Berita Foto
Makan di Pinggir Air Banjir Bengawan Solo
Tampak, warga tengah menikmati makan di tanggul desa, dengan pemandangan luberan air bengawan dan jagung yang tinggal terlihat sedikit, Selasa (17/12/2024).
Tampak, warga tengah menikmati makan di tanggul desa, dengan pemandangan luberan air bengawan dan jagung yang tinggal terlihat sedikit, Selasa (17/12/2024).
Tampak, warga Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sedang memanen secara paksa jagung. Sebab, lokasinya di bantaran sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.
Saat air sudah berada di level Siaga Merah (siaga 3), maka kecamatan di bantaran Sungai Bengawan Solo sudah mulai kebanjiran. Jika ada luberan air, maka 14 kecamatan sudah terbiasa menjadi langganan.
Peningkatan tinggi air sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro terus naik sampai siang hari. Bahkan, pukul 12.00 WIB telah masuk Siaga 1 (Hijau).
Informasi blokBojonegoro.com, Senin (16/12/2024) dari data Perusahaan Umum Jasa Tirta Divisi Jasa Asa III Bengawan Solo yang dilansir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro menjelaskan, pada pukul 00.00 WIB di papan ukur Kota Bojonegoro ketinggian air masih di angka 10.42 phielschall.
Sukirno alias Gareng, asal Desa Sukorejo, Bojonegoro sudah 10 tahun ini menekuni profesinya sebagai Badut panggilan. Dia kerap kali dipanggil meramaikan acara ulang tahun, maupun syukuran. Berbicara popularitas, mungkin dia tidak kalah pamor dengan orang-orang besar di Bojonegoro, paling tidak di kalangan ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak.
Warsito asal Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro terlihat sibuk mencukur rambut seorang pelanggan yang datang ke kios Pangkas Rambut Madura miliknya, yang berada di Simpang Tiga Jalan Panglima Sudirman Bojonegoro.
Di dunia yang serba digital ini, berbagai kemudahan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan dunia digital telah merambah bahkan sampai di perdesaan.
Sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) disajikan oleh sekolah dalam bentuk nan beragam. Seperti halnya yang dilakukan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Bojonegoro ini misalnya.
Rasa haru dan bangga terpancar dari wajah Parno saat menceritakan awal mula berjuang mencari nafkah hingga kondisi ekonomi saat ini yang berubah drastis. Tak disangka, dari berjualan pentol keliling di sekitar Kota Bojonegoro, hidupnya kini serba berkecukupan bahkan mampu memiliki sebuah rumah kos.