Menyalakan Kembali Api Pancasila: Dari Seremoni Menuju Pengamalan
Rohmatul Faizah

Oleh: Rohmatul Faizah*

blokBojonegoro.com - Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni selalu menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaannya. Tahun ini, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam amanatnya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga agar "api Pancasila" tetap menyala dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ajakan tersebut terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang sangat mendalam.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, menjaga api Pancasila bukan lagi sekadar urusan menghafal lima sila atau mengikuti upacara peringatan setiap tahun. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.

Kita hidup pada era yang ditandai oleh kemajuan teknologi informasi yang luar biasa. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung tanpa batas ruang dan waktu, dan berbagai pandangan dapat dengan mudah disebarluaskan kepada publik. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pula persoalan baru berupa maraknya disinformasi, ujaran kebencian, polarisasi sosial, serta kecenderungan untuk mudah menghakimi pihak yang berbeda pandangan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kematangan dalam kehidupan sosial. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya. Nilai kemanusiaan mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap orang. Nilai persatuan mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling memusuhi. Nilai musyawarah mengajarkan pentingnya dialog dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan bersama.

Sayangnya, dalam praktiknya, Pancasila sering kali lebih banyak hadir dalam ruang-ruang seremonial daripada dalam kehidupan sehari-hari. Kita memperingatinya dengan khidmat, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap. Tidak jarang perbedaan pilihan politik merusak hubungan persaudaraan. Perbedaan pandangan keagamaan memunculkan prasangka. Bahkan di ruang digital, banyak orang lebih mudah menyebarkan kemarahan daripada menyebarkan kebaikan.

Padahal, kekuatan Pancasila justru terletak pada kemampuannya menjadi titik temu di tengah keberagaman. Sejak awal, Indonesia dibangun bukan di atas kesamaan identitas, melainkan di atas kesepakatan untuk hidup bersama sebagai satu bangsa. Karena itu, menjaga Pancasila berarti menjaga ruang kebersamaan agar tetap terbuka bagi semua pihak.

Bagi masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat di daerah, pengamalan Pancasila sebenarnya bukan hal yang asing. Tradisi gotong royong, kepedulian terhadap sesama, budaya musyawarah, dan semangat saling membantu merupakan wujud nyata nilai-nilai Pancasila yang telah hidup sejak lama. Nilai-nilai tersebut perlu terus dirawat agar tidak terkikis oleh individualisme dan budaya saling menyalahkan yang semakin mudah berkembang di era digital.

Tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, juga mengingatkan bahwa perdamaian yang lebih luas berawal dari kemampuan kita menjaga persatuan di lingkungan terdekat. Sulit membangun perdamaian dunia jika di tingkat masyarakat masih mudah muncul konflik akibat perbedaan yang seharusnya dapat dikelola dengan bijak.

Karena itu, peringatan Hari Lahir Pancasila hendaknya tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa menjaga Indonesia dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana: menghormati perbedaan, mengedepankan musyawarah, bijak menggunakan media sosial, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Api Pancasila tidak akan tetap menyala hanya karena pidato atau upacara. Ia akan terus hidup ketika nilai-nilainya hadir dalam sikap dan tindakan masyarakat sehari-hari. Di situlah makna sesungguhnya dari memperingati Hari Lahir Pancasila: bukan sekadar mengenang, melainkan menghidupkan kembali semangat yang menjadi fondasi berdirinya bangsa Indonesia. [mad]

*Dosen Fakultas Hukum UPN “Veteran” Jawa Timur