Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Bojonegoro yang baru terbentuk pada 2026 mulai memetakan berbagai persoalan strategis daerah untuk dijadikan bahan kajian riset dan inovasi implementatif. Hasil riset tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi bagi kepala daerah dalam mengambil kebijakan yang selaras dengan target pembangunan daerah dalam RPJMD.
Sekretaris BRIDA Kabupaten Bojonegoro, Ardhian Orianto, menjelaskan bahwa lembaga yang baru dibentuk itu memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan kegiatan riset serta mengembangkan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata di masyarakat maupun pemerintahan.
"Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Bojonegoro itu kan baru terbentuk. Nah, tugas pokok dan fungsinya itu adalah melakukan kegiatan-kegiatan riset dan inovasi-inovasi yang implementatif. Nanti hasilnya dijadikan dasar kepala daerah untuk mengambil kebijakan, dan itu sejalan dengan RPJMD," ujar Ardhian saat dijumpai blokBojonegoro.com di ruang kerjanya, Rabu (1/4/2026).
Dijelaskannya, BRIDA telah melakukan pemetaan masalah di seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan kecamatan. Pemetaan tersebut dilakukan untuk menangkap persoalan-persoalan yang menjadi hambatan dalam pencapaian tujuan pembangunan daerah.
"Kami sudah melaksanakan belanja masalah di seluruh OPD dan kecamatan. Dari permasalahan-permasalahan yang ada di OPD lain atau di kecamatan yang berhubungan dengan pencapaian tujuan dari RPJMD, itu yang kami tangkap. Setelah itu kita analisa, permasalahan ini perlu nggak kita lakukan kajian," terangnya.
Mantan Camat Padangan itu menambahkan, beberapa isu strategis yang dinilai mendesak untuk dikaji melalui riset antara lain ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan pengurangan pengangguran. Menurut Ardhian, tema-tema tersebut sangat relevan karena menyangkut langsung kebutuhan masyarakat dan arah kebijakan pembangunan Kabupaten Bojonegoro.
"Tentang ketahanan pangan itu kan sangat perlu, tentang pengentasan kemiskinan sangat perlu, pengurangan pengangguran. Itu nanti akan kita lakukan kegiatan-kegiatan riset penelitian," tuturnya.
Namun, dalam pelaksanaannya BRIDA Bojonegoro saat ini masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga peneliti. Karena itu, BRIDA bakal memilih menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, BRIN, BRIDA Provinsi Jawa Timur, hingga akademisi dari berbagai daerah di Indonesia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan kajian.
"Saat ini berhubung di BRIDA ini belum ada staf peneliti, maka kita menggandeng dan bekerja sama dengan perguruan tinggi yang kompeten. Kemudian kerja sama itu dituangkan dalam bentuk MoU, setelah itu hasil dari riset itu merupakan produk rekomendasi implementatif yang bisa dijadikan dasar kepala daerah untuk mengambil kebijakan,” jelasnya.
Terkait keterbatasan SDM tersebut, BRIDA Bojonegoro saat ini juga tengah berkoordinasi dengan BRIN dan BRIDA Jatim untuk percepatan pelaksanaan tugas dan fungsi BRIDA Bojonegoro. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas kelembagaan, khususnya dalam menghadirkan dukungan tenaga peneliti dan pendampingan teknis.
Salah satu inovasi yang kini mulai dikembangkan BRIDA adalah pemanfaatan komoditas tembakau Bojonegoro. Ardhian menilai, selama ini petani tembakau di Bojonegoro masih terbatas pada penjualan daun, padahal bagian lain dari tanaman tembakau juga memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.
"Sesuai data dari DKPP bahwa Bojonegoro ini merupakan salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Jawa Timur. Setelah kami kaji, petani tembakau kita itu hanya menjual daunnya saja, padahal batang tembakau, akar tembakau itu bisa dimanfaatkan untuk produk yang lain. Contoh batangnya itu bisa dijadikan parfum, briket, terus kemudian obat untuk diabetes," ungkap Ardhian.
Ia menambahkan, BRIDA telah menyusun laporan kepada Bupati Bojonegoro terkait rencana pengembangan Kawasan Industri Tembakau (KIT) di wilayah-wilayah penghasil, termasuk kawasan timur dan selatan Bojonegoro. Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan hilirisasi komoditas lokal agar nilai tambah ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Meski demikian, Ardhian mengakui tantangan terbesar BRIDA saat ini tetap berada pada aspek SDM. Keterbatasan jumlah peneliti dinilai menjadi hambatan utama dalam percepatan pengembangan kawasan riset maupun inovasi daerah.
"Kendalanya yang pertama SDM. Kami ini kan masih belum mempunyai staf peneliti. Harapan kami nanti ada teman-teman BRIN yang ditugaskan di Bojonegoro untuk percepatan, karena kita kendalanya SDM. Peneliti-peneliti yang ada di Bojonegoro juga sangat kurang," tegasnya.
Ia juga berharap ke depan ada dukungan lebih besar, baik dari BRIN maupun perguruan tinggi, serta penguatan formasi aparatur yang memiliki spesifikasi keahlian sebagai peneliti.
"Kami diberikan SDM yang mumpuni. Jadi nanti entah itu pengadaan ke depan ada spesifikasi lulusan sebagai peneliti. Kita sangat kurang sekali," lanjutnya.
Untuk target jangka pendek pada 2026, Ardhian menegaskan BRIDA Bojonegoro memprioritaskan dua hal utama, yakni penguatan internal kelembagaan dan kemampuan mengakomodasi persoalan-persoalan strategis yang menjadi hambatan pencapaian RPJMD. Sementara untuk target jangka menengah dan panjang, BRIDA akan fokus mengembangkan inovasi yang efektif, efisien, implementatif, dan sustainable (berkelanjutan).
"Target jangka pendek kami di tahun 2026 ini yang pertama penguatan internal, karena memang ini lembaga baru. Yang kedua, kita bisa mengakomodir permasalahan-permasalahan yang menjadi hambatan untuk mencapai tujuan dari RPJMD. Kita mengembangkan inovasi-inovasi yang implementatif dan sustainable yang berkelanjutan," paparnya.
Ardhian menekankan, inovasi yang dikembangkan BRIDA tidak selalu berbentuk aplikasi digital. Menurutnya, inovasi juga bisa hadir dalam bentuk alat, mekanisme, maupun metode kerja baru yang lebih sederhana namun berdampak nyata.
"Inovasi-inovasi ini tidak harus aplikasi, bisa berupa alat, bisa berupa mekanisme, bisa berupa metode yang lebih efektif dan efisien. Jadi masyarakat itu bisa mengakses mudah, murah, cepat," tandasnya.
Dengan dukungan SDM yang memadai dan kolaborasi bersama lembaga riset serta perguruan tinggi, BRIDA Bojonegoro diharapkan mampu menjadi motor penggerak lahirnya kebijakan daerah berbasis data, riset, dan inovasi yang tepat sasaran. [feb/mad]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published