Bertahan dari Provokasi Kemewahan
Tujuan hidup semua orang adalah mendapatkan kebahagiaan. Tidak hanya dunia. Manusia beriman juga menginginkan hidup bahagia setelah dunia. Namun, apakah kebahagiaan itu adalah kemewahan? Mari kita urai bersama.
Tujuan hidup semua orang adalah mendapatkan kebahagiaan. Tidak hanya dunia. Manusia beriman juga menginginkan hidup bahagia setelah dunia. Namun, apakah kebahagiaan itu adalah kemewahan? Mari kita urai bersama.
Bojonegoro lumbung pangan dan energi. Begitulah kalimat yang sempat populer beberapa tahun lalu. Bukan soal slogan saja, Bojonegoro memang punya banyak sawah ladang, angkatan kerja petani dan juga produk pertanian. Mulai dari padi, bawang merah, cabai, tomat hingga tembakau. Soal kesejahteraan petani, ada yang di atas rata-rata dan banyak juga yang masih di bawah garis kemiskinan. Ini bukan sekedar permasalahan kebijakan dan program pemerintah. Namun, juga paradigma berpikir para petani Bojonegoro serta sarana dan prasarana untuk menuju yang lebih baik.
Membaca buku karya Supardi dan Teuku Amiruddin yang berjudul "Konsep Manajemen Masjid: Optimalisasi Peran Masjid" (2001), menarik sekali sisi uraian pendahuluannya setelah penulis baca. Kritik pedas –penulis buku– alamatkan kepada segenap Takmir Masjid yang mengabaikan bagaimana mengelola masjid agar berfungsi secara optimal. Tujuannya tidak lain, ingin menggugah para Takmir Masjid agar keberadaan masjid bisa difungsikan perannya sebagaimana masa Rasulullah Saw. Terlebih, jumlah Masjid di Provinsi Jawa Timur saja sudah ada 50.222 buah, pada Tahun 2013 bila mengutip http://simbi.kemenag.go.id pada laman Bimas Islam dalam Angka (BIDA), Direktorat Jenderal Bimas Islam Kemenag RI.
Membicarakan persoalan dinamika perilaku peserta didik amatlah menarik. Sebab, hal tersebut sifatnya dinamis. Perlu kita sadari bersama, ada beberapa perilaku peserta didik yang perlu dibenahi. Untuk itu sebagai orang tua maupun pendidik haruslah merespon dinamika tersebut. Disini penulis ingin mencoba menguraikan dinamika tersebut dilihat dari sudut pandang amanat kurikulum dan UU Sisdiknas.
Beberapa hari yang lalu penulis sempat ngobrol dengan tetangga. Mulanya beliau bercerita tentang anak laki-lakinya yang tidak bisa baca Alquran, sebut saja namanya 'Diki'. Diobrolan itu, Diki ini termasuk anak yang malas belajar mengaji. Kalaupun ia berangkat mengaji itu hanya untuk menghindari omelan dari kedua orang tuanya yang selalu menyuruh untuk mengaji. Dan bisa ditebak, selama ia berangkat mengaji pasti tidak akan sampai ke tujuan, namun malah memilih ngobrol (cangkrukan) sambil merokok di warung dekat tempatnya mengaji.