Skip to main content

Category : Tag: Kemiskinan


Warga Miskin di Bojonegoro

Tahun 2026, Pemkab Bojonegoro Optimis Angka Kemiskinan Turun Jadi 10,55 %

Pemkab Bojonegoro menargetkan penurunan angka kemiskinan sebesar 0,94 persen pada tahun 2026. Target tersebut setara dengan pengurangan sebanyak 4.310 Kepala Keluarga (KK) atau 11.854 jiwa, sehingga angka kemiskinan Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2026 ditargetkan berada di angka 10,55 %.

Program Pekarangan Mekar Ayu

65.000 Bibit Sayuran Disiapkan Pemkab Bojonegoro untuk Warga Kurang Mampu

Untuk terus menekan angka kemiskinan dan memperkuat kedaulatan pangan di tingkat rumah tangga, terus dilakukan Pemkab Bojonegoro. Salah satunya lewat program Pelatihan Pekarangan Mekar Ayu yang menargetkan menyasar 1.800 warga kurang mampu. Mereka tersebar di lima lokasi strategis untuk mengubah lahan pekarangan menjadi sumber pangan produktif dan pendapatan tambahan.

Bupati Bojonegoro Sentil Kades: Data Miskin Jangan Berdasarkan Suka atau Tidak Suka

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus memperkuat akurasi data sosial ekonomi sebagai dasar penyaluran program kesejahteraan atau bantuan sosial (Bansos). Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang digelar di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro, Rabu (21/1/2026).

Targetkan Kemiskinan Turun Signifikan, Pemkab Bojonegoro Gelar Rakor TKPKD

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat komitmen menurunkan angka kemiskinan melalui penguatan koordinasi lintas sektor. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Semester II Tahun 2025 yang dirangkaikan dengan Diseminasi Dokumen Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah (RPKD) Tahun 2025–2029.

Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional

Pentingnya DTSEN Sebagai Dasar Arah Kebijakan Daerah

Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sangat penting untuk dasar kebijakan daerah. Data tersebut mencakup kondisi kemiskinan, pengangguran, anak tidak sekolah, kepemilikan dan luasan tanah atau sawah masyarakat, hingga data pertumbuhan ekonomi daerah.