Dapat Pesanan 500 Boneka Rajut Kualitas Ekspor, Perajut PRIMA Tuban Perdalam Teknik Pecah Pola

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Peluang pasar baru terbuka bagi kelompok perajut Program PRIMA (Perempuan Indonesia Merajut) Kabupaten Tuban. Untuk memenuhi permintaan pasar ekspor, para perajut mengikuti pelatihan teknik pecah pola boneka rajut (amigurumi) Sunbudz selama dua hari, 9-10 September 2026.

Pelatihan yang berlangsung di Gedung PKK Desa Karangtinoto, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, tersebut menjadi bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas. Pelaksanaan kegiatan menggandeng Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) sebagai mitra pelaksana.

Pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan para perajut agar mampu mengerjakan pesanan boneka rajut dari mitra pembeli ekspor. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat membuka sumber penghasilan tambahan bagi para perempuan perajut untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Tidak hanya belajar mengikuti pola yang sudah tersedia, peserta juga dilatih memahami teknik pecah pola. Kemampuan tersebut penting agar perajut dapat mengembangkan dan menyesuaikan pola berdasarkan desain serta kebutuhan pembeli.

Peluang pesanan dalam jumlah besar pun sudah terbuka. Murwanti selaku mitra pembeli mengatakan dirinya siap memberikan pesanan setelah para perajut mampu menghasilkan produk sesuai standar yang dibutuhkan.

"Setelah mereka mampu merajut model Sunbudz dengan kualitas yang sesuai, saya berani menurunkan pesanan sejumlah 500 buah," ungkap Murwanti.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelatihan. Para perajut mengikuti tahapan demi tahapan, mulai dari memahami pola hingga mempraktikkannya secara langsung.

Bagi peserta, pelatihan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mengasah keterampilan, tetapi juga persiapan menghadapi peluang pasar yang lebih luas dengan tuntutan kualitas yang lebih tinggi.

Koordinator Kelompok PRIMA Kabupaten Tuban, Siti Wedok Lestari, mengatakan pembuatan boneka rajut dengan standar kualitas ekspor menjadi pengalaman baru bagi kelompoknya.

Sebelumnya, kelompok tersebut memang pernah membuat produk serupa dalam bentuk gantungan kunci. Namun, kualitas produk yang dihasilkan saat itu masih belum memenuhi standar ekspor.

"Pesanan produk boneka dengan standar kualitas ekspor ini merupakan hal baru bagi kami. Sebelum ini kami pernah membuat gantungan kunci berbentuk boneka tetapi dari sisi kualitas masih dibawah standar kualitas ekspor. Karena itu, pelatihan kali ini menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar dan meningkatkan kualitas produk supaya kami bisa mengerjakan pesanan ini serta bisa memperluas peluang pasar," kata Siti.

Pelatihan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Tuban Drs. Gunadi, M.M., Pembina Industri Ahli Muda Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Tuban Devie Linggar Buana, S.IP., M.AP., Sekretaris Desa Karangtinoto Anggun Sulistyowati, serta Ketua TP PKK Desa Karangtinoto Yeti Ernawati, S.E.

Dalam sambutannya, Gunadi mengapresiasi keberadaan kelompok perajut di Kecamatan Rengel. Menurutnya, aktivitas kelompok tersebut tidak sekadar menjadi sarana peningkatan keterampilan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi keluarga.

Gunadi mengatakan Pemerintah Kabupaten Tuban juga memiliki program yang dapat mendukung pemasaran produk UMKM, salah satunya Tuban Retail Connect.

"Saat ini Diskopumdag Tuban mempunyai program Tuban Retail Connect. Ini bisa membantu ibu-ibu memasarkan produk namun memang melalui kurasi. Apabila lolos kurasi maka produk akan disalurkan ke toko-toko modern dengan beberapa persyaratan," imbuh Gunadi.

Sementara itu, Devie Linggar mengatakan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Tuban memiliki program pengembangan sentra di setiap kecamatan dan desa.

Menurutnya, potensi kelompok perajut seperti PRIMA dapat dikembangkan lebih jauh, bukan hanya sebagai kelompok produksi, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis edukasi.

"Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Tuban memiliki program sentra yang saat ini suratnya sudah dikeluarkan untuk setiap kecamatan dan desa. Dengan adanya potensi kelompok rajut seperti ini, ke depan bisa dikembangkan menjadi sebuah sentra. Tidak hanya mengandalkan pendapatan dari pesanan produk rajut, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi bagian dari edukasi wisata," ucap Devie.

Program PRIMA di Kabupaten Tuban dan Bojonegoro memiliki nilai lebih karena tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan perajut, tetapi juga mempertemukan mereka dengan pembeli yang dapat menyerap produk.

Dalam beberapa waktu ke depan, para pembeli telah berkomitmen memberikan pesanan dengan tetap menyesuaikan kondisi pasar. Skema tersebut menjadi salah satu strategi program untuk menjaga keberlanjutan usaha para perajut sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.

Dengan peningkatan keterampilan, dukungan pemasaran, dan adanya calon pembeli, kelompok perajut PRIMA diharapkan mampu meningkatkan kualitas sekaligus kapasitas produksi secara bertahap. Peluang tersebut juga menjadi jalan bagi keterampilan merajut untuk berkembang dari aktivitas pemberdayaan menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan. [feb/mad]