Reporter: Muhammad
blokBojonegoro.com - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto yang sekaligus menjadi tamu kehormatan di Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, menjadi angin segar untuk industri yang bekerjasama dengan perusahaan Rusia. Salah satunya yang ada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang dibawah komando PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).
Sebab, ketika memberikan sambutan, Presiden Prabowo mengungkapkan Indonesia tidak hanya membuka peluang kerja sama pengembangan kilang minyak dengan Rusia, tetapi turut mengajak Negeri Beruang Merah mengembangkan proyek gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Prabowo menyatakan saat ini sudah terdapat pembahasan kerja sama dengan perusahaan Rusia untuk mengembangkan proyek kilang dan penyimpanan minyak dengan perusahaan Indonesia. Di sisi lain, Prabowo menyatakan Indonesia memiliki cadangan dan sumber daya LNG yang sangat melimpah. Dengan begitu, dia menawarkan Rusia untuk turut membantu Indonesia mengembangkan LNG di dalam negeri.
Presiden juga menekankan bahwa Rusia memiliki teknologi yang mumpuni untuk menggarap LNG di Indonesia. “Saat ini kami memiliki banyak LNG, jadi di beberapa bidang sebenarnya kami tidak secara langsung, katakanlah, membutuhkan gas Rusia, tetapi untuk teknologi Rusia dan pengembangan bersama, kami sangat terbuka,” kata Prabowo ketika berbicara sebagai tamu kehormatan utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, ditayangkan secara daring.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga mengundang Rusia untuk berinvestasi di hulu minyak dan gas (migas) Indonesia, bahkan Prabowo mengungkapkan Indonesia tengah membuka penawaran terhadap 138 wilayah kerja (WK) eksplorasi.
“Kami baru saja menyampaikan informasi kepada mitra Rusia kami bahwa Indonesia kini telah membuka 138 blok eksplorasi energi, dan kami mengundang kelompok-kelompok Rusia serta korporasi Rusia dengan teknologi mereka untuk berpartisipasi di 138 blok tersebut,” ungkap Prabowo.
Belum lama ini, PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP) resmi membuka prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban. Berdasarkan pengumuman yang dilihat Bloomberg Technoz, anak usaha Pertamina tersebut bakal membuka dua paket pekerjaan yakni kilang I GRR Tuban dengan nomor BS-001/PRPP-310/2026-S0 dan kilang II GRR Tuban dengan nomor BS-002/PRPP-310/2026-S0.
Prakualifikasi dibuka bagi perusahaan nasional maupun asing, baik perusahaan tunggal maupun konsorsium, joint venture (JV), dan joint operation (JO). Untuk perusahaan berbentuk konsorsium, PRPP mensyaratkan keterlibatan minimal satu perusahaan nasional.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Roberth MV Dumatubun menyatakan proses FID masih berlangsung, tetapi dia belum mengungkapkan target atau tenggat keputusan investasi final Rosneft di GRR Tuban.
“Untuk FID Proyek GRR Tuban saat ini masih dalam proses,” kata Roberth dikutip dari Bloomberg Technoz.
Lebih lanjut, Roberth menjelaskan pembukaan prakualifikasi tender EPCC untuk proyek Kilang Tuban dilakukan untuk menjaring kontraktor potensial. Dia menyebut kontraktor yang masuk dalam kualifikasi nantinya dapat mengikuti tender EPCC untuk mendukung eksekusi proyek Kilang Tuban.
Nilai proyek GRR Tuban diprediksi mencapai US$24 miliar dan dirancang untuk memiliki kapasitas olahan minyak mentah 300.000 barel per hari (bph). Pertamina lewat anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), memegang 55% saham PRPP, sedangkan 45% saham lainnya dikuasai Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).
Sekadar informasi, Indonesia sebenarnya digadang-gadang bakal menjadi salah satu produsen LNG terbesar di kawasan. Produksi di dalam negeri pun disebut bakal sangat mencukupi. Menurut laporan BMI—lengan riset Fitch Solutions, bagian dari Fitch Group — Indonesia siap menjadi raksasa produsen LNG di Asia Tenggara, seiring dengan adannya potensi tambahan 40 miliar meter kubik atau billion cubic meter (bcm) sumber daya hingga 2030.
BMI menyebut Indonesia kaya dengan proyek gas greenfield yang akan mengerek pasokan gas baku untuk produksi LNG sepanjang 2024—2030. “Kami memperkirakan sekitar 40 bcm gas alam tambahan akan diproduksi dari proyek-proyek mendatang ini, yang sebagian besar ditujukan untuk memasok gas baku ke pabrik-pabrik LNG yang baru dan yang sudah ada,” papar tim peneliti BMI dalam laporannya.
Sementara itu, total kapasitas produksi LNG Indonesia juga dapat meningkat menjadi 48,9 mtpa pada awal 2030-an jika proyek Abadi LNG atau Blok Masela terealisasi. Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi LNG gabungan sebesar 36,2 mtpa, termasuk Bontang, Donggi Senoro, Tangguh, dan pabrik modular kecil.
Genting Berhad saat ini sedang membangun pabrik LNG terapung 1,2 mtpa pertama di Indonesia di Teluk Bintuni, Papua Barat. Gas umpan untuk produksi LNG akan dipasok dari ladang gas Asap, Kido, dan Merah. Genting Berhad juga telah sepakat dengan pemerintah Indonesia untuk memasok 230 mmscfd gas umpan untuk produksi LNG selama 18 tahun, dan tambahan 101 mmscfd untuk pabrik amonia dan urea yang direncanakan di Papua Barat. Proyek LNG ini diharapkan mulai beroperasi pada 2028.
“Kami memperkirakan total kapasitas produksi LNG Indonesia akan meningkat menjadi 39,4 mtpa pada 2028 jika kedua proyek tersebut mulai beroperasi sesuai jadwal. Pemerintah Indonesia telah menyetujui PoD untuk proyek LNG Abadi sebesar 9,5 mtpa,” tulisnya. [mad]