Terinspirasi Sampah Bengawan Solo, Dua Siswa MAN 2 Bojonegoro Raih Juara 3 dan Gold Medal di UGM
Flyer ucapan selamat Ahmad Khavabi dan Yulviana Detasari (Dok. MAN 2 Bojonegoro edit generator AI )

Reporter: M. Anang Febri

blokBojonegoro.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa MAN 2 Bojonegoro. Ahmad Khavabi dan Yulviana Detasari, siswa kelas XI-A, berhasil meraih Juara 3 sekaligus Gold Medal dalam ajang Jogja Essay Competition (JEC) 2026 yang diselenggarakan Ruang Inovasi Sains dan Karya Ilmiah (RISKI) bersama Ikatan Mahasiswa Sastra Arab (IKMASA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Keberhasilan tersebut diraih melalui karya ilmiah bertajuk SIBAMBU (Sistem Inovasi Barrier Aliran Menggunakan Bambu), sebuah inovasi sederhana untuk menyaring sampah plastik di aliran sungai menggunakan material bambu yang mudah diterapkan masyarakat.

Kepala MAN 2 Bojonegoro H. Abdul Rozaq melalui Evi Usdina, Pembina Karya Ilmiah Remaja (KIR)/Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) sekaligus Ketua Tim Literasi Madrasah (LTM), mengatakan prestasi tersebut merupakan hasil pembinaan berkelanjutan yang berangkat dari potensi siswa di dalam kelas.

"Saya mengetahui potensi Ahmad dan Yulviana saat mengajar materi penelitian sosial. Setelah mereka melakukan penelitian dan mempresentasikan hasilnya, saya melihat mereka memiliki bakat untuk mengikuti kompetisi karya ilmiah," ungkap Evi kepada blokBojonegoro.com, Selasa (28/7/2026).

Evi menjelaskan, proses penyusunan karya diawali dengan diskusi untuk mencari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

"Kami mencari ide yang benar-benar bisa diterapkan dan mampu menyelesaikan masalah di masyarakat. Akhirnya kami memilih persoalan sampah plastik di Bengawan Solo yang masih sering menumpuk dan menyebabkan berbagai dampak lingkungan," jelasnya.

Dari permasalahan tersebut lahirlah inovasi SIBAMBU, yaitu penghalang sampah berbahan bambu yang dilengkapi jaring penampung sehingga sampah plastik dapat terkumpul sebelum terbawa arus sungai.

"Inovasinya sederhana, tetapi tepat guna dan mudah diterapkan siapa saja. Itu menjadi salah satu keunggulan karya kami dibanding peserta lain," imbuhnya.



Ia mengungkapkan, kompetisi tersebut diikuti sekitar 300 tim dari berbagai perguruan tinggi dan SMA di Indonesia. Seluruh peserta terlebih dahulu mengirimkan karya tulis, kemudian diseleksi hingga tersisa para finalis yang berhak mempresentasikan inovasinya di hadapan dewan juri.

Dalam proses pendampingan, Evi mengaku tantangan terbesar bukan hanya penyempurnaan karya, tetapi juga membangun mental siswa menghadapi presentasi nasional.

"Anak-anak harus siap menghadapi pertanyaan juri. Kami melatih mereka agar percaya diri dan mampu menjawab setiap pertanyaan dengan baik," katanya.

Selain itu, perjalanan menuju Yogyakarta juga sempat diwarnai kendala teknis. Prototipe berukuran besar sulit dimasukkan ke dalam kereta api sehingga harus ditempatkan di gerbong makan. Bahkan saat tiba di Yogyakarta, prototipe sempat mengalami kerusakan akibat kebocoran.

"Alhamdulillah semua kendala bisa diatasi. Yang terpenting saat presentasi anak-anak tampil percaya diri dan mampu menjelaskan inovasi dengan baik," ujarnya.

Ke depan, MAN 2 Bojonegoro akan terus memperkuat pembinaan riset siswa agar mampu bersaing lebih luas.

"Kami akan terus berinovasi dan membimbing siswa supaya tidak hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi ke depan bisa menembus kompetisi internasional," tegas Evi.

Sementara itu, Yulviana Detasari saat dijumpai blokBojonegoro.com disela istirahat kegiatan belajar mengajar, mengaku sempat diliputi rasa gugup karena baru pertama kali mengikuti kompetisi presentasi tingkat nasional.

"Perasaannya campur aduk, deg-degan karena baru pertama kali ikut lomba seperti ini. Tantangan terbesarnya saat sesi tanya jawab karena ada enam juri yang memberikan pertanyaan," ungkap siswi asal Desa Mojo, Kecamatan Kalitidu tersebut.

Ia mengatakan ide SIBAMBU terinspirasi dari gerakan penyelamatan lingkungan yang dilihatnya di media sosial. Bersama tim, konsep tersebut kemudian dikembangkan menjadi inovasi berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan bambu sebagai bahan utama.

"Kalau diberi kesempatan, saya ingin inovasi ini benar-benar diterapkan di daerah saya karena di sekitar bendung juga masih banyak sampah plastik," katanya.

Siswi yang aktif di KIR, Pramuka, hingga seni tari, itu pun berpesan kepada teman-teman seusianya agar tidak takut mencoba berbagai kompetisi.

"Jangan mudah menyerah dan jangan mudah putus asa. Terus semangat berusaha karena pengalaman itu sangat berharga," pesannya. [feb/mad]