Pesantren dalam Sorotan yang Salah

Oleh: Choirul Anam*

blokBojonegoro.com - Suatu malam di lini masa X (Twitter), sebuah tagar mendadak meledak dan menyalip tren hiburan: #BoikotTrans7. Awalnya saya kira cuma tagar biasa -mungkin karena artis salah bicara atau gosip infotainment. Tapi setelah saya telusuri, ternyata ini bukan perkara selebritas, melainkan perkara marwah pesantren. Ya, sebuah program berjudul Xpose Uncensored di Trans7 menampilkan potongan tayangan yang menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo dan beberapa pesantren lain.

Sekilas, mungkin niatnya untuk “membuka tabir kehidupan pesantren”. Tapi cara mereka menuturkan kisah itu justru terasa seperti menyorongkan garam ke luka: menampilkan adegan santri mencium tangan kiai, jongkok di depan guru, lalu diberi narasi yang terkesan melecehkan. Ada kalimat yang menyebut santri “rela ngesot demi memberi amplop ke kiai” -dan di situ publik langsung marah.

Bagi orang luar pesantren, mungkin itu sekadar adegan unik. Tapi bagi kalangan santri, itu adalah simbol cinta dan ta’dzim -penghormatan yang lahir dari jiwa, bukan dari amplop. Dan ketika penghormatan itu digambarkan seolah penjilatan, itu bukan cuma salah tafsir, tapi juga serangan terhadap nilai yang dijaga turun-temurun.

Ledakan dari Dunia Maya

Dalam hitungan jam, media sosial berubah menjadi lautan protes. Ribuan santri, alumni pesantren, dan masyarakat umum ramai menyerukan boikot terhadap Trans7. Tagar #BoikotTrans7 mendadak merajai trending topic. Bukan sekadar geram, tapi ada rasa tersinggung kolektif -karena pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah spiritual, tempat ribuan anak muda menata diri menjadi manusia beradab.

GP Ansor Jawa Timur turun tangan, melaporkan tayangan itu ke KPI. Himpunan Alumni Santri Lirboyo juga menyuarakan kekecewaan, sementara anggota DPR dari Fraksi PKB meminta program itu dihentikan. Arus protes semakin deras, hingga akhirnya Trans7 mengeluarkan pernyataan resmi permohonan maaf. Tapi publik keburu kecewa. Bagi banyak orang, luka moral tak cukup disembuhkan oleh sekadar “mohon maaf”.

Ketika Media Tak Lagi Mendengar

Sebagai penonton, kita sering lupa bahwa media punya dua wajah: satu sebagai cermin, dan satu lagi sebagai pembentuk realitas. Masalahnya, ketika media kehilangan empati, cermin itu berubah jadi kaca benggala -memantulkan wajah yang terdistorsi. Tayangan Xpose Uncensored adalah contoh nyata bagaimana media bisa salah kaprah dalam membaca budaya.

Teori komunikasi menyebutnya cultural insensitivity -ketidakpekaan terhadap nilai lokal. Dalam konteks pesantren, mencium tangan kiai bukanlah bentuk feodalisme, tapi ekspresi kasih dan penghormatan. Santri mencium tangan bukan karena takut, melainkan karena cinta. Tapi karena kamera televisi hanya menangkap gestur, bukan makna, yang tersisa adalah kesan seolah hubungan kiai dan santri itu timpang.

Inilah yang disebut para ahli media sebagai “disparitas naratif”: ketika stasiun TV punya kekuasaan membingkai cerita sesuai sudut pandang produser, sementara pihak yang digambarkan tidak punya ruang membantah. Pesantren, dengan segala kesederhanaannya, sering kali tak punya akses ke narasi besar televisi. Dan ketika narasinya salah, mereka hanya bisa berharap publik memahami konteks -yang sayangnya, jarang terjadi.

Antara Kebebasan dan Kewajiban

Beberapa orang mungkin berargumen, “Bukankah media bebas? Bukankah jurnalisme harus kritis?” Tentu, kebebasan pers adalah pilar demokrasi. Tapi kebebasan tanpa etika sama saja dengan pisau tanpa sarung -tajam, tapi bisa melukai siapa saja. Dalam Kode Etik Jurnalistik, disebutkan bahwa setiap tayangan harus berimbang, menghormati norma sosial, dan tidak mengandung penghinaan terhadap kelompok masyarakat.

Di sinilah titik pentingnya: media boleh menyorot dunia pesantren, tapi jangan menilai dengan kacamata bias modernitas. Dunia pesantren punya logika sendiri -tentang penghormatan, kesederhanaan, dan spiritualitas. Menghakimi mereka dengan standar kota sama saja seperti menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon.

Sayangnya, industri media saat ini hidup dari sensasi. Dalam kompetisi rating, konten “menyengat” sering lebih menarik daripada yang informatif. Maka muncullah tayangan yang menggoda kontroversi: Xpose Uncensored, Buka Fakta, dan sejenisnya -yang sering kali lebih menonjolkan “uncensored”-nya ketimbang edukasinya.

Tagar Sebagai Cermin Kesadaran Baru

Yang menarik, kasus ini menunjukkan bahwa masyarakat kini tak lagi pasif. Dulu, ketika media televisi menampilkan sesuatu yang salah, publik hanya bisa mengeluh di warung kopi. Sekarang, lewat media sosial, masyarakat bisa mengoreksi balik. Tagar #BoikotTrans7 adalah bentuk perlawanan digital, di mana penonton menuntut tanggung jawab moral dari lembaga penyiaran.

Ini juga menandai babak baru relasi antara media dan publik: kini, penonton bukan sekadar penerima, tapi juga pengawas. Gerakan semacam ini mengingatkan bahwa kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam industri media. Sekali kehilangan, sulit kembali.

Belajar dari Kekeliruan

Apa pelajaran dari semua ini? Pertama, bahwa media harus belajar mendengar sebelum menayangkan. Jika ingin mengangkat kehidupan pesantren, libatkan santri dan kiai sebagai narasumber utama. Jangan hanya mengandalkan pandangan luar. Kedua, KPI dan lembaga pengawas lain perlu lebih sigap menegur, bukan setelah viral. Ketiga, pesantren juga perlu memperkuat kanal medianya sendiri -agar bisa mengisahkan dirinya dengan cara yang utuh dan bermartabat.

Karena jujur saja, di tengah gempuran konten digital, pesantren masih sering digambarkan lewat stereotip lama: kumal, kolot, dan tertinggal. Padahal, banyak pesantren kini justru jadi pusat inovasi sosial, ekonomi, dan literasi digital. Sayangnya, kamera televisi jarang mau meliput yang semacam itu.

Akhirnya, kisah #BoikotTrans7 bukan sekadar soal tayangan yang salah narasi. Ini tentang benturan dua dunia: dunia spiritual yang menjunjung adab, dan dunia industri yang menjunjung rating. Ketika dua dunia itu bertemu tanpa saling memahami, yang muncul adalah luka.

Dalam pesantren, santri mencium tangan kiai bukan karena diperintah, tapi karena cinta. Mereka menghormati bukan karena amplop, tapi karena ilmu. Mungkin, kalau saja para pembuat acara mau duduk sejenak di serambi pesantren, mendengarkan ngaji kitab kuning sambil menyeruput kopi pahit, mereka akan tahu: yang tampak sederhana itu sesungguhnya dalam.

Dan mungkin, mereka akan belajar satu hal yang jarang diajarkan di ruang redaksi televisi: bahwa tidak semua hal perlu “dibongkar”-sebab ada nilai yang lebih tinggi dari sekadar “xpose”: namanya adab. [mad]

*Ketua PAC GP Ansor Balen, Wakil Ketua PAC GP Ansor Bojonegoro dan Pengurus Pusat IKAMI ATTANWIR Talun