Oleh: Kiai Ahmadi Ilyas*
blokBojonegoro.com - Sering kita temui, menjelang datangnya bulan suci Ramadan, ada fenomena khususnya di Jawa, kebanyakan umat Islam, berbondong-bondong mengunjungi kuburan atau makam orang tua, famili maupun kerabat.
Fenomena sosial-keagamaan ini kebanyakan ada di tanah Jawa, dan dikenal dengan istilah nyekar, nyadran atau ruwahan.
Tradisi ini biasanya diisi dengan kegiatan membersihkan kuburan, menabur bunga, membaca Yasin dan Tahlil, hingga makan bersama (kenduri) sebagai bentuk sedekah. Bagi sebagian besar masyarakat, Ramadan terasa kurang lengkap jika belum sowan atau berpamitan kepada leluhur yang telah tiada.
Bagaimana sebenarnya hukum tradisi ini menurut Islam dan bagaimana juga hukum mengkhususkan tradisi ini di bulan Sya'ban?
Dalam ajaran Islam, tradisi mengunjungi kuburan itu disebut ziarah kubur. Hukum asal ziarah kubur sunah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, dalam kitab Sunan Turmudzi No 973 sebagai berikut:
"قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزورها فإنها تذكر الآخرة"
رواة الترمذي
Artinya: Saya pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.
Hadits yang serupa, diriwayatkan imam Muslim :
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
Artinya: Dahulu saya melarang kalian berziarah kubur, tapi (sekarang) berziarahlah kalian. (HR Muslim).
Berdasarkan dalil di atas dan juga dalam kaidah ushul ada ungkapan Al-amru ba'da an-nahyi yufidu al-ibahah (perintah setelah larangan berfaedah kebolehan/mubah). Namun karena disitu ada tanda, yaitu perbuatan Nabi, ada niatan yang dianjurkan syariat (ingat kematian dan ingat akhirat) maka dalam masalah ziarah kubur itu hukumnya sunah.
Kesunahan melaksanakan ziarah kubur ini bersifat umum, baik menziarahi kuburan orang-orang salih, kuburan orang tua, ataupun menziarahi kuburan orang Islam secara umum. Juga menunjukkan keumuman dalam hal waktu, tidak dikhususkan dalam waktu waktu tertentu.
Hal ini seperti ditegaskan oleh Imam al-Ghazali sebagaimana kterangan berikut:
زيارة القبور مستحبة على الجملة للتذكر والاعتبار وزيارة قبور الصالحين مستحبة لأجل التبرك مع الاعتبار
Artinya: Ziarah kubur disunahkan secara umum dengan tujuan untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran, dan menziarahi kuburan orang-orang shalih disunahkan dengan tujuan untuk tabarruk (mendapatkan barakah) serta pelajaran. (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, juz 4, halaman: 521).
Selanjutnya, Dalam tradisi umat Islam, mendoakan orang yang sudah meninggal, ziarah kubur khususnya kuburan orang tua termasuk birrul walidain dan amal yang pahalanya terus mengalir kepada mereka, terutama ketika dilakukan dalam suasana penuh keikhlasan menjelang bulan puasa, yaitu bulan sya'ban.
Walaupun tidak ada anjuran syariat yang mengkhususkan ziarah kubur hanya di akhir Sya'ban, dalam kitab minahul jalil (1/506):
( و ) جاز بمعنى ندب للرجال خاصة ( زيارة القبور بلا حد ) أي تحديد بيوم من الأسبوع أو وقت من اليوم أو بمدة مكث عندها مالك رضي الله تعالى عنه بلغني أن الأرواح بفناء المقابر فلا تختص زيارتها بيوم بعينه ، وإنما خص يوم الجمعة لفضله والفراغ فيه أو دعاء
Namun praktik ini menjadi sarana spiritual yang banyak dipilih umat Islam sebagai pintu masuk untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama, serta sebagai pengingat bahwa Ramadan bukan hanya soal puasa, tetapi juga tentang kesadaran akhirat dan pembentukan karakter muslim yang lebih matang.
Kesimpulannya, bahwa kesunahan nyekar atau ziarah kubur menjelang bulan ramadhan adalah momen menyiapkan diri secara dohir batin, untuk menghadapi bulan suci Ramadan, sehingga tradisi tersebut sesuai dengan nilai nilai ajaran Islam. Dan jelas hal tersebut tidak menyalahi dalil dalil syariat, justru sangat dianjurkan. [mad]
*Dewan perumus LBM PCNU Bojonegoro dan Ketua LBM PC KESAN LANGITAN Bojonegoro
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published