Hari Krida Pertanian, Sinergi Jaga Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Petani Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan komitmennya memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan dan penggerak ekonomi daerah (Foto: Istimewa)

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Di tengah statusnya sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas terbesar di Indonesia, Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan komitmennya memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan dan penggerak ekonomi daerah.

Momentum Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap 21 Juni menjadi pengingat penting bahwa sektor pertanian masih menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakat Bojonegoro. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro di bawah kepemimpinan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah menjadikan pertanian sebagai salah satu program strategis daerah.

Berbagai program telah dijalankan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Mulai dari bantuan alat dan mesin pertanian, jaminan ketersediaan pupuk, pembangunan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, jaminan harga hasil panen, hingga penguatan sektor pengolahan hasil pertanian.



Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Produksi padi Bojonegoro meningkat signifikan dari sekitar 710 ribu ton menjadi 864 ribu ton per tahun atau bertambah sekitar 154 ribu ton. Capaian tersebut mengangkat posisi Bojonegoro dari peringkat ketiga menjadi peringkat kedua sebagai daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menjelaskan bahwa produksi padi pada tahun 2025 mencapai 886.443 ton. Angka tersebut meningkat 176.916 ton atau 24,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi tahun 2026 sebagai tahun dengan cuaca normal, Pemkab Bojonegoro telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga produktivitas pertanian.

"Kami telah melakukan langkah antisipasi dengan infrastruktur dan manajemen air, serta berupaya memanfaatkan benih Gamagora 7 atau biasa disebut varietas padi ‘Amphibi’ untuk lahan pertanian di Bojonegoro," ungksp Zaenal.

Kinerja sektor pertanian juga terbukti menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh 0,02 persen secara tahunan. Namun jika sektor migas dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi mencapai 7,34 persen.

Kepala BPS Bojonegoro, Syawaluddin Siregar, menilai capaian tersebut tidak lepas dari kontribusi sektor pertanian yang tumbuh sebesar 11,38 persen.

"Sektor pertanian menjadi salah satu motor pertumbuhan utama dengan laju pertumbuhan mencapai 11,38 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi padi dan jagung yang signifikan," jelasnya.

Untuk memperkuat rantai usaha pertanian dari hulu hingga hilir, Pemkab Bojonegoro juga membentuk Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bojonegoro Pangan Mandiri. Perusahaan daerah tersebut diproyeksikan berperan dalam menjaga stabilitas harga gabah pascapanen, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendorong hilirisasi produk pertanian.

Direktur Utama Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri, M. Choirul Huda, mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah program yang melibatkan berbagai pihak, mulai asosiasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), BUMDes, UMKM, gabungan kelompok tani (Gapoktan), hingga Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Bojonegoro.

Menurutnya, kerja sama tersebut akan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman bersama yang dijadwalkan berlangsung pada 28 Juni 2026.

"Sekaligus kita akan melaunching merek beras andalan Bojonegoro, Rojo Nogo," tuturnya.

Choirul menjelaskan, dalam skema yang disiapkan, KDMP dan Gapoktan akan membeli gabah petani dengan harga yang menguntungkan sesuai standar kualitas yang telah ditentukan. Gabah tersebut kemudian diolah oleh Perpadi Bojonegoro sebelum dipasarkan.

"Dari hasil produksi itu, beras akan kami jual di pasar nasional dan untuk mencukupi kebutuhan pangan di tingkat daerah. Kami juga sudah menyiapkan merek beras, Rojo Nogo," jelasnya lagi.

Ia berharap kehadiran Perumda Bojonegoro Pangan Mandiri dapat menjadi solusi atas persoalan yang selama ini dihadapi petani saat panen raya, sekaligus meningkatkan nilai tukar petani.

"Melalui kolaborasi ini kami optimis bisa membangun ekosistem pertanian yang lebih baik mulai hulu hingga hilir, dan meningkatkan kesejahteraan petani Bojonegoro," tandasnya. [feb/mu]