Reporter: Nur Muharrom
blokBojonegoro.com - Tim peneliti dari Pusat Riset Pendidikan, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengembangkan model pembelajaran berbasis kearifan lokal Sasi Maluku untuk memperkuat perilaku ekoliterasi murid. Penelitian tahun 2026 ini mengusung judul “Pengembangan Model Eco-Ethno Pedagogy Berbasis Kearifan Nilai-Nilai Sasi Maluku untuk Meningkatkan Perilaku Ekoliterasi: Transformasi Budaya Lokal Menuju Konteks Global”.
Penelitian tersebut dikoordinatori oleh Dr. M. Zainudin, S.Pd., M.Pd., dengan anggota Rahmatika Dewi, S.Pd., M.Pd., M.Ed., Ph.D.; Mario Damanik, S.Hut., M.Sc.; Zulmi Ramdani, S.Psi., M.A.; Dr. Hakis, M.Sos.I.; Dr. M. Ali Ghufron, S.Pd., M.Pd.; serta Thorida Nur Asih, S.Pd., M.Ak.
Riset ini berangkat dari pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran. Pendidikan diharapkan tidak hanya mengembangkan penguasaan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan perilaku bertanggung jawab dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Melalui model Eco-Ethno Pedagogy yang mengintegrasikan ekopedagogi, etnopedagogi, dan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics), tim peneliti berupaya mengembangkan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan persoalan lingkungan di sekitar murid dengan pengetahuan ilmiah dan nilai-nilai budaya masyarakat.
Sasi Maluku sebagai Sumber Pembelajaran Kontekstual
Sasi merupakan kearifan lokal masyarakat Maluku yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam berdasarkan ketentuan adat dan kesepakatan masyarakat. Praktik ini mengandung nilai-nilai yang relevan dengan pendidikan lingkungan, antara lain pelestarian alam, tanggung jawab kolektif, kepatuhan terhadap aturan, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.
Dalam pembelajaran, nilai-nilai Sasi berpotensi menjadi sumber belajar kontekstual yang membantu murid memahami persoalan lingkungan di sekitarnya. Murid dapat diajak mengidentifikasi masalah lingkungan, menganalisis hubungan manusia dengan alam, merumuskan alternatif solusi, serta merefleksikan tanggung jawab terhadap keberlanjutan sumber daya alam.
Integrasi STEAM membuka peluang bagi murid untuk menghubungkan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dalam mengeksplorasi persoalan lingkungan. Dengan demikian, Sasi tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan budaya, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan untuk mendukung pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis sekaligus membentuk perilaku ekoliterasi murid melalui pemahaman, sikap, dan tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Koordinasi dengan Pemangku Kepentingan Pendidikan dan Adat
Dalam pelaksanaan riset, tim peneliti melakukan koordinasi dan penggalian informasi bersama pemangku kepentingan pendidikan, masyarakat adat, serta sejumlah lembaga dan satuan pendidikan di Maluku.
Pada tingkat pemerintahan, tim berkoordinasi dengan Ibu Desje Lattu, M.Pd., selalu Koordinator Pengawas Dinas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Ambon; Bapak Chairan Rizkisyah, S.IP., MPP., selaku Kasi Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Ambon; Bapak Muhammad Arifin Ely, S.T., selaku Kepala Bidang Pendidikan Dasar Kabupaten Maluku Tengah; serta Ibu Dr. Sarlota Singerin, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku.
Tim juga menggali informasi mengenai praktik dan nilai-nilai Sasi melalui interaksi dengan pemangku adat, termasuk Raja Batu Merah, Raja Morella, dan Raja Haruku. Penggalian informasi turut dilakukan di Negeri Mamala, Morella, Rutong, Allang, dan Hukurila, serta melalui pengurus Museum Siwalima, kepala sekolah, dan guru di sejumlah satuan pendidikan, termasuk sekolah menengah atas di Maluku.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami konteks sosial, budaya, dan pendidikan yang berkaitan dengan Sasi. Informasi dari pemangku adat, masyarakat, dan praktisi pendidikan diperlukan agar model yang dikembangkan tetap memperhatikan nilai-nilai lokal dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.
Kolaborasi ini juga membuka peluang penguatan hubungan antara lembaga riset, pemerintah daerah, satuan pendidikan, museum, dan masyarakat adat dalam mendukung pemanfaatan pengetahuan lokal untuk pendidikan.
Mengembangkan Model Pembelajaran dan Rekomendasi Kebijakan
Dua luaran utama yang ditargetkan dalam riset ini adalah model pembelajaran Eco-Ethno Pedagogy terintegrasi STEAM dan policy brief atau ringkasan rekomendasi kebijakan. Kedua luaran tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan pelestarian budaya, peningkatan kualitas pembelajaran, dan penguatan kesadaran lingkungan.
Model pembelajaran yang dikembangkan diharapkan membantu guru merancang kegiatan belajar kontekstual dengan memanfaatkan persoalan lingkungan dan kearifan lokal sebagai sumber belajar. Sementara itu, policy brief ditujukan untuk memberikan masukan kepada pemangku kepentingan mengenai peluang integrasi pengetahuan lokal dalam kurikulum dan praktik pembelajaran.
Dalam jangka menengah, hasil riset berpotensi diadaptasi oleh satuan pendidikan dan pemangku kepentingan di wilayah lain dengan mempertimbangkan karakteristik budaya, sosial, dan lingkungan setempat. Upaya ini juga dapat membuka ruang bagi pengenalan kearifan lokal Maluku dalam diskusi yang lebih luas mengenai pendidikan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.
Didanai melalui Program RIIM BRIN dan LPDP
Penelitian tahun 2026 ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), Kompetisi Gelombang ke-9 Tahun 2025.
Melalui dukungan pendanaan tersebut, riset ini diarahkan untuk menghasilkan inovasi pendidikan berbasis bukti yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pengembangan model Eco-Ethno Pedagogy juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keterhubungan antara penelitian, praktik pembelajaran, pelestarian budaya, dan agenda pembangunan berkelanjutan. [mu]