Air Bengawan Fluktuatif, Petani di Bantaran Ketar-Ketir
Reporter: Maratus Shofifah
 
blokBojonegoro.com - Belakangan ini, tinggi muka air di Bengawan Solo menunjukkan tren fluktuatif. Walaupun sekarang di bawah siaga, namun hujan lebat disertai angin kencang bisa membuat air kembali naik. Hal itu membuat petani yang ada di bantaran ketar-ketir.
 
Seperti di Kecamatan Kanor, terdapat Desa Kabalan, Cangaan, Piyak dan Desa Tojo. Sebab, kondisi padi sudah mulai tinggi, tidak sedikit yang tinggal menunggu waktu untuk dipanen.
 
Salah satu warga Desa Kabalan, Judin membenarkan, kalau petani sudah trauma dengan banjir di akhir tahun 2016. Sebab, saat itu sudah dua kali gagal tanam dan panen.
 
"Sekarang ini saat air di bengawan naik, warga sudah gelisah. Mereka takut jika gagal lagi dan tanamannya rusak," jelasnya.
 
Hal senada dipaparkan Sekretaris Desa (Sekdes) Kabalan, Nur Chasan. Ia berharap, kondisi air bengawan tidak meluap lagi. Karena warga sudah susah beberapa kali tidak menikmati hasil dari sawah. "Bisa dibilang telah habis modal petani," lanjutnya.
 
Sementara itu, petani lain asal Desa Cangaan, Heri menegaskan, kondisi tanaman padi milik petani sudah ada yang berumur lebih dari 40 hari dan bahkan 50 hari. Sehingga, tinggal menunggu waktu berbuah dan dipanen.
 
"Kalau terkena banjir lagi seperti akhir tahun lalu, bisa dipastikan akan membuat gulung tikar petani," pungkasnya. [ifa/lis]