Menggali Potensi ‘Hutan Selatan’: Kelompok 8 KKNT-K Universitas Bojonegoro Rampungkan Survei Perdana di Desa Sumberbendo
Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNT-K) Universitas Bojonegoro (Unigoro)

Pengirim: M. Rendy

blokBojonegoro.com - Kelompok 8 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKNT-K) Universitas Bojonegoro (Unigoro) bergerak cepat melaksanakan survei lapangan perdana di Desa Sumberbendo, Kecamatan Bubulan, Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan ini menandai dimulainya pelaksanaan pengabdian masyarakat yang mengusung tema besar "Hutan Selatan".

Pelaksanaan survei awal ini dilakukan di bawah bimbingan langsung Irma Mangar, S.H., M.H., selaku Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kehadiran tim mahasiswa lintas disiplin ilmu tersebut disambut hangat dan didampingi langsung oleh Kepala Desa Sumberbendo, Bapak Cipto, serta Sekretaris Desa, Bapak Sulistiyo. Pendampingan langsung dari jajaran pemerintah desa ini menegaskan bentuk komitmen dan dukungan penuh terhadap program kerja yang digagas oleh akademisi muda Unigoro.

Surya Akbar, mahasiswa Administrasi Publik yang bertindak sebagai Ketua Kelompok 8 KKNT-K Unigoro, menyampaikan bahwa sinergi antara mahasiswa dan jajaran pemerintah desa merupakan kunci utama keberhasilan program. "Kami ingin memastikan tata kelola program kerja yang kami rancang nantinya sejalan dengan kebutuhan rill sosiologis dan regulasi pengembangan desa di Sumberbendo," ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Yudi Saputra dari Fakultas Sains dan Teknologi (Sainstek) selaku Ketua Divisi Jurnalistik menambahkan bahwa survei awal ini sangat krusial untuk memetakan kondisi fisik maupun potensi ekonomi warga. Langkah taktis pencatatan data lapangan ini digawangi langsung oleh tim Divisi Jurnalistik Kelompok 8 yang beranggotakan Indah Eka Nur Khomaria, Laela Dwi Anggraini, dan Lusiana dari Fakultas Sainstek, serta Friska Nurdiana dari Fakultas Ekonomi.

Berdasarkan hasil diskusi dan observasi mendalam, Desa Sumberbendo memiliki karakteristik wilayah yang unik dengan demografi yang tersebar di tiga dusun, yaitu Dusun Sumurlo, Dusun Candang, dan Dusun Sumberbendo. Secara administratif, desa ini mencakup wilayah seluas 17 RT dan 5 RW, didukung oleh 5 anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta dihuni oleh sekitar 2.400 jiwa. Tata guna lahan desa didominasi oleh kawasan hutan dan lahan kering, dengan alokasi sekitar 5% untuk lahan sawah serta 15% berupa pekarangan, fasilitas umum, dan area pemakaman. Sektor pertanian jagung, peternakan, dan perhutanan menjadi urat nadi perekonomian mayoritas penduduk desa.

Dari tahapan pemetaan tersebut, Kelompok 8 KKNT-K Unigoro merumuskan beberapa program kerja strategis yang akan dilaksanakan berbasis keahlian sektoral setiap fakultas, di antaranya:

- Mitigasi Kebencanaan & Kekeringan (Fakultas Sainstek - Teknik Sipil): Fokus pada perbaikan infrastruktur dan penanganan tantangan fisik desa, seperti perencanaan teknis untuk rekonstruksi akses jalan ekstrem di Dusun Sumurlo, serta pelatihan pembuatan sumur resapan guna mengantisipasi kelangkaan air bersih.

- Modernisasi Pertanian & Kehutanan (Fakultas Pertanian - Agribisnis): Mengoptimalkan potensi sektor peternakan dan pemanfaatan limbah pertanian melalui penerapan teknologi pengolahan pakan ternak (fermentasi atau pembuatan silase) bersama 6 kelompok tani ternak dan 1 Gapoktan. Selain itu, dirancang pula program penanaman pohon dan teknik ecoprint untuk kelestarian hutan.

- Pemberdayaan Masyarakat & Kelembagaan (Fakultas FISIP): Melakukan sosialisasi berkala untuk penguatan kelembagaan, fasilitasi pengelolaan lingkungan hidup, serta merevitalisasi organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna desa yang aktivitasnya tengah mengalami penurunan.

- Pengembangan Wisata & UMKM (Fakultas Ekonomi): Mendorong pertumbuhan Industri Kecil Menengah (IKM) melalui hilirisasi produk lokal seperti Keripik Gedebok Asin, Keripik Tempe, Kerupuk Bawang, aneka makanan ringan, kerajinan tangan, mebel, hingga seni lukis kulit kambing. Fakultas Ekonomi juga menginisiasi pemanfaatan potensi lokal berupa pembuatan briket dari janggal jagung atau sekam padi, serta menyusun konsep rehabilitasi kawasan wisata Sendang Wedok yang terbengkalai pasca-tanah longsor.

Meski kaya akan potensi, tim identifikasi lapangan juga mencatat sejumlah tantangan krusial, seperti kesadaran pelestarian lingkungan yang perlu ditingkatkan, tata kelola Bank Sampah yang belum optimal, serta keterbatasan anggaran pembangunan desa yang menyebabkan beberapa program pemerintah desa belum dapat berjalan maksimal.

Selama ini, Pemerintah Desa Sumberbendo secara konsisten telah mengalokasikan anggaran tahunan untuk penanganan dan penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan di musim kemarau. Namun, untuk menghadirkan solusi jangka panjang, pemerintah desa berkomitmen membuka ruang kolaborasi eksternal yang luas, termasuk sinergi bersama mahasiswa KKNT-K Unigoro.

Melalui integrasi program yang kokoh bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) melalui sistem Kesanggem, Kelompok 8 KKNT-K Universitas Bojonegoro di bawah kepemimpinan Surya Akbar optimistis dapat menghadirkan solusi pengabdian yang tepat sasaran, aplikatif, dan berkelanjutan bagi kemajuan masyarakat Desa Sumberbendo. [mu]