Komunitas Samin Bojonegoro Gelar Festival Budaya 22 Desember
Untuk pertama kalinya, Komunitas Samin di Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, akan menggelar festival seni dan budaya khas pada 22 Desember 2017.
Untuk pertama kalinya, Komunitas Samin di Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, akan menggelar festival seni dan budaya khas pada 22 Desember 2017.
Kemeriahan acara Multicurtural Day ke-3 yang diselenggarakan oleh International Office (IO) atau Pusat Layanan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya begitu semarak, Rabu (11/10/2017). Terlihat beberapa peserta dari Organisasi Mahasiswa Daerah (Ormada) antusias menampilkan budaya daerahnya masing-masing, begitu juga dengan Ormada dari Kota Ledre, yaitu Forum Komunikasi Mahasiswa Bojonegoro (FKMB).
Angin semilir sepoi-sepoi. Sesekali berdesir kencang. Pagi itu, cuaca tidak seberapa cerah, karena mendung sudah menggelayut di sebelah timur. Matahari pun enggan menampakkan sinarnya padahal musim seharusnya telah memasuki kemarau.
Kang Samin menangis, sesenggukan. Air mata sejak tadi sudah membasahi baju bagian atas yang ia kenakan malam itu. Ia tidak perduli. Tangannya menengadah dan belum juga ingin dilepaskan. Berulang kali dirinya memohon ampun atas semua yang telah dilakukan dahulu kala, banyak lupa dan terkadang menyentuh perasaan disengaja. Ia menyadari jika gunung dosa masih menutupi pijar sinar pahala.
Sunyi. Suasana perbatasan antara daerah Kang Samin dengan wilayah tetangga tidak seperti biasanya. Padahal, salat Duhur di bulan puasa tersebut harusnya ramai oleh orang berjamaah. Tapi kondisi masjid yang begitu megah tersebut hanya dipakai tempat singgah pengelana atau warga yang kebetulan melintas.
Tubuh Kang Sabar menggigil kedinginan. Ia seperti masuk angin. Beberapa kali bersin-bersin dan bahkan disertai muntah. Kepalanya berputar tidak karuan. Kang Samin yang tidak jauh dari dirinya tampak menjadi dua bagian. Kadang terang dan cepat sekali berubah menjadi kabur. Begitu seterusnya.
Sepeda motor tahun 1970 terparkir di halaman rumah. Warnanya merah dengan beberapa bagian putih kusam. Spion bulan berdiri tegak seperti orang tengah berdoa masih terlihat mulus. Walaupun sepeda tua, ternyata sang pemiliknya rajin mengurus dan merawat dengan baik. Suaranya pun masih jernih dan hanya sedikit mengeluarkan asap. Artinya mesin juga masih tetap prima.
Ia termenung sendiri. Tidak mengetahui harus berbuat apa. Dunia seperti berhenti berputar. Semua serba gelap dan susah. Musibah masih saja mengintainya silih berganti. Berat da bertambah berat. Sesekali menggelengkan kepala untuk membuang pening, namun hal itu tidak membantu.
Keringat Kang Samin bercucuran. Tenaganya habis terkuras. Maklum, usianya juga sudah tidak muda lagi dan tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB, namun panas dirasakan sudah seperti pukul 12.00 WIB.
ahaya matahari mulai tampak dari ufuk timur. Masih remang. Kabut menggelayut putih di tepian Bengawan Solo. Dingin, tetapi tidak seperti bulan sebelumnya yang lebih parah. Sebab, sudah ada hujan yang membuat bumi bertambah hangat. Sementara itu, embun bening berayun di ujung rumput teki yang tumbuh subur di tanah lempung.