Mengamalkan Pancasila

Oleh: Usman Roin*

blokBojonegoro.com - Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dalam konteks kekinian lima sila yang kita hafal, selanjutnya perlu kita amalkan. Jangan kemudian –mohon maaf, hanya  berhenti di peringatan. Atau, sekadar flyer sebagai pengingat.

Jika lima sila itu kita amalkan, artinya, ia dekat dengan kita. Ia menjadi diri kita. Menyatu. Sebab, kehadirannya menjadi perilaku diri.

Karenanya, melalui sila pertama Pancasila yang berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa", menegaskan bila manusia di Indonesia ini beragama. Konsekuensi bila menjadi manusia yang beragama, ya bukan sekadar simbol. Identitas di KTP. Tetapi, coba memikirkan secara mendalam apakah identitas keagamaan yang kita miliki, sudah selaras dengan nilai-nilai agama yang kita ketahui serta perilaku diri.

Jika belum, di sinilah meminjam bahasa Prof. Abdurrahman Mas'ud (2021: 199), kita diminta untuk banyak membaca. Bukan sekadar tekstual belaka, tetapi yang lebih utama adalah menerjemahkan hasil bacaan –teks, menjadi perilaku, yang dalam taksonomi Bloom disebuat ranah afektif.

Mengapa Perlu Membaca?

Dalam konteks keilmuan, keberadaan pengetahuan itu dinamis. Pembacaan ulang terhadap pengetahuan yang kini dilahirkan, kudu terus dilakukan. Tujuannya, agar ia menjadi pencerah intelektual diri hingga kemudian bertransformasi menjadi perilaku individu, keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia.

Celakanya, dalam hal membaca teks saja, jamak kita saksikan dengan kasat mata masih ada yang aras-arasen atau malas. Dikira dengan telah purna jenjang pendidikan –formal non-formal; menjadi cukup menjalani kehidupan mendatang.

Belum lagi, bila pengertian membaca diluaskan maknanya dalam konteks meneliti. Ini malah menjadi PR yang perlu digenjot akademisi, pegiat literasi, dan siapa saja yang senang pengetahuan, untuk mau belajar bagaimana metodologis keilmuan itu dilahirkan agar semakin kaya manfaat kepada manusia.

Memang, ada sebagian orang yang tidak menganggap penting membaca secara teks –buku, jurnal, kanal keislaman; yang hari ini mudah dan murah di akses. Tetapi, kalau membaca teks saja tidak pernah dilakukan, bagaimana kemudian mau beralih kepada pemaknaan membaca dalam arti meneliti? Sungguh, jauh panggang dari api.

Padahal, jika kita menyebut Imam Bukhari, sempat rihlah atau mengembara selama 16 tahun, meninggalkan negerinya Turkistan, tidak hanya ke Baghdad sebagai pusat pengajaran terbesar pada masanya, tetapi juga ke jantung jazirah Arab Makkah-Madinah dan ke Mesir serta Syiria, dalam rangka mempelajari hadis, kata Prof. Dur (201). Alhasil, 7.397 hadis disusun menjadi karya agung yang kini kita telaah berjudul Shahih Bukhari.

Role Model

Contoh semangat salah satu ilmuwan muslim di atas, kini perlu dihadirkan. Kepada siapa? Kepada siapa saja yang membaca tulisan kecil ini. Melalui semangat membaca aneka pengetahuan teks, wabil khusus perihal keagamaan, bisa digunakan sebagai perisai diri. Artinya, diri ini kita persiapkan menjadi teladan (role model) terdekat yang cakap secara pengetahuan (kognitif).

Hasil kecakapan pengetahuan tersebut, selanjutnya digunakan untuk membaca konteks –alam raya dengan seisinya, agar kita senantiasa mendahulukan perbuatan arif. Sehingga, tidak terjadi perbuatan memperlakukan alam raya yang di dalamnya terdapat bumi, sekadar pemuas diri yang tanpa batas.

Sehingga, dalam konteks Pancasila, jauh dari sikap keberadaban sebagai manusia, dinikmati segelintir orang yang membuat tidak adil secara sosial, yang kemudian melahirkan pemimpin yang tidak pro rakyat, hingga melahirkan cerai-berai yang tidak memedulikan lagi semangat persatuan.

Momentum HKP, lima sila mari kita amalkan menjadi pondasi kehidupan sehari-hari.

* Penulis adalah Pengurus Ikatan Keluarga Ma'had Islami (IKAMI) Attanwir dan Dosen Prodi PAI UNUGIRI