Bojonegoro Arts Circle Jadi Ruang Temu Seniman, Monolog hingga Fragmen Sandur Tampil Memikat
Dok. Pribadi blokBojonegoro agenda Bojonegoro Arts Circle (Foto: M. Anang Febri)

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Gedung BCH Jl. Pemuda Timur, Ngrowo, Bojonegoro pada Jumat (29/5/2026) malam berubah menjadi panggung ekspresi para pegiat seni saat Komite Ekonomi Kreatif (KEK) menggelar Bojonegoro Arts Circle, sebuah agenda yang mempertemukan komunitas seni pertunjukan dalam satu ruang kolaborasi. Beragam pertunjukan mulai dari monolog, teater, hingga fragmen Sandur sukses menyedot perhatian penonton yang memadati area pertunjukan.

Mengusung semangat “Berkumpul, Berkarya, Berjejaring”, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi seniman untuk menampilkan karya sekaligus memperluas jejaring kreatif di Bojonegoro.

Ketua Komite Ekonomi Kreatif Bojonegoro, Mochamad Alfianto, mengatakan BCH hadir sebagai ruang bersama bagi komunitas dan pelaku kreatif yang selama ini membutuhkan tempat untuk berekspresi dan berkolaborasi.

"BCH ini tempat untuk berkolaborasi, karena hari ini ruang untuk berekspresi, berinkubasi, dan berkarya itu kurang banyak di Bojonegoro. Dan salah satunya yang representatif hari ini di gedung ini," ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur banyak komunitas yang mulai memanfaatkan fasilitas BCH untuk berkegiatan. Menurutnya, yang paling penting bukan hanya fasilitas fisik, tetapi bagaimana para pelaku kreatif bisa saling terhubung dan membangun jejaring.

"Maka dari itu teman-teman, kami sangat berterima kasih bahwa teman-teman ingin berkegiatan di sini dengan fasilitas yang cukup, belum sempurna tapi lumayan lah. Tapi yang paling penting itu bagaimana kita berjejaring," kata laki-laki yang akrab disapa Mas Fian itu.

Ke depan, pihaknya membuka ruang selebar-lebarnya bagi komunitas teater maupun seni pertunjukan yang ingin berkolaborasi dengan KEK. "Setelah ini, teman-teman pegiat teater dan seni pertunjukan ingin berkolaborasi dengan Komite Ekonomi Kreatif sangat kami persilakan. Kita berdiskusi, kita bikin kegiatan maupun event, kolaborasi seperti apa. Sehingga komunitas di Bojonegoro semakin hidup," tuturnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh komunitas, seniman, dan jaringan kreatif yang telah terlibat dalam terselenggaranya kegiatan tersebut. 

Malam pertunjukan dibuka dengan penampilan monolog dari Teater Lorong Putih yang mengajak penonton masuk ke dalam ruang refleksi melalui akting yang intens dan emosional. Suasana kemudian berganti ketika Sedhet Sprepet Collaboration menampilkan fragmen Sandur, seni tradisi khas Bojonegoro yang dibawakan dengan sentuhan segar namun tetap mempertahankan akar budayanya.

Tak hanya itu, panggung juga diisi berbagai penampilan teater dan monolog dari komunitas seni lainnya yang menampilkan ragam gagasan, kritik sosial, hingga pergulatan kehidupan sehari-hari.


Mewakili Teater Ruang Hening, Prawoto mengucapkan terima kasih kepada Komite Ekonomi Kreatif serta para seniman yang terus menjaga denyut kesenian di Bojonegoro. Menurutnya, kegiatan semacam ini merupakan bagian dari “gerilya budaya” yang telah lama dijalankan para pegiat seni.

"Terima kasih kepada Komite Ekomomi Kreatif dan juga para sedulur seniman Bojonegoro. Kegiatan ini bagian dari gerilya budaya yang sudah kami lakukan sejak lama," ungkap pegiat seni yang disapa Lek Owod ini.

Lek Owod yang juga sutradara monolog Dalam Topeng-Topeng menceritakan proses kreatif di balik pementasan yang hanya berlangsung sekitar satu bulan. Waktu yang singkat itu harus dilalui di tengah berbagai persoalan pribadi aktor.

Ia mengisahkan bahwa dibalik pertujukan monolog yang energik itu, ada aktor yang harus membagi waktu untuk merawat orang tua yang sedang sakit, mengurus rumah tangga, hingga tetap berlatih dan menghafal naskah di sela-sela aktivitas sehari-hari.

"Prosesnya memang singkat, sekitar satu bulan. Di tengah berbagai keadaan, mulai orang tua aktor yang sakit, mengurus rumah, sampai njabuti rumput sambil menghafal dan eksplor naskah," paparnya.

Lewat Bojonegoro Arts Circle, para pegiat seni berharap ruang-ruang kreatif seperti BCH terus hidup dan menjadi rumah bersama bagi lahirnya karya-karya baru. Tak hanya sekadar pertunjukan, kegiatan ini menjadi titik temu antar komunitas untuk saling belajar, berjejaring, dan menjaga semangat berkesenian di Bojonegoro. [feb/mad]