Berbarengan dengan Peringatan Isra' Mi'raj, Digelar Haul Mbah Kiai Sulaiman Manding
Haul Mbah Kiai Sulaiman sekaligus Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Dusun Manding, Desa Temu, Kanor

Reporter: Muharrom

blokBojonegoro.com - Mbah Kiai Sulaiman adalah perintis keagamaan di kampung Dusun Manding, Desa Temu, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, yang wafat pada tahun 1947 satu era dengan Hadlrotusysyeikh Hasyim Asy'ari muassis Nahdlatul Ulama.

Kegiatan haul yang rutin diadakan setiap tahunnya ini, diadakan pada Jum'at (16/1/2026) malam di halaman Masjid Nurul Huda, Dusun Manding, tepat saat Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW dirangkai haul bertajuk Haul Dusun Manding.

Mewakili panitia pelaksana sekaligus keluarga Bani Sulaiman, H.M. Hasan Bisri mengungkapkan, jika awalnya haul digelar setiap tahun secara terbatas. "Namun karena keinginan masyarakat agar haul menjadi gawe bersama warga, maka pada tahun ini bertajuk Haul Dusun Manding cukup meriah meski sederhana," jelasnya.

Bisri, sapaan akrab Wakil Ketua PCNU Bojonegoro ini menambahkan, masyarakat bersyukur memiliki tokoh pejuang keagamaan seperti Mbah Kiai Sulaiman. Sebab, beliau dulu gigih mendidik masyarakat untuk beragama dengan akronim "Nggak Mbel" yang mempunyai arti meskipun masyarakat tidak paham apa itu sembahyang dan apa itu belajar, asalkan mau seperti tunggak yang di balut sambal, pada akhirnya akan terbiasa dan mengerti.

"Hal itu dicontohkan Mbah Kiai Sulaiman saat di pematang sawah, dikerumuni para petani sambil membalutkan sambel di tunggak kayu," kenang Bisri, karena kisah ini masih masyhur di kalangan masyarakat Dusun Manding hingga kini.

Bisri juga mengisahkan bekal sang kakek saat mengaji, yaitu setiap hari berbekal sebiji jagung yang di tunu (bakar), sebiji jagung itu untuk makan pagi, siang dan sore. "Itu tirakatnya Mbah Yai Sulaiman, rasnya kami malu tidak bisa meniru tirakatnya beliau," tegasnya.

Hadir memberikan tausiyah dalam pengajian ini Kyai muda gaek KH Agus Abdullah Rubaidy Al Khafidz pengasuh majelis dzikir wat taklim Ar Roudhotul Musthofawiyah dari Semanding, Kabupaten Tuban.

Dalam ceramahnya, Gus Ubed mengungkapkan pentingnya haul adalah kumpulnya kita saat ini diharapkan akan dikumpulkan dalam rombongan di akhirat nanti menuju surga, sebab orang di Hauli (Mbah Kiai Sulaiman) adalah termasuk "min jumlatil ulama'il amilin" yaitu orang yang mempunyai ilmu dan diamalkan atau diajarkan juga membekas hingga masa kini.

"Istilahnya, intisarul ulumi ila atsaril kholqi, yaitu penyebaran ilmu mencapai jejak-jejak yang melekat dan membekas bagi ummat. Itulah Mbah Kiai Sulaiman, tampak sekali jejak-jejak baik dan positifnya," terang Gus Ubed.

Dihadapan ratusan jama'ah yang hadir, Gus Ubed juga menuturkan bahwa tiyang atau orang yang di hauli merupakan kelayakan, karena merupakan sosok yang telah melanjutkan perjuangan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Kegiatan pengajian ini cukup sederhana dilaksakan namun sangat khidmat dirasakan jama'ah, seorang jama'ah adal Brangkal, Kepohbaru, Siti Asiyah menuturkan, bahwa dirinya cukup khidmat menyimak pengajian ini dan insyaallah akan selalu hadir pada pengajian mendatang. [mu/mad]