selama enam kali pertemuan sepanjang September 2026.

Relima Lokus Kabupaten Bojonegoro, M. Imron Nasir Salasa, mengatakan konsep tersebut dirancang agar peserta tidak hanya belajar teori menulis, tetapi juga berinteraksi langsung dengan sejarah, budaya, dan realitas sosial-kultural yang ada di Bojonegoro.

Menurut Imron, Relima menempatkan diri sebagai teman belajar dan teman berproses, bukan mentor yang menggurui. Peserta program berasal dari kalangan pelajar SMA, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

"Melalui metode berpindah-pindah tempat ini, peserta tidak hanya diajak duduk di dalam kelas, tetapi diajak berinteraksi langsung dengan sejarah, budaya, serta tokoh-tokoh inspiratif seperti budayawan dan penulis lokal Bojonegoro," ujar laki-laki yang akrab disapa Impong itu kepada blokBojonegoro.com, Senin (21/9/2026).

Program tersebut merupakan bagian dari program literasi pengukuran dampak Relima Perpusnas RI Tahun 2026. Kegiatan dirancang sebagai ruang belajar bersama (co-learning space) yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk membaca, berdiskusi, mengeksplorasi lingkungan, hingga menghasilkan karya.

Sejumlah lokasi strategis di Bojonegoro dimanfaatkan sebagai ruang belajar. Di antaranya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bojonegoro, Museum Rajekwesi, sejumlah tempat bersejarah di Bojonegoro, Sanggar Sandur Sedhet Srépét di Jetak, serta Kendalisada Creative Corner/TBM Pandumukim.

Selama enam kali pertemuan, peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari sesi membaca, tur sejarah dan budaya, diskusi karya bersama budayawan, dapur penulisan kreatif, bedah draf, hingga panggung puitis sebagai acara penutup.

Melalui rangkaian tersebut, peserta tidak hanya diajak mengenal teknik menulis, tetapi juga menggali cerita, memori kolektif, serta kekayaan sejarah dan budaya lokal sebagai sumber inspirasi dalam berkarya.

Karya puisi yang dihasilkan peserta nantinya akan melalui proses kurasi untuk kemudian dibukukan dalam antologi berjudul "Bojonegoro dalam Sepotong Puisi". Penerbitan antologi tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Taman Baca Publishing dan Dispusip Kabupaten Bojonegoro.

Relima Bojonegoro berharap pendekatan pembelajaran yang inklusif, kolaboratif, dan dinamis tersebut dapat semakin menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap literasi dan sastra sekaligus memperkuat kebanggaan terhadap identitas lokal Bojonegoro. [feb/mad]