Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*
blokBojonegoro.com - Umat Islam akan melaksanakan rukun Islam yang ke empat, yaitu ibadah puasa Ramadan. Sebagai bulan paling mulia, menjalankan puasa Ramadan memiliki banyak sekali keistimewaan, sehingga umat Islam berlomba-lomba dalam rangka menyambutnya.
Namun kadang persiapan itu tidak berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki. Banyak permasalahan puasa yang lumrah terjadi, akan tetapi masih menjadi pro kontra di antara masyarakat. Kenyataan di masyarakat, tidak sedikit yang harus dipertegas kembali mengenai sah dan tidaknya sebuah ibadah puasa.
Beberapa contoh permasalahan puasa yang lumrah terjadi di masyarakat.
Pertama, seseorang yang sedang melaksanakan ibadah puasa mengobati matanya dengan obat tetes. Ternyata obat tetes tersebut sangat terasa di tenggorokan. Apakah hal tersebut membatalkan puasa? Karena obat mata yang terasa di tenggorokan itu masuk melalui pori-pori, bukan lubang yang tembus ke tenggorokan, maka puasanya tidak batal.
Sebagaimana dalam penjelasan di kitab qulyubi, juz 2 hal 73 :
( وَلاَ ) يَضُرُّ ( اَلإِكْتِحَالُ وَإِنْ وَجَدَ طَعْمَهُ ) أَيْ الْكُحْلِ ( بِحَلْقِهِ ) ِلأَنَّهُ لاَ مَنْفَذَ مِنْ الْعَيْنِ إلَى الْحَلْقِ وَالْوَاصِلِ إلَيْهِ مِنْ الْمَسَامِّ ( وَكَوْنُهُ ) أَيْ الْوَاصِلِ ( بِقَصْدٍ فَلَوْ وَصَلَ جَوْفَهُ ذُبَابٌ أَوْ بَعُوضَةٌ أَوْ غُبَارُ الطَّرِيقِ أَوْ غَرْبَلَةُ الدَّقِيقِ لَمْ يُفْطِرْ ) ِلأَنَّ التَّحَرُّزَ عَنْ ذَلِكَ يَعْسُرُ وَلَوْ فَتَحَ فَاهُ عَمْدًا حَتَّى دَخَلَ الْغُبَارُ جَوْفَهُ لَمْ يُفْطِرْ عَلَى اْلأَصَحِّ فِي التَّهْذِيبِ اهـ
Artinya: Tidak berbahaya (tidak membatalkan puasa) menggunakan celak walau rasanya tembus di tenggorokan, sebab mata bukan lubang yang tembus ke lambung.
Yang kedua, pada suatu ketika puasa bertepatan dengan musim kemarau, sehingga cuaca sangat panas, sehingga orang sering mandi di siang harinya, untuk menyegarkankan tubuh. Namun sering kali pula saat mandi tanpa sengaja air masuk ke lubang telinga. Apakah masuknya air tanpa disengaja pada bagian anggota tubuh semisal telinga dapat membatalkan puasa? Ketika terjadi hal yang demikian, maka dilihat status mandinya, kalau mandi biasa, maka hukumnya batal dan kalau mandinya mandi wajib atau sunah, maka tidak batal puasa.
Hal ini sesuai dengan keterangan di kitab ianah juz 2 hal 265, Syekh abu Bakr syatha berkata:
(وَالْحَاصِلُ) أَنَّ الْقَاعِدَةَ عِنْدَهُمْ أَنَّ مَا سَبَقَ لِجَوْفِهِ مِنْ غَيْرِ مَأْمُوْرٍ بِهِ يُفْطِرُ بِهِ أَوْ مِنْ مَأْمُوْرٍ بِهِ وَلَوْ مَنْدُوْبًا لَمْ يُفْطِرْ وَيُسْتَفَادُ مِنْ هِذِهِ الْقَاعِدَةِ ثَلاَثَةُ أَقْسَامٍ اَلأَوَّلُ يُفْطِرُ مُطْلَقًا بَالَغَ أَوْ لاَ وَهَذَا فِيْمَا إِذَا سَبَقَ الْمَاءُ إِلَى جَوْفِهِ فِيْ غَيْرِ مَطْلُوْبٍ كَالرَّابِعَةِ وَكَانْغِمَاسٍ فِي الْمَاءِ لِكَرَاهَتِهِ لِلصَّائِمِ وَكَغُسْلِ تَبَرُّدٍ أَوْ تَنَظُفٍ الثَّانِيُّ يُفْطِرُ إِنْ بَالَغَ وَهَذَا فِيْمَا إِذَا سَبَقَهُ الْمَاءُ فِيْ نَحْوِ الْمَضْمَضَةِ الْمَطْلُوْبَةِ فِيْ نَحْوِ الْوُضُوْءِ الثَّالِثُ لاَ يُفْطِرُ مُطْلَقًا وَإِنْ بَالَغَ وَهَذَا عِنْدَ تَنَجُّسِِ الْفَمِّ لِوُجُوْبِ الْمُبَالَغَةِ فِيْ غَسْلِ النَّجَاسَةِ عَلَى الصَّائِمِ وَعَلَى غَيْرِهِ لِيَنْغَسِلَ كُلُّ مَا فِيْ حَدِّ الظَّاهِرِ اهـ
Artinya: kesimpulannya, apapun yang masuk ke dalam perut dengan tidak sengaja saat mandi, kalau mandinya adalah mandi yang tidak diperintahkan syariat maka batal puasanya, kalau mandinya di perintahkan seperti mandi wajib dan mandi sunah maka puasanya tidak batal.
Yang ketiga, sebagaimana diketahui bahwa perempuan ketika keluar darah haid haram melaksanakan salat, tawaf, puasa dan ibadah lain yang membutuhkan suci. Namun, saat malam hari darah berhenti, ia harus segera melakukan niat puasa dan belum sempat mandi. Sahkah ibadah puasanya perempuan yang sudah mampet dari haidnya akan tetapi belum mandi besar?
Hukum wanita yang demikian itu sah puasanya. Sebagaimana di jelaskan dalam kitab qulyubi wal umairah juz 1 hal 115
( فَإِذَا انْقَطَعَ ) أَيْ الْحَيْضُ ( لَمْ يَحِلَّ قَبْلَ الْغُسْلِ ) مِمَّا حَرُمَ ( غَيْرُ الصَّوْمِ وَالطَّلاَقِ ) فَيَحِلاََّنِ لاِنْتِفَاءِ مَانِعِ اْلأَوَّلِ وَالْمَعْنَى الَّذِي حَرُمَ لَهُ الثَّانِي قَوْلُهُ ( غَيْرُ الصَّوْمِ وَالطَّلاَقِ ) أَيْ وَالطُّهْرُ كَمَا فِي الْمَنْهَجِ وَعَلَّلَ الشَّارِحُ اْلأَوَّلَيْنِ ِلأَنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ الثَّالِثَ وَعَلَّلَ الثَّلاَثَةَ فِي الْمَنْهَجِ بِقَوْلِهِ لاِنْتِفَاءِ عِلَّةِ التَّحْرِيمِ وَهِيَ الْمَانِعُ فِي الصَّوْمِ وَطُولُ الْمُدَّةِ فِي الطَّلاَقِ وَالتَّلاَعُبُ فِي الطُّهْرِ وَقِيلَ عِلَّةُ اْلأَوَّلِ اجْتِمَاعُ الْمُضْعِفَيْنِ كَمَا مَرّ اهـ
Artinya: ketika haid mampet, sebelum mandi diharamkan ibadah selain puasa dan talak.
Dalam penerjemahan ibarot, hanya kami singgung garis besar dan poinnya, untuk mempermudah.
Sebenarnya masih banyak permasalahan terkait puasa yang lumrah, namun jarang di pahami hukumnya. Insyaallah masalah itu akan kami sajikan di lain kesempatan. [mad]
*Dewan perumus LBM PCNU Bojonegoro dan Ketua LBM PC KESAN LANGITAN Bojonegoro
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published