Reporter: Rizki Nur Diansyah
blokBojonegoro.com – Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, secara terbuka menyampaikan ketidakpuasannya terhadap proyek pembangunan trotoar di sejumlah ruas jalan protokol Kota Bojonegoro.
Menurutnya, pembangunan yang dikerjakan pada tahun anggaran 2025 itu terlalu menonjolkan aspek estetika, namun gagal menyentuh persoalan krusial yang selama ini dikeluhkan masyarakat, yakni banjir genangan di wilayah perkotaan.
Bupati Wahono menilai, pembangunan trotoar semestinya tidak berdiri sendiri. Pembenahan saluran drainase harus menjadi satu paket agar mampu menampung debit air saat hujan deras. Namun faktanya, desain yang ada dinilai tidak memberikan peningkatan signifikan terhadap kapasitas saluran air di kawasan tersebut.
“Saya kemarin sempat marah sama Pak Tito, Kepala Dinas PU Cipta Karya. Karena apa, trotoar sudah terlanjur dibongkar kenapa tidak sekalian diperlebar saluran airnya,” ungkap Wahono, Rabu (14/1/2026).
Eks Wakil Komisaris Utama di PT Samator Indo Gas itu menjelaskan, perencanaan proyek trotoar tersebut memang disusun sebelum dirinya menjabat sebagai bupati. Rancangan Anggaran Biaya (RAB) pun sudah ditetapkan lebih awal.
Meski demikian, Wahono menegaskan bahwa perencanaan seharusnya sejak awal mempertimbangkan kebutuhan penanganan banjir yang selama ini menjadi persoalan menahun di pusat kota.
“Masa dari dulu pembangunan trotoar dan saluran drainase ukurannya sama satu meter. Seharusnya diperlebar agar banjir di jalan protokol cepat surut,” tegas adik Menko Pratikno itu.
Selama proses pembongkaran hingga pembangunan trotoar berlangsung, keluhan warga terus berdatangan. Wahono mengaku, hampir setiap hari menerima telepon dari masyarakat yang menyoroti proyek tersebut, sebab dinilai belum memberikan dampak nyata terhadap pengurangan genangan air saat hujan deras terjadi.
“Selama ada pembongkaran trotoar, (hampir setiap hari) saya selalu ditelepon warga Bojonegoro. Hampir semua warga kota menyampaikan hal sama, bahwa pembangunan ini belum bisa menyelesaikan banjir,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro berencana mencari solusi tambahan untuk mengatasi persoalan banjir di kawasan perkotaan. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah pembangunan resapan air di setiap gorong-gorong yang berada di sepanjang jalan protokol.
“Kita akan mencari solusi, termasuk membangun resapan air di setiap gorong-gorong di jalan protokol,” pungkasnya.
Berdasarkan data Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Bojonegoro, terdapat tujuh paket pekerjaan pembangunan trotoar dengan total anggaran sekitar Rp50,8 miliar. Proyek tersebut meliputi ruas Jalan AKBP M. Soeroko sisi barat dan timur, Jalan Sawunggaling, Jalan WR Supratman sisi barat dan timur, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan KH. Mansyur, Jalan Pattimura, serta Jalan Panglima Polim. [riz/mad]
Kontraktor cuma mengerjakan sesuai gambar kontrak dari dinas terkait, klo ada yang kurang pas harusnya dinasnya yg merubah perencanaan, kalau bupati ada yg kurang pas bisa panggil pimpinan dinas terkait tersebut, klo sudah selesai baru teriak2 berarti ada “jatah yg kurang” itu… kayak rakyat gak tahu aja ludruk model gini😁😁😜😝🤪🤪😄
Trotoair atau trotoar jalan manusia, parit adalah jalan untuk air, pasti dibedakan dalam phisik maupun biaya pembuatannya. Lagian kalau dana renovasi totoar dikurangi untuk renovasi parit, suatu saat pemborong dan pimpro bisa masuk kurungan, pasalnya rekayasa anggaran. Yang nyambung adalah adakan pengasaan jasa normalisasi parit repi jalan dan bikin embung jebakan air dilengkapi pompa dan saluran pipa buat membuang air ke bengawan Solo.
biasa wae..
Proyek pasti juga tidak selesai dalam waktu yg singkat…..pertinyiinyi….pas pelaksanaan kok gak disidak, biar lsg disempurnakan sama kontraktornya??????? Stlh selesai malah teriak2 …lucu, dibongkar ya biaya lg, ayo jujurlah ini bukan masalah itu!!!
Hujan tidak merata, petir dimana2 …….
Kemarin kemana aja?????????????, Setelah jadi kok baru dikomentari. Harusnya sebagai bupati mesti lihat dari awal, dari desain, dari penganggaran, dari tender dll.
Kemarin kemana aja?????????????, Setelah jadi kok baru dikomentari. Harusnya sebagai bupati mesti lihat dari awal, dari desain, dari penganggaran, dari tender dll.
Coba kalau yg jd pemimpin kyk saya insyaAlloh beres .
Miris Ama pasir yg dipakai untuk ngecor dan pasang keramik. Pasir urug tuh... Audit perlu dilakukan pasti banyak yg bocor tuh anggaran.
Harusnya ada perencanaan sebelum pengerjaan dan pengawasan selama pengerjaan sudah sesuai apa belum, jangan proyek sudah selesai baru ramai. Karena nanti kalau mau dibongkar lagi pasti biaya lagi.🙏
POKOK TENDER MLEBU PROYEK,ORA NGATASI MASALAH BANJIR,POKOK MLEBU PROYEK,CAIR².....UNINE SENG TAK RUNGOKNE NEK WARKOP² NEK BOJONEGORO,OWALAH KUTO SAK KOPEK DUIT APBN TURAH² PANGGAH WAE ORA ISO BERBENAH....NGISIN²I #PERANTAUSEMARANGKOTA #WARGAASLIBOJONEGORO
Jalan makin sempit, trotoar makin lebar aneh banget bjn ini
Dari tahun ke tahun berikutnya kok bongkar pasang trotoar to pak masak ngak ada solusi lain yg bermanfaat bagi masyarakat kota, banjir di perkotaan tiap musim hujan selalu jadi momox .... Masyarakat kota khususnya jalan protokol perkotaan
Podo cocok jan jossssssss tenan iki bupati ku, lakukan yg terbaik untuk bojonegoro pak bupati ku, kita semua warga di belakang bapak.. Kesuksesan program kesuksesan bapak juga... 👌👍😊
Nek iki aku setuju poll karo statemen bupatine. Nyata mmg di lapangan khususnya di kota, dimensi saluran yg dipasang msh terlalu kecil dan terlihat saat hujan deras dgn durasi waktu yg agak lama lsg terjadi genangan di bbrp jalan....