Oleh: Rohmatul Faizah*
blokBojonegoro.com - Pergantian tahun dalam kalender Hijriah kerap berlalu dalam suasana yang sederhana. Tidak ada pesta kembang api, hitung mundur, ataupun perayaan yang meriah sebagaimana pergantian tahun Masehi. Namun, kesederhanaan itu justru menyimpan pesan yang mendalam. Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah, sesungguhnya mengajak umat Islam untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, dan menyiapkan langkah yang lebih baik untuk masa depan.
Kalender Hijriah lahir dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Menariknya, yang dijadikan titik awal bukanlah kelahiran Nabi, bukan pula turunnya wahyu pertama, melainkan hijrah. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan penghargaan tinggi terhadap perubahan dan transformasi. Hijrah adalah simbol keberanian meninggalkan keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik.
Dalam konteks kekinian, makna hijrah tidak lagi dipahami sebagai perpindahan fisik semata. Hijrah adalah perubahan cara berpikir, cara bekerja, dan cara membangun kehidupan bersama. Semangat inilah yang relevan untuk terus dihidupkan, termasuk di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Di era digital, masyarakat menikmati kemudahan akses informasi dan teknologi. Namun pada saat yang sama, muncul persoalan baru berupa penyebaran hoaks, menurunnya budaya membaca, hingga meningkatnya polarisasi sosial akibat perbedaan pandangan. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu diikuti dengan kemajuan karakter. Di sinilah pentingnya menjadikan Muharram sebagai momentum memperkuat nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial.
Bagi daerah seperti Bojonegoro yang terus berkembang, semangat hijrah dapat dimaknai sebagai dorongan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan fisik memang penting, tetapi pembangunan karakter, pendidikan, dan budaya literasi tidak kalah pentingnya. Peradaban yang maju tidak hanya diukur dari infrastruktur yang megah, melainkan juga dari kualitas manusianya.
Muharram juga mengingatkan pentingnya solidaritas sosial. Tradisi santunan anak yatim, pengajian, dan kegiatan sosial yang sering mewarnai bulan Muharram menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Nilai gotong royong yang telah menjadi kekuatan bangsa perlu terus dirawat di tengah kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis.
Lebih dari itu, semangat hijrah mengajarkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Membiasakan kejujuran, meningkatkan disiplin, memperbaiki etos kerja, menjaga kerukunan, serta menebarkan manfaat bagi lingkungan sekitar merupakan bentuk hijrah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika dilakukan secara kolektif, langkah-langkah kecil tersebut akan melahirkan perubahan sosial yang besar.
Muharram pada akhirnya bukan sekadar pergantian tahun, melainkan pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Sebagaimana hijrah Nabi Muhammad SAW melahirkan peradaban yang berpengaruh bagi dunia, semangat hijrah hari ini dapat menjadi energi untuk membangun masyarakat yang lebih maju, berdaya, dan berkeadaban.
Tahun baru telah tiba. Pertanyaannya bukan sekadar tahun apa yang sedang kita masuki, melainkan perubahan apa yang telah dan akan kita lakukan. Sebab esensi hijrah bukan terletak pada perpindahan waktu, melainkan pada keberanian untuk berubah menuju kebaikan.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Saatnya berhijrah, memperbaiki diri, dan bersama-sama membangun peradaban yang lebih baik. [mu]
*Dosen Fakultas Hukum UPN “Veteran” Jawa Timur, asal Desa Simorejo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published