Reporter: Muhammad
blokBojonegoro.com - Menjelang pagelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 35 di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur akhir Agustus 2026, banyak pembaca setia blokBojonegoro.com mengulik hal-hal yang berkaitan dengan tempat acara.
Seperti diketahui, Ponpes Bahrul Ulum yang begitu megah dan tersohor saat ini tidak bisa dilepaskan dari sosok salah satu pendiri NU yang dikenal memiliki pemikiran luas dalam bidang agama, kanuragan, wirid, bela diri pencak silat, ahli politik, dan masih banyak lagi kemampuannya. Yakni, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971).
[Baca Juga: WISATA DAN KULINER DI BOJONEGORO JAWA TIMUR YA D'KONCO CAFE https://www.blokbojonegoro.com/2026/01/19/wisata-kuliner-di-bojonegoro-jawa-timur-ya-dkonco-cafe-saja]
Dikutip dari berbagai literasi, Mbah Wahab merupakan putra dari KH Chasbullah bin Said bin Syamsuddin yang menikah dengan Nyai Lathifah. Perjuangan Mbah Wahab dalam mendirikan NU sudah banyak memberikan inspirasi. Termasuk perjuangan dalam meneruskan dan mengembangkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang yang didirikan ulama keturunan Raja Majapahit yang bernama KH Abdus Salam (Mbah Shihah) ini.
Semangat berorganisasi dan berjuang nampak sekali dari syair karangan Mbah Wahab "Ya Lal Wathan" yang kini menjadi lagu wajib bagi NU saat acara-acara resmi. Dalam syair itu terdapat tiga pesan utama: cinta tanah, ajaran selalu bangkit bela tanah air dan keberanian melawan musuh yang mengancam tanah air.
Semangat yang demikian kuat dalam berorganisasi dan berjuang model Mbah Wahab tentunya tidak dilakukan dengan tangan kosong. Apalagi tradisi NU sudah sangat lekat dengan dunia spiritual, dengan ilmu kanuragan dan wirid (dzikir) sebagai benteng spiritual dalam berjuang. Selain tentunya kekuatan fisik yang dibangun oleh Mbah Wahab dengan pencak silat sebagai keahlian bela diri.
"Mbah Wahab itu ahli pencak silat dan masih banyak lagi kelebihannya yang sulit ditandingi," kata salah satu dzurriyah Ponpes Bahrul Ulum, K.H. M. Azam Choiruman Nadjib atau biasa disapa Gus Heru ketika menghadiri bedah buku Mbah Wahab di Kabupaten Bojonegoro.
Dalam buku KH Abdul Wahab Chasbullah Pahlawan Nasional dari Pesantren untuk Indonesia karya Ubaidillah Sadewa (2014) dijelaskan tentang bacaan wirid ijazah Mbah Wahab. Diantara yang pertama bacaan "Maula ya shalli wa sallim da'iman abada 'ala habibika khairil khalqi kullihimi. Huwal habibul ladzi turja syafa'atuhu likulli hauli minal ahwal muktahimi", dibaca 100 kali (jika sendirian) atau dibaca 1.000 kali (jika berkelompok). Adapun saat berkelompok, setiap bacaan 100 kali diselingi membaca Maulaya tiga kali. [ayu/mad]
Penggalan bait Burdah, Huwal Habib:
هُوَالْحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ۞ لِكُلّ هَوْلٍ مِنَ الْأِهْوَالِ مُقْتَحِـــــــمِ
Huwal habibul ladzi turja syafa’atuhu # Li kulli haulim minal ahwali muqtahami.
Artinya: “Dialah (Nabi Muhammad SAW) sang kekasih yang syafaatnya dinanti senantiasa – (Dalam menghadapi) segala derita dan petaka yang menerpa.”
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published